Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 46


__ADS_3

Setelah mempertimbangkan semuanya, akhirnya mereka sepakat untuk menunda pernikahannya sampai Chandra sembuh total. Tak ada yang merasa keberatan dari keduanya.


Farhan merasa lega karena setidaknya dirinya masih memiliki waktu untuk meyakinkan Alya agar mau bersamanya sedangkan Najwa, karena dia, sangat menyayangi sang Ibu, dirinya tak mempermasalahkan jika pernikahannya diundur. Baginya kesehatan Chandra lebih penting.


Pagi itu di ruang rawat Chandra.


Alya sedang bersiap untuk pulang. Sudah hampir satu minggu dirinya tidak masuk kerja, kini dirinya berniat untuk kembali bekerja karena tidak enak hati dengan bosnya. Meski bosnya itu membebaskan Alya tapi dirinya cukup tahu diri.


"Bu, aku harus pergi. Maaf ya aku gak bisa menemani Ibu di sini tapi Ibu jangan khawatirkan, saat makan siang aku akan datang ke sini dan setelah pulang bekerja aku juga akan ke sini," ucap Alya pada Chandra.


"Pulanglah Nak ke kantor kita. Perusahaan kita menunggu."


"Bu, maaf, bukannya aku tidak mau tapi aku sudah terikat kontrak dengan perusahaan Danuarta grup."


"Berapa lama kontraknya?" tanya Najwa.


"Lima tahun," ucap Alya singkat.


"Lama sekali. Kamu tahu gak? Kakak udah gak sabar pengen kembali ke dunia modeling."


"Bagaimana lagi, aku tidak bisa kembali dalam waktu dekat."


"Ibu akan bicara pada bosmu."


"Tidak usah Bu, lagipula kak Najwa pasti bisa memegang perusahaan Ibu dengan baik."


"Kamu juga punya hak atas perusahaan yang Ayah kamu tinggalkan."


Alya tersenyum lalu mengelus pucuk kepala Chandra.


"Kita bicaranya nanti aja ya Bu, sekarang aku harus pergi bekerja." Alya pun langsung mencium punggung tangan Chandra lalu mulai meninggalkan mereka di ruangan itu!


"Kak, aku titip Ibu ya."


"Iya, pergilah dan temui bos kamu yang tampan itu."


"Iya, aku pasti menemuinya. Orang aku mau ke kantornya."


Najwa tertawa kecil sembari menatap punggung Alya yang mulai hilang dimakan pintu.


"Apa dia memiliki hubungan baik dengan bosnya?" tanya Chandra.


"Iya Bu. Bosnya itu sangat baik dan begitu perduli pada Alya."

__ADS_1


"Syukurlah."


"Sepertinya Arka suka sama Alya Bu."


"Benarkah?"


"Ya, bosnya Alya itu bahkan rela mengantar-jemput Alya ke rumah kost nya."


Chandra tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Najwa.


"Maafkan Ibu ya Nak," ucapnya.


"Kenapa harus minta maaf? Ibu tidak berbuat salah padaku."


"Ibu takut, Ibu tidak bisa sembuh lagi."


"Jangan bicara seperti itu Bu. Ibu pasti sembuh kok."


**********


"Alya, akhirnya kamu pulang juga," ucap Julia pada Alya."


"Ya, aku harus bekerja karena itulah aku pulang."


"Ibuku belum bisa pulang lukanya masih belum sembuh total."


"Bagaimana dengan pernikahannya kakakmu?"


"Pernikahannya diundur."


"Alya, kamu sudah pulang ternyata," ucap Marlina sembari memegangi gagang sapu karena saat itu dirinya sedang menyapu.


"Ibu." Alya menghampiri Marlina lalu mencium punggung tangannya!


"Aku pulang Bu, aku harus bekerja dan sebelum itu aku harus berganti pakaian."


"Bagaimana kabar Ibumu?"


"Alhamdulillah sudah mulai membaik tapi belum diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit."


"Syukurlah kalau sudah membaik. Kalau gitu masuklah ke kamarmu, bersihkan dirimu kalau memang kamu mau kerja hari ini."


"Baik Bu, aku permisi ya," ucap Alya pada Marlina.

__ADS_1


"Jul, aku masuk duluan ya," sambung Alya pada Julia.


**********


"Mau kemana pagi-pagi gini?" tanya Julian yang melihat sang kakak sudah rapi namun bukan berpakaian ala kantor.


"Mau bertemu seseorang," sahut Farhan.


"Memangnya kakak gak mau ke kantor?"


"Tidak, aku malas."


"Ya, baiklah kalau gitu aku duluan."


"Mau kemana kamu?"


"Ya ke kantor lah, gak mungkin ke masjid kan? Lagian bukan waktunya ke Masjid juga."


Farhan tersenyum lebar lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ya udah, pergi sana."


"Ini juga mau pergi kok. Eh kak, jangan lupa jenguk calon ibu mertuamu di rumah sakit dan jangan lupa juga bawa anaknya ke pelaminan tapi jangan sampai salah meminang ya."


"Iya-iya, aku pasti jenguk ibu mertuaku dan bawa anaknya ke pelaminan."


"Ingat satu aja jangan sampai dua-duanya dibawa, jangan maruk sisain satu buat orang lain."


"Katanya mau pergi? Pergi sana jangan ngoceh terus."


Julian tersenyum lalu segera pergi meninggalkan sang kakak di kamarnya!


*********


Di kantor Arka.


Arka berdiri sembari menatap seseorang yang sedang berjalan ke arahnya dengan mata yang tak berkedip satu kali pun.


"Astaga, satu minggu gak ketemu dia berubah menjadi bidadari," gumam Arka.


Setelah beberapa menit menatap gadis itu, tak sadar orang yang ditatap nya sudah berada di depan matanya.


"Selamat pagi Pak."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2