Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 25


__ADS_3

Tiga hari sudah, Alya dirawat di rumah sakit itu. Namun selama tiga hari itu, Chandra tidak pernah datang lagi, dia hanya datang satu kali saat hari pertama dirinya masuk rumah sakit.


Kini di ruangan rawat Alya.


Najwa duduk di samping Alya dengan mata sedikit sembab dan berwarna kemerahan. Sudah beberapa hari belakangan semenjak Alya masuk rumah sakit, dirinya jarang tidur dan tak bisa beristirahat dengan tenang.


Dengan mata yang mulai mengantuk, dengan tatapan matanya yang sudah mulai buram, Najwa melihat pergerakan halus dari jari-jari tangan Alya.


Seketika rasa ngantuk yang melanda dalam dirinya hilang musnah, mata yang terbuka hanya sedikitpun itu pun kini terbuka lebar, sebuah senyuman terukir dibibir Najwa.


"Ibu," gumam Alya.


Senyum yang membingkai diwajah Najwa langsung hilang saat mendengar kata pertama yang diucapkan oleh Alya, air mata pun mulai menetes membasahi pipinya. Sesak kian mendera hatinya, dirinya tahu Alya sangat merindukan dan menginginkan belaian kasih sayang dari seorang Ibu.


"Alya, kakak di sini untuk kamu. Kakak selalu ada untuk kamu di sini," ucap Najwa.


Alya tak merespon perkataan Najwa, dirinya terdiam dengan mata yang masih tertutup.


Beberapa detik menunggu respon dari Alya tapi rupanya adiknya itu tidak kunjung bicara lagi, Najwa yang panik langsung menekan tombol darurat untuk memanggil Dokter.


"Alya barusan kamu udah bicara tolong bicara lagi sedikit saja. Jangan berikan kebahagiaan palsu pada kakak. Apa kamu gak kasian sama kakak yang terus menunggu kesembuhan kamu."


Tak lama seorang Dokter masuk ke ruangan itu dan langsung memeriksa keadaan pasiennya!


"Dokter, tadi Alya sudah bergumam," jelas Najwa.


Dokter itu menatap Najwa lalu tersenyum tipis.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya namun untuk saat ini otaknya belum bekerja normal jadi kita tunggu saja sampai dia bisa berbicara normal."


"Lama gak Dok? Tapi tadi dia sudah mengucapkan sesuatu."

__ADS_1


"Yang pasien ucapkan tadi, itu murni yang ada didalam hati dan pikirannya, itulah kenapa saat seseorang tersadar dari koma atau baru berhasil melewati masa kritisnya, dia akan mengucapkan kata pertama yang memang selalu dia ingat."


"Ibu," gumam Najwa.


Najwa tersenyum meski hanya senyuman hambar lalu dia berterimakasih pada Dokter itu.


"Kalau gitu saya permisi," ucap Dokter itu.


"Baik, silahkan Dok."


Setelah Dokter itu pergi, Najwa duduk lagi di kursi tempat dirinya menunggu Alya, air matanya kembali menetes kala mengingat kata pertama yang dikatakan oleh Alya, apalagi setelah mendengar penjelasan Dokter, dirinya semakin ikut merasa kesakitan.


"Alya maafkan kakak, kakak sudah berusaha agar Ibu bisa menyayangi kamu seperti dia menyayangi aku tapi usahaku gagal karena mungkin kebencian dalam hati Ibu lebih besar dari cintanya padamu." Diraihnya tangan Alya lalu di genggamnya.


Beberapa kali Najwa mencium tangan Alya karena besarnya sayangnya pada Alya.


**********


Pagi itu saat setelah selesai sarapan, Arka tak ingin pergi ke kantornya karena dia lebih memilih pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alya.


"Pa, hari ini Papa yang urus kantor ya, aku mau jenguk Alya di rumah sakit," ucap Arka pada Papanya.


"Iya lakukan saja apa yang kamu mau lagian setiap hari semenjak Alya masuk rumah sakit, Papa terus yang urus kantor," sahut Danuarta ~ Papanya Arka.


"Maaf Pa, aku terlalu khawatir sama dia."


"Papa juga khawatir. Pergilah Arka, Alya butuh seseorang yang bisa menjaganya dengan baik."


"Iya Pa, ini juga aku udah mau berangkat kok."


"Ya udah, hati-hati dijalan. Jangan bawa mobil terlalu ngebut."

__ADS_1


"Iya, aku tahu." Arka pun langsung pergi setelah mencium punggung tangan Danuarta!


**********


Di kediaman Farhan.


"Hari ini kakak gak usah ke kantor," ucap Julian saat mereka sedang berjalan menuju mobil masing-masing.


Di halaman rumahnya Julian baru bisa bicara karena di dalam rumah dia tidak bisa bicara karena ada kedua orang tua mereka.


Julian yang tahu permasalahan dalam hubungan mereka pun, mulai mengertikan Farhan dan keadaan hubungan mereka saat ini.


"Kenapa menangnya?" tanya Farhan.


"Kakak pasti memikirkan Alya yang masih di rumah sakit."


"Ya, kakak memang terus kepikiran sama dia."


"Pergilah dan jaga dia di rumah sakit, aku bisa mengurus kantor sendiri meski sedikit kewalahan. Semoga aja Alya cepat sembuh."


"Terimakasih ya, kamu sudah mau mengerti."


"Kalau bukan aku yang mengertikan kakak mau siapa lagi? Kita kan cuma berdua."


Farhan tersenyum lalu segera masuk ke dalam mobilnya!


Julian menatap kepergian sang kakak dengan senyuman yang terus membingkai diwajahnya.


"Nasib percintaan kamu begitu tragis kak, aku ikut sedih kalau kamu terus-terusan seperti ini," gumam Julian lalu dirinya pun segera masuk ke dalam mobilnya karena dirinya harus ke kantor untuk bekerja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2