
Setelah menemukan nomor ruangan sesuai yang diberitahukan oleh petugas itu, tanpa mengetuk pintu, dirinya langsung membuka pintu dan langsung masuk kedalam ruangan itu.
"Alya," ucap Danish sembari berjalan menghampiri seseorang yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu.
Najwa dan yang lainnya yang ada di dalam ruangan itu menatap Danish dengan tatapan aneh.
Tak ada satupun dari mereka yang mengenali Danish.
Mungkin laki-laki ini orang yang juga menyukai Alya. Pikir mereka.
"Astaghfirullah, Alya kenapa kamu bisa seperti ini. Anda bosnya Alya kan? Kenapa Anda tidak memberitahu kami tentang keadaan Alya?" tanya Danish pada Arka.
Danish yang suka melihat Arka menjemput Alya ke rumahnya tentu saja dirinya hafal betul dengan wajah Arka.
"Iya benar, maaf karena di sini sudah ada keluarganya saya pikir kamu sebagai keluarganya juga sudah tahu tentang keadaan Alya."
Arka yang berpikir kalau Danish adalah keluarganya Alya menjawab dengan tebang karena tahu di sana sudah ada Najwa sebagai kakaknya Alya.
"Kamu siapa?" tanya Najwa pada Danish, "saya kakaknya Alya jadi saya rasa tidak perlu memberitahu kamu tentang Alya karena kamu bukan bagian dari keluarga kami," sambung Najwa.
"Oke, aku tahu itu tapi Alya ngekost di rumah Ibu saya. Karena Alya belum pulang, Ibu saya menjadi sangat khawatir karena keamanan dan keselamatan setiap anak kost di rumah Ibu saya adalah bagian kewajiban kami sebagai pemilik rumah jadi kami berhak tahu kalau sewaktu-waktu ada orang yang pulang terlambat atau bahkan tidak pulang sekalipun."
__ADS_1
"Jadi kamu anak yang punya kostan Alya?" ucap Arka.
"Ya."
"Maaf aku tidak tahu kamu siapa, sebagai kakaknya Alya, saya pikir kamu cuma orang yang kebetulan suka aja sama Alya."
"Oh ya, kamu kakaknya ya. Tolong ya kalau punya adik tuh dijaga dan diperhatikan. Setiap malam saya sering mendengar tangisan dari Alya ini, kami tidak tahu masalahnya apa karena dia tidak pernah cerita. Kamu sebagai kakaknya, tolong lebih perhatikan lagi."
"Maaf maksud kamu gimana? Aku gak ngerti."
Danish tak berucap lagi, dia berbalik badan dan kini menghadap Alya.
"Alya sedang kritis. Jika berkenan, tolong do'akan dia," ucap Farhan.
Danish menatap Farhan lalu kembali menatap Alya.
"Al, aku datang untuk menjemput kamu. Kamu pernah bilang kalau setiap hari kamu akan pulang tepat waktu tapi apa ... buktinya sekarang aku harus menjemput kamu," ucap Danish.
Meski Danish terus berbicara tapi sedikitpun dirinya tak menyentuh Alya karena dia tahu, Alya paling tidak suka jika ada yang menyentuhnya apalagi yang menyentuhnya itu seorang laki-laki.
Setelah puas bicara, Danish mengambil ponselnya lalu menelpon sang Ibu.
__ADS_1
[Halo Bu. Alya mengalami kecelakaan, sekarang dia di rumah sakit, oh ya malam ini aku gak pulang karena mau nunggu Alya sampai dia sadar.] jelas Danish ditelpon.
[Astaghfirullah, di mana? Biar Ibu ke sana sekarang.]
[Jangan Bu, kalau mau ke sini besok aja. Udah dulu ya Bu, aku harus menunggu Alya.]
Danish langsung mematikan telponnya lalu memasukannya lagi ke dalam saku celananya.
"Kalian kalau mau tidur, tidur aja biar aku yang jagain Alya," ucap Danish setelah selesai dengan urusannya.
"Gak usah, aku mau jaga adikku sendirian lagian aku belum mengantuk," ucap Najwa.
"Naj, tidurlah dulu, kamu pasti lelah," ucap Farhan.
"Gak bisa Han, Alya begini gara-gara menyelamatkan aku, aku gak bisa tidur tenang sebelum Alya berhasil melewati masa kritisnya."
"Aku tahu Naj, tapi ini demi kebaikan kamu juga."
Najwa menggelengkan kepalanya pelan, dia kukuh ingin tetap menjaga Alya.
Bersambung
__ADS_1