Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 43


__ADS_3

Malam telah berlalu dan kini pagi telah tiba. Matahari mulai menampakkan sinarnya untuk menerangi dunia.


Saat itu Najwa masih tertidur karena semalaman tak tidur, Alya yang menang tidak tidur sejak dari semalam itu pun langsung keluar dari ruangan itu untuk mencari makanan untuk dirinya dan Najwa sarapan.


Saat di lorong rumah sakit itu, Alya berpapasan dengan seorang Dokter muda yang sudah tak asing baginya.


"Alya, sedang apa kamu di sini?" tanya Andrew, Dokter muda itu langsung menyapa Alya saat melihat gadis cantik itu berjalan di hadapannya.


"Dokter Andew?" ucap Alya penuh tanya.


Setahunnya Dokter bernama Andrew itu bukan bekerja di rumah sakit ini tapi kenapa dirinya bertemu dengan Dokter muda itu di sana.


"Alya, kamu tidak apa-apa kan sedang apa kamu di rumah sakit ini?"


"Aku sedang menunggu Ibuku yang dirawat di sini."


"Jadi kamu masih punya Ibu?"


"Hmm." Alya mengangguk dan hanya bergumam saja mengiyakan perkataan Dokter itu.


"Besok jadwal kamu kontrol, jangan lupa datang ya atau kalau kamu tidak bisa datang sendiri, saya yang akan menjemput kamu."


"I_iya," ucap Alya terbata.


"Dokter, tolong jangan bicarakan ini di sini, saya tidak ingin Kakak saya dan Ibu saya tahu tentang ini."


Andrew mengerutkan dahinya kenapa Alya menyembunyikan hal sebesar ini dari keluarganya.


Andrew adalah Dokter spesialis tumor, dialah yang menangani penyakit Alya selama ini.


Ya, Alya menderita penyakit tumor ganas di otaknya. Sebelumnya dia sering merasakan sakit kepala namun tak pernah dihiraukan olehnya hingga suatu saat Alya merasakan sakit yang luar biasa hingga dirinya tak dapat menahannya lagi. Akhirnya dia peri ke Dokter dan memeriksakan dirinya yang sering sakit kepala dan kadang tiba-tiba pingsan.


Setelah menjalani beberapa tes kesehatan, baru ketahuan bahwa ada tumor ganas pada otaknya yang membuat kepalanya sering sakit dan karena dibiarkan begitu saja akhirnya penyakitnya itu semakin menggerogoti dirinya.


Akhirnya Alya bertemu dengan Andrew empat tahun lalu dan mereka pun saling cocok. Alya menjadikan Andrew Dokter pribadinya sekaligus sahabat baiknya.


Meski mereka sudah kenal lama dan sudah menjadi sahabat baik, Alya tidak pernah menceritakan hal pribadinya pada Andrew. Selama beberapa tahun belakangan menjadi Dokter pribadinya Alya, Andrew tidak mengetahui bahwa Alya memiliki seorang kakak dan juga Ibu karena selama ini Alya selalu datang sendirian saat melakukan pengobatan.


Bahkan saat Alya tak mampu datang sendiri ke rumah sakit, dia akan menelpon Andrew atau istrinya agar mengirim ambulans untuk menjemputnya ke tempat Alya berada, Andrew dan istrinya juga tidak tahu rumah Alya dimana karena mereka tidak pernah menjemput atau mengantar Alya ke rumahnya.


Alya selalu dijemput di pinggir jalan dan diantarkan ke sebuah rumah kost.


"Saya punya banyak pertanyaan untuk kamu. Besok jangan lupa datang ke rumah sakit tempat saya bekerja jam sembilan pagi," ucap Andrew.

__ADS_1


"Akan aku usahakan. Ibuku sedang dirawat di sini semoga saja aku ada waktu untuk melakukan pengobatan."


"Harus ada waktu. Saya gak mau terjadi sesuatu padamu karena telat periksa dan sudah kehabisan obat. Kamu harus selalu minum obat disetiap harinya."


Alya tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya.


Saat ini Alya tak memiliki beban berat lagi, meskipun ajal menjemputnya hari ini juga, dirinya sudah ikhlas karena dirinya sudah mendapatkan apa yang dia impikan selama ini.


Ibunya yang tak pernah menyayanginya kini sudah mengakui dirinya sebagai anaknya dan juga dirinya sudah merasakan bagaimana dibelai oleh tangan sang Ibu.


"Saya permisi dulu ya Alya. Saya mau menemui seseorang di sini."


"Oh iya Dok, silahkan," ucap Alya sembari mengangkat kepalanya.


Andrew pun pergi meninggalkan Alya di sana. Alya menatap Dokter muda itu dengan tatapan mata yang tak pernah berkedip sekalipun, tak terasa air matanya menetes dari pelupuk nya.


"Terimakasih sudah menjadi sahabat baikku dan terimakasih sudah menangani penyakit yang aku derita dengan baik," ucap Alya didalam hatinya.


Setelah beberapa saat, Alya melanjutkan langkahnya sembari meraih ponselnya dari saku jaketnya!


Dirinya baru ingat dengan Farhan dan keluarganya.


Alya mencari nomor ponsel Farhan karena dirinya harus memberitahu tentang kecelakaan yang dialami oleh Ibunya pada mereka.


**********


Di kediaman Broto.


Farhan sedang bersiap untuk ke kantor, meski pernikahannya tinggal menghitung hari bahkan hanya tinggal menghitung jam saja, Farhan tetap pergi ke kantornya untuk meringankan beban pikirannya.


Tak lama saat Farhan sedang memakai dasi, ponselnya berdering tanda adanya telpon masuk.


Dia langsung melirik ponselnya yang ada di atas meja, senyum mengembang di bibirnya saat tahu siapa yang menelponnya.


My heart, ya nomor yang menelponnya itu bernama my heart itu berarti Alya yang menelponnya.


Dengan cepat, Farhan meraih ponselnya lalu menerima telpon dari Alya.


[Halo Alya.] ucapnya setelah menerima telpon itu.


[Farhan, aku hanya ingin memberitahu bahwa Ibuku mengalami kecelakaan. Tolong beritahukan kabar ini pada orang tuamu juga.]


[Apa! Lalu sekarang kalian dimana? Ibu kamu dirawat di rumah sakit mana?]

__ADS_1


[Di rumah sakit xxx.]


[Baiklah, kami akan ke sana sekarang.]


[Terimakasih.]


Farhan pun langsung menutup telponnya lalu segera keluar dari kamarnya untuk memberitahu kedua orang tuanya tentang kecelakaan yang dialami Chandra!


"Ma! Pa!" teriak Farhan sembari menuruni anak tangga dengan sedikit berlari.


"Hati-hati kak. Besok hari pernikahan kamu, jangan sampai terjatuh dan terluka


Bisa berabe nantinya," ucap Julian yang melihat Farhan berjalan dengan tergesa-gesa.


"Ada apa, pagi-pagi teriak-teriak?" tanya Rossa.


"Kamu bikin Papa kaget, Han."


"Pa, Ma, semalam Tante Chandra mengalami kecelakaan mobil, sekarang Tante Chandra dirawat di rumah sakit xxx."


"Kalau gitu kita ke rumah sakit sekarang," ucap Broto.


"Mama ambil tas dulu." Rossa langsung berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas dan semua keperluannya!


"Julian, kamu tatap ke kantor ya Papa sama Farhan akan ke kantor setelah dari rumah sakit."


"Siap Pa," sahut Julian.


"Astaga, besok adalah hari pernikahan kamu tapi Bu Chandra malah mengalami kecelakaan seperti ini," ucap Broto.


"Tidak ada yang menginginkan ini terjadi Pa. Ini semua sudah takdir dari Tuhan, mungkin Tuhan ingin mengundur pernikahan aku untuk membongkar semua yang terjadi dalam keluarga kita dan keluarga mereka terutama tentang aku dan Alya yang saling mencintai," ucap Farhan.


"Ayo Han, Pa cepetan," ucap Rossa.


"Ayo."


Mereka semua pun berjalan cepat menuju mobilnya yang masih terparkir didalam garasi!


"Semoga ini jalan menuju kalian bahagia," gumam Julian.


Julian yang begitu tahu dengan perasaan sang kakak, merasa ada kesempatan sedikit lagi untuk Farhan memperjuangkan cintanya pada Alya.


Dengan terjadinya kecelakaan yang menimpa Chandra, mereka akan mengundur rencana pernikahan itu dan memberi waktu untuk Farhan mengatakan semuanya yang dia rasakan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2