Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 62


__ADS_3

Chandra langsung masuk dan menghampiri Alya yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit itu!


"Sayang, kamu memanggil Ibu?" ucap Chandra sembari terus menangis.


"Bu, aku mau minta maaf sama Ibu. Selama ini aku selalu membuat Ibu kesal bahkan membuat Ibu sakit sampai luka para hati Ibu terus berdarah. Maafkan atas semua kesalahan orang tuaku dan semua kesalahan aku pada Ibu. Sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Ibu dan aku tidak pernah sedikitpun berpikir untuk merebut semua kebahagiaan Ibu dan kak Najwa." Dengan sedikit tenaganya yang masih tersisa, dengan suara pelan bahkan hampir tidak terdengar, Alya terus berbicara mengutarakan isi hatinya pada Chandra.


"Kamu tidak salah, kamu tidak perlu meminta maaf. Ibu yang salah karena tidak bisa melihat ketulusan kamu. Maafkan Ibu Nak, Ibu mohon." Dengan terus menggenggam tangan Alya, Chandra memohon maaf dan mengakui semua kesalahan yang dia perbuat pada Alya selama ini.


"Bu, terimakasih karena Ibu sudah membesarkan aku sampai aku seperti ini sekarang. Aku bukanlah anak kandung Ibu tapi Ibu mau merawatku dan membiarkan aku hidup sampai aku tumbuh dewasa seperti ini."


Dengan tangan yang bergetar, Chandra meraih pipi Alya lalu mengusapnya berusaha mengeringkan air mata yang membasahi pipi mulus yang seumur hidupnya tidak pernah dirinya sentuh.


"Jangan menangis. Ibu mohon sembuhlah, kamu sendiri yang bilang kalau kita akan mulai hidup baru dan akan melupakan masa lalu yang sudah terjadi pada keluarga kita."


Satu persatu orang yang ada di luar ruangan itu masuk ke dalam dan mengelilingi Alya. Mereka semua menangis melihat kondisi kesehatan Alya.


"Kalian semua di sini juga?" tanya Alya sembari menatap semua orang yang baru masuk ke dalam ruangan itu.


"Dasar anak nakal. Kenapa kamu merahasiakan ini dariku? Kami tahu tidak? Aku ketakutan, saat ini aku sedang ketakutan," ucap Najwa sembari terus menangis.


Alya tersenyum tipis lalu dia melirik Dokter Andrew dan Dokter Wike.


"Pasti kalian yang memberitahu mereka tentang aku dan penyakit ku? Aku sudah bilang agar kalian menyimpan rahasia ini sekarang kalian lihat kan mereka semua menangis dan aku kena marah oleh kakakku." Saat dirinya sedang merasakan sakit pun, Alya masih bisa sedikit bercanda dan tersenyum pada orang-orang yang menyayanginya.


Dokter Wike menangis deras, dia tak kuasa menahan air matanya yang sejak dari tadi meronta ingin keluar.


"Diamlah Alya, dalam keadaan seperti ini pun kamu masih sempat bercanda. Bersiaplah, kami akan membawamu ke luar negeri."


"Aku tidak mau. Rasanya sakit sekali, aku sudah lelah, aku ingin lepas dari semua yang sudah menyiksaku selama bertahun-tahun." Butiran bening dari pelupuk matanya pun kembali menetes dengan derasnya.


"Kamu harus ke luar negeri, kamu akan menjalani pengobatan di sana," ucap Najwa.


Chandra tak dapat berkata-kata apa pun lagi. Karena sudah menangis terlalu lama, dirinya menjadi sulit berucap.


Alya kembali tersenyum meski air mata belum mengering di pipinya. Dia meraih tangan Najwa lalu diletakan di atas perutnya setelah itu dia juga meraih tangan Farhan, lalu diletakkan di atas punggung tangan Najwa!

__ADS_1


Alya menyatukan tangan Farhan dan Najwa dalam genggamannya. Ditatapnya wajah Najwa lalu wajah Farhan.


"Menikahlah, hidup bahagialah demi aku. Aku mohon," ucap Alya pada mereka berdua.


"Aku tidak bisa Alya, aku tidak mau," ucap Farhan.


"Aku juga tidak mau. Aku mau kamu yang menikah dengan Farhan," ucap Najwa.


"Aku mohon. Demi aku."


Farhan dan Najwa menggeleng pelan menolak permintaan Alya.


"Aku tidak bisa membahagiakan kalian, aku tidak mungkin menikah dengan kamu Han. Kondisi aku sudah seperti ini bahkan aku tidak memiliki peluang untuk tetap hidup."


"Jangan bicara seperti Nak, kamu pasti sembuh. Kita akan pergi ke luar negeri untuk kamu menjalani pengobatan," ucap Chandra dengan suara sedu sedan.


"Sudah terlambat Bu." Alya menarik nafasnya panjang lalu membuangnya perlahan untuk menahan rasa sakit yang dideritanya.


"Alya, kamu kenapa? Al, aku mohon jangan buat aku ketakutan," ucap Farhan.


"Menikahlah. Sebelum aku pergi, aku ingin melihat kalian menikah. Kamu laki-laki yang baik dan bertanggungjawab, aku yakin kamu bisa membahagiakan kak Najwa. Aku sangat menyayangi dia, aku percaya dan aku yakin kalau kamu tidak akan membuat kak Najwa kecewa dan sakit hati."


"Kalau Alya mau, kami akan mendampingi Alya ke luar negeri dan membawanya ke rumah sakit terbaik yang ada di sana," ucap Dokter Wike.


**********


Di kediaman Chandra.


"Permisi, maaf Mas, apa Alya nya ada?" tanya Arka pada Arman.


"Mbak Alya sedang di rumah sakit Mas," sahut Arman.


"Siapa yang sakit? Kok malam-malam gini dua di rumah sakit."


"Mbak Alya yang sakit. Tadi sore dia pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit dan sampai sekarang belum pulang lagi."

__ADS_1


Arka melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul dua puluh dua lewat lima belas menit.


"Alya sakit? Apa sudah ada yang memberi kabar tentang keadaannya?"


"Belum Mas."


"Alya, jangan-jangan Alya ...." Arka menggantung ucapannya.


"Eumm, Mas di rumah sakit mana Alya sekarang?" sambung Arka.


"Maaf Mas, saya tidak tahu."


Arka pun mulai khawatir dengan Alya, pantaslah dirinya ke kostan nya Alya, Alya nya, tidak ada ternyata sekretaris yang berhasil membuatnya jatuh cinta itu sedang sakit dan kini sedang di rumah sakit.


Arka pun langsung berpamitan dan meninggalkan rumah milik orang tuanya Alya itu!


**********


"Aku tidak mau ke luar negeri. Percuma kalian membawa aku ke sana. Kalian hanya akan membuang-buang waktu saja, aku senang karena kalian menyayangiku, maaf karena aku hanya bisa merepotkan kalian," ucap Alya.


Chandra memeluk dan mencium kening dan pipi Alya beberapa kali. Air matanya terus mengalir bahkan sampai membasahi pipi Alya.


"Jangan bicara seperti itu, kamu pasti sembuh, kamu pasti sembuh Nak. Tolong berikan Ibu kesempatan untuk menebus semua kesalahan Ibu padamu."


"Aku sedang tidak bermimpi kan? Ibu memeluk dan mencium ku."


"Ini nyata Nak, Ibu akan selalu memeluk kamu seperti ini asalkan kamu sembuh."


"Aku bahagia sekali, aku sangat menginginkan pelukan ini dari dulu sekarang Ibu memberiku pelukan dan juga ciuman sebagai bonusnya. Terimakasih Ibu, terimakasih."


Rossa hanya bisa terdiam mematung mendengarkan pembicaraan antara anak dan Ibu itu, betapa dirinya merasa tersayat mendengar perkataan Alya.


Dirinya tak pernah menyangka bahwa selama ini Alya kekurangan kasih sayang dari Ibunya. Selama ini Alya tak pernah memperlihatkan kesedihannya, dia selalu terlihat ceria dan suka bercanda.


Ternyata dibalik senyum dan tawa Alya ada perasaan rindu yang sangat mendalam. Rindu belaian sang Ibu, rindu pada cinta kasih sayang seorang Ibu.

__ADS_1


Alya yang baik dan periang ternyata sangat haus akan cinta kasih seorang Ibu.


Bersambung


__ADS_2