Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 60


__ADS_3

Keesokan harinya, sore hari sekitar pukul tujuh belas.


Keluarga Broto sudah berada di rumah Chandra untuk membicarakan tentang pernikahan anak-anak mereka yang sempat tertunda.


"Bu Chandra sudah sehat?" tanya Rossa.


"Alhamdulillah, seperti yang Ibu lihat, saya sudah sehat dan sudah bisa mengerjakan semua hal seperti biasa," sahut Chandra.


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Jadi maksud kedatangan kami ke sini mau membicarakan tentang pernikahan anak-anak kita," ucap Broto.


Farhan yang duduk di samping Rossa itu mulai tak tenang dan gelisah. Dirinya takut Chandra mengharuskan dirinya tetap menikah dengan Najwa meski Najwa sudah tahu yang sebenarnya tentang hubungannya dengan Alya yang sempat terhenti.


"Masalah itu, sebentar ya Pak, Bu, saya panggil anak-anak saya dulu. Ini kan tentang mereka jadi anak saya harus tahu apa yang kita bicarakan sekarang ini."


"Baik Bu, silahkan."


Chandra pun berjalan menaiki satu persatu anak tangga untuk sampai di kamar kedua putrinya!


Di ruangan tamu.


Farhan terlihat gugup, dan gelisah sehingga dirinya tak terlalu fokus pada orang disekitarnya, dalam pikirannya hanya ada rasa takut dan cemas.


"Han, kamu kok kayak orang gak tenang gitu, kamu kenapa?" tanya Broto.


"Nggak Pa, gak apa-apa kok," sahut Farhan.


Rossa mengusap punggung Farhan dengan lembut sambil berkata, "tenangkan hati dan pikiran kamu, jangan sampai ada emosi yang tak tertahankan."


"Kak, jodoh gak akan kemana. Kakak pasti nikah kok sama Najwa," ucap Julian.


Julian sengaja menggoda Farhan agar ada sedikit senyuman ataupun tawa dari kakaknya itu.


"Apa-apaan kamu Jul, jangan menggoda kakakmu. Dia lagi serius."


Tak lama, Chandra dan dua putrinya berjalan menuju arah mereka!


Farhan terus menatap Alya yang mengenakan dress berwarna putih yang dulu pernah dipakainya saat hari mereka jadian.


"Kamu cantik sekali malam ini Alya, meski wajahmu sedikit pucat tapi masih terlihat cantik bahkan sangat cantik," ucap Farhan didalam hatinya.


Tatapan Farhan terus bergerak mengikuti kemana arah Alya berjalan hingga akhirnya Alya duduk di kursi yang ada didepan Papanya baru tatapannya juga ikut berhenti.


"Ingat ada Najwa tuh," ucap Julian sambil mencubit paha Farhan pelan.


Julian berbicara dengan sedikit berbisik dan bergumam karena takut orang disekitarnya mendengar apa yang dia ucapkan.


"Iya, aku tahu," bisik Farhan.


"Jadi kapan kita bisa menyelenggarakan pernikahan anak-anak kita Bu?" tanya Rossa tanpa basa-basi.


"Kalau saya terserah Bapak dan Ibu sih, kapan maunya dan kapan baiknya tapi saya ...." Chandra menggantung ucapannya.


"Tapi apa Bu?"


"Saya ... sebelumnya saya minta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi pada keluarga kami. Jadi sebenarnya yang ingin dinikahi oleh Farhan bukanlah Najwa tapi Alya, putri kedua saya."


"Ibu, apa yang Ibu katakan? Kak Najwa yang akan menikah dengan Farhan."

__ADS_1


"Kamu diam dulu Nak, orang tua sedang bicara baiknya kamu diam saja."


"Maksudnya gimana Bu, kami tidak mengerti," ucap Rossa pura-pura tidak tahu.


"Pengantin perempuannya bukan aku tapi Alya," ucap Najwa.


"Tidak. Undangan sudah disebarkan dan dalam surat undangan itu tercantum nama kakak, bukan aku."


"Tapi Farhan cintanya sama kamu bukan sama aku. Kamu juga cinta kan sama Farhan?"


"Nggak kak," ucap Alya pada Najwa.


"Bu, kak Najwa yang seharusnya menikah dengan Farhan bukan aku," ucap Alya pada Chandra.


"Najwa sudah ikhlas, Ibumu juga sudah memberi restu lalu apa lagi yang menjadi penghalang untuk kamu menerima aku lagi, Alya?" ucap Farhan.


"Maaf sebenarnya siapa yang akan menikah dengan Farhan?" tanya Broto.


"Alya," ucap Chandra dan Najwa bersama-sama.


"Kak Najwa yang akan menikah dengan Farhan, seperti yang sudah kalian bicarakan sebelumnya, kak Najwa lah yang akan menikah."


"Najwa, apa kamu ikhlas kalau Alya yang menikah dengan Farhan?" tanya Rossa.


"Jika Alya meminta nyawa ku pun aku akan dengan senang hati memberikannya apalagi cuma seorang laki-laki yang akan hadir sementara dalam hidupku. Aku ikhlas dan aku bahagia kalau adikku bahagia."


Chandra tersenyum sembari mengelus punggung Najwa, dirinya tahu bahwa Najwa merasa sakit tapi dirinya juga tidak mungkin menyakiti Alya untuk yang kesekian kalinya.


"Bagaimana ini Bu?" tanya Broto pada Chandra.


"Alya dan Farhan pernah saling mencintai dan saya yakin saat ini mereka juga masih saling mencintai. Najwa udah ikhlas kalau Alya yang seharusnya menikah dengan Farhan jadi Alya lah yang akan menjadi pengantin wanita di hari pernikahan yang akan kita selenggarakan nanti.


"Terimakasih Tante, terimakasih karena Tante sudah mengizinkan kami menikah."


"Najwa maaf ya karena aku–"


"Kamu gak salah jadi kamu gak usah minta maaf."


"Alya, semua sudah setuju kalau kamu yang akan menikah dengan Farhan, apa kamu mau menikah dengan anak Om?"


Alya tak langsung menjawab, sebenarnya dirinya sangat ingin berkata 'ya' dirinya mau tapi kondisinya yang tidak memungkinkan membuatnya merasa tidak mungkin untuk hidup bersama dengan orang yang dicintainya.


"Ibu tidak masalah walaupun kakakmu mungkin merasa sakit hati dan kecewa semua sudah menjadi resiko orang yang sudah jatuh cinta. Terimalah pernikahan ini, Ibu akan sangat bahagia jika kamu juga bahagia."


"Alya, sekali lagi Tante tanya, kamu cinta gak sama Farhan? Kamu bersedia atau tidak menikah dengan Farhan?"


"Maaf." Dengan kepala yang tertunduk ke bawah, hanya kata maaf saja yang bisa Alya katakan sebagai jawaban atas pertanyaan Rossa padanya.


"Kenapa Alya! Kenapa kamu tidak mau menikah denganku padahal kita pernah memimpikan hidup bersama dan bahagia bersama."


"Cukup kak, jangan emosi. Alya butuh waktu untuk berpikir. Biarkan dia berdamai dengan hatinya dulu. Kalian saling mencintai kalian pasti akan bersatu," ucap Julian.


"Alya, Ibu minta kamu jangan sembarangan memutuskan. Ibu tahu kamu begitu mencintai Farhan, sekarang Ibu sadar kalau yang Ibu lakukan selama ini salah makanya Ibu meminta Najwa untuk mundur dari pernikahannya."


"Bu, aku dan Farhan adalah masa lalu sedangkan Farhan dan kak Najwa adalah kehidupan sekarang dan memiliki masa depan."


"Alya, kakak memang cinta sama Farhan tapi kakak lebih sayang sama kamu. Menikah lah dengan Farhan."


"Ta ...."

__ADS_1


Bruk!


Belum sempat Alya berucap. Dirinya merasa sakit yang amat kuat di kepalanya sehingga dirinya terjatuh ke lantai.


"Alya!" seru Chandra.


Semua orang yang berada di ruangan itu terkejut melihat Alya yang tiba-tiba terjatuh.


Farhan langsung menghampiri Alya dan membawanya ke pelukannya!


"Alya, Alya bertahanlah," ucap Farhan.


"Kamu kenapa Nak?" ucap Chandra yang mulai menangis.


"Julian cepat siapkan mobil. Kita bawa Alya ke rumah sakit," titah Farhan.


Farhan yang sudah tahu dengan penyakit Alya, sangat panik dan khawatir karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Julian pun langsung berlari untuk menyiapkan mobilnya!


"Najwa, tolong ambil ponsel Alya dan telpon Dokter Andrew. Minta dia untuk bersiap karena Alya akan dibawa ke rumah sakit sekarang," ucap Farhan pada Najwa.


Dengan keadaan masih syok dan panik, Najwa berlari ke kamar Alya untuk menuruti permintaan Farhan!


"Alya kamu kenapa Nak? Apa yang sebenarnya terjadi?" Chandra menangis sembari menggenggam tangan Alya yang mulai terasa dingin.


"Kepalaku sakit Bu, tapi Ibu jangan khawatir, aku baik-baik saja. Ibu jangan menangis," ucap Alya dengan nada lirih.


"Kak! Mobilnya udah siap!"


"Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu bertahan ya."


"Tidak perlu, untuk apa ke rumah sakit. Aku baik-baik saja."


Najwa kembali menghampiri mereka dengan berlari cepat!


"Dokter Andrew dan tim nya sudah bersiap di rumah sakit. Dia bilang jangan lebih dari sepuluh menit untuk kita sampai di sana. Cepat bawa Alya!" ucap Alya dengan suara terengah-engah.


Meski dirinya tidak tahu apa yang terjadi pada Alya tapi melihat Alya yang seperti itu membuat Najwa begitu mengkhawatirkan adiknya itu.


Tanpa berkata apa pun lagi, Farhan langsung memangku Alya dan membawanya ke dalam mobilnya!


"Tante Chandra di belakang jagain Alya ya, aku yang bawa mobil," ucap Farhan.


Chandra langsung masuk ke dalam mobil itu dengan diikuti oleh Najwa yang juga ikut masuk ke dalam mobil Farhan!


"Cepat lah," ucap Chandra sembari menangis.


Farhan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi!


Julian dan kedua orang tuanya menyusul di belakang Farhan dengan menggunakan mobil lain.


"Mbok, ada apa ini?" tanya Arman pada Mbok Darti.


"Man, bagaimana ini. Non Alya kenapa?"


"Semoga aja Mbak Alya tidak kenapa-kenapa Mbok."


Arman dan Mbok Darti hanya bisa melihat mereka membawa Alya dari sana tanpa bisa melakukan apa-apa.

__ADS_1


Mereka yang hanya sebagai pembantu di rumah itu tentu tidak memiliki hak untuk ikut ke rumah sakit meski mereka sangat khawatir terhadap Alya.


Bersambung


__ADS_2