Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 26


__ADS_3

Arka dan Farhan tiba di rumah sakit bersamaan.


Arka turun dari mobilnya dan tak lama Farhan pun turun dari mobilnya.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Farhan.


"Kamu yang mau ngapain ke sini," ujar Arka.


"Aku adalah pacarnya Alya jadi wajar saja aku ke sini untuk menemani dia."


"Jelas-jelas kemarin Alya bilang kalau dia gak mau sama kamu. Kamu punya telinga kan."


"Kalau kamu gak tahu masalah awalnya mending kamu gak usah ikut campur urusan orang lain."


"Kamu tuh egois ya jadi laki-laki, udah mau nikah sama kakaknya masih aja ngejar adiknya."


"Kayaknya mulut kamu butuh disumpel pakai kaus kaki deh."


Arka tersenyum sinis lalu meninggalkan Farhan di tempat parkir!


"Seistimewa apa sih Alya dimata tuh laki-laki, udah mau nikah sama kakaknya kok bisa-bisanya masih ngejar-ngejar Alya," gumam Arka sembari terus berjalan menuju ruangan Alya dirawat.


Farhan yang tak mau kalah cepat dari Arka, langsung berlari mengejar Arka yang sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah sakit!


"Enak aja kamu mau ngambil punyaku, sampai kapanpun aku gak akan pernah membiarkan Alya menjadi milik orang lain." Farhan mempercepat langkahnya agar dapat menyusul Arka!


Di ruangan rawat Alya.


"Al, hari ini kakak harus ke kantor tapi kamu jangan khawatir, Mbok Darti yang akan menemani kamu saat aku sedang kerja. Aku sudah minta izin pada Ibu dan Ibu mengizinkannya," ucap Najwa kepada Alya.


"Aku rindu sama Ibu, aku juga rindu sama Mbok Darti," ucap Alya dengan suara lirih.


"Mbok Darti akan ke sini, sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju ke sini mungkin udah sampai. Kita tunggu aja sebentar lagi."


Alya hanya tersenyum tipis dengan bibirnya yang terlihat pucat.


"Assalamu'alaikum," ucap Mbok Darti sembari berjalan memasuki ruangan itu.


"Waalaikumsalam," ucap Alya dan Najwa secara bersamaan.


"Tuh, Mbok udah datang. Kalau gitu kakak pulang dulu, nanti setengah selesai kerja kakak ke sini lagi ya," ucap Najwa pada Alya.


"Terimakasih kak, maaf sudah merepotkan kamu."


"Tidak masalah, seharusnya aku yang minta maaf."

__ADS_1


"Mbok, titip Alya ya," ucap Najwa sebelum pergi.


"Iya Mbak, Mbok pasti jagain Mbak Alya," sahut Mbok Darti.


Najwa pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu karena dirinya harus bekerja di kantornya. Semenjak Alya di rumah sakit memang Najwa belum pernah ke kantor, ini hari pertamanya masuk kantor lagi.


"Mbok, aku kangen tolong peluk aku," ucap Alya setelah Najwa pergi.


"Mbok juga. Kenapa bisa jadi begini Non?" ucap Mbok Darti sembari menemukan Alya.


Alya menangis dipelukan pengasuhnya sejak dirinya masih bayi itu, karena besar bersama Mbok Darti, Alya sudah menganggap Mbok Darti adalah Ibu kandungnya terlebih dirinya yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari Chandra, membuat dirinya lebih dekat dengan Mbok Darti dan kecanduan kasih sayang dari pengasuhnya itu.


"Mbok, aku pikir aku akan mati saat aku tertabrak mobil kemarin."


"Sstt, jangan bicara seperti itu, tidak baik tahu."


"Aku hanya bicara tentang fakta Mbok, waktu itu aku merasa tubuhku ringan dan seperti sedang terbang bahkan aku berpikir waktu itu aku sudah berada di alam lain dan akan menemui kedua orang tuaku."


"Non, Mbok selalu ada bersama Non, Non Alya jangan pernah merasa sendiri di dunia ini karena Mbok dan kak Najwa selalu ada untuk Non Alya."


"Assalamu'alaikum!" ucap Arka dan Farhan dari luar ruangan itu.


"Waalaikumsalam," sahut Mbok Darti dan Alya.


"Kok Mbok yang di sini, Najwa mana?" tanya Farhan.


"Mbak Najwa sudah pulang barusan, dia sudah harus masuk kantor hari ini," jelas Mbok Darti.


"Kamu sudah sadar Al, aku senang kamu sudah bisa duduk dan bicara seperti ini," ucap Farhan.


"Aku merasa sudah baik-baik saja," sahut Alya.


"Alya, saya ikut bahagia melihat kamu seperti ini. Semoga secepatnya kamu bisa pulang ya," ucap Arka.


"Terimakasih Pak, Anda sudah meluangkan waktu untuk menjenguk saya di sini dan terimakasih juga karena Anda sudah mau menemani saya saat saya sedang kritis kemarin."


"Jangan berterimakasih, semua saya lakukan karena saya perduli sama kamu. Yang penting bagi saya adalah, kamu sehat dan secepatnya bisa beraktivitas seperti biasa lagi."


"Mas Farhan kok gak ke kantor?" tanya Mbok Darti.


Mbok Darti memang sudah mengenal Farhan karena sebelumnya Farhan berteman baik dengan Alya dan Najwa jadinya dirinya sering bertemu dengan Farhan di rumah majikannya.


"Aku mau di sini bersama Alya," sahut Farhan.


"Tapi Mbak Najwa."

__ADS_1


"Waktu yang akan membongkar semua misteri cinta kami Mbok."


"Mending kamu sama Najwa aja lagipula kemarin Alya udah bilang kalau dia udah gak cinta sama kamu," ucap Arka.


"Kamu diam ya. Ini bukan urusan kamu jadi kamu jangan ikut campur."


"Mbok, aku mau minum tolong ambilkan," ucap Alya pada Mbok Darti.


"Baik Non." Mbok Darti langsung menghilangkan air yang terdapat di atas meja lalu memberikannya pada Alya!


*******


Di kantor Chandra.


"Bu, Alya sudah sadar dan sudah bisa diajak bicara. Ibu mau menjenguknya?"


"Tidak. Ibu tidak sempat."


"Sebentar saja Bu."


"Ibu bilang Ibu tidak sempat, jangan paksa Ibu. Kalau dia sudah sadar ya syukur, itu berarti dia masih dikasih kesempatan untuk hidup."


"Alya masuk rumah sakit karena nolongin aku Bu, setidaknya Ibu mengucapkan terimakasih atau apa kek ke dia."


"Dia melakukan itu karena ingin menebus semua kesalahan Ibunya pada kita kalau tidak, mana mungkin dia mau melakukan hal yang membahayakan nyawanya."


"Ternyata Ibu belum bisa menerima Alya meski dia udah mempertaruhkan nyawanya untuk aku. Harus dengan cara apa Bu, agar Alya mendapatkan tempatnya di hati Ibu."


"Kalau dia bisa mengembalikan suami Ibu baru Ibu akan memaafkannya."


"Astaghfirullahalazim, Ibu. Ibu sadar gak dengan apa yang Ibu katakan? Sampai kapan pun orang yang sudah meninggal tidak akan bisa hidup lagi Bu."


"Pergi dari ruang Ibu. Ibu sedang sibuk, oh ya satu lagi, jangan pernah lagi meminta Ibu untuk menjenguk Alya karena sampai kapan pun Ibu tidak akan pernah datang untuknya."


Najwa mengeratkan dahinya lalu keluar dari ruangan Chandra dengan langkah kakinya yang dihentak-hentakan ke lantai!


Chandra menatap kepergian Najwa dengan tatapan mata yang sulit untuk diartikan.


"Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya dikhianati tapi Ibu tidak akan pernah membiarkan kamu merasakan rasa sakit seperti yang Ibu rasakan. Bukan Ibu tak mau menuruti permintaan kamu tapi luka ini selalu berdarah lagi saat Ibu melihat wajah Alya yang begitu mirip dengan Winda, ibu kandungnya Alya."


Chandra kembali mengingat masa lalunya dan air mata pun langsung menetes dari pelupuk nya, sesak di dadanya kian terasa menusuk menelusup kedalam hati yang paling dalam.


Dua puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar, namun Chandra mampu bertahan dalam kesakitan yang tak pernah orang ketahui.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2