
Di rumah sakit tempat Chandra dirawat.
"Cepat tandatangani surat pengalihan nama ini," ucap Ameera sembari memberikan sebuah pulpen dan beberapa lembar kertas yang harus Chandra tandatangani.
Erlangga berdiri di samping Ameera dengan memasang raut wajah masam.
Pasangan suami istri itu tetap memaksa Chandra untuk menandatangani surat yang mereka bawa karena mereka ingin menguasai semua perusahaan Fathir yang kini dikelola oleh Chandra dan Najwa.
"Aku tidak akan pernah menandatangi surat itu. Ameera, apa kamu tidak puas dengan sebagian harta yang kakakmu berikan padamu. Aku sudah bertindak adik, setelah kakakmu meninggal, aku membagikan semua aset miliknya padamu dan juga keluarga kamu," ucap Chandra.
Ya, dulu setelah Fathir meninggal, Ameera dan dua adiknya Fathir meminta sebagian harta peninggalan Fathir pada Chandra.
Karena tak ingin bermasalah dengan keluarga suaminya, Chandra mengalah. Dia membagikan separuh harta dan perusahaan milik Fathir pada adik-adiknya Fathir meski sebenarnya mereka tidak berhak atas semua yang dimiliki oleh sang suami.
Dalam surat wasiat yang ditinggalkan oleh Fathir melalui pengacara pribadinya. Semua harta miliknya hanya untuk Alya dan Najwa, tiga puluh persennya milik Chandra.
"Dengar ya Chandra, sekarang kak Fathir sudah lama mati jadi kamu dan anak-anak kamu tidak ada hak atas semua peninggalannya," ucap Erlangga.
"Cepat tandatangani surat ini Chandra!" bentak Ameera.
"Tidak mau. Aku tidak akan pernah menandatangani surat ini."
Dengan kejam, Ameera menarik rambut Chandra dengan keras! "Cepat! Cepat Chandra!"
Chandra memegang tangan Ameera agar tak menarik rambutnya lebih keras lagi.
"Ah, sakit. Lepaskan Ameera," lirih Chandra.
Erlangga yang awalnya hanya melihat mereka, kini dia mencekik Chandra karena geram dengan Chandra yang tak kunjung mau menandatangani surat yang mereka bawa.
"Kamu akan mati dan kami akan menguasai semua hartamu. Kedua anakmu akan kami tendang dari rumah mewah milik kalian," ucap Erlangga dengan senyum licik.
Chandra sudah tak dapat mengucapkan sesuatu apa pun, wajahnya pun memerah karena Erlangga mencekiknya dengan keras.
Chandra yang memang sedang sakit dan lemah mulai kesulitan bernafas, dia pun tak dapat melawan karena Erlangga dan Ameera menyerangnya secara bersamaan.
Brak! Dengan keras Najwa mendobrak pintu ruangan itu hingga membuat Ameera dan Erlangga terkejut.
__ADS_1
Mereka berdua segera menghentikan aksinya setelah tahu Najwa yang masuk ke ruangan itu.
Chandra batuk-batuk sembari memegangi lehernya, nafasnya pun terengah-engah karena baru menghirup udara lagi.
"Kurang ajar kalian!" Dengan wajah memerah karena marah, Najwa berteriak pada Ameera dan Erlangga.
Dengan brutal, Najwa menjambak rambut Ameera lalu mendorongnya pada Erlangga!
"Kalian akan menerima akibat dari perbuatan kalian pada Ibuku. Lihat saja, aku tidak akan membuat kalian hidup tenang."
"Oh Najwa sayang, kamu tidak akan pernah bisa membuat kami dalam keadaan kesulitan karena kamu dan Ibu kamu sebentar lagi akan tersingkir dari perusahaan dan semua aset milik Fathir," ucap Ameera.
"Kita lihat siapa yang akan menang. Kalian orang-orang jahat tidak akan pernah menang."
Plak!
Erlangga menampar Najwa hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipinya.
Najwa memegangi pipinya sembari menatap Erlangga dengan tatapan tajam, rahangnya mengerat hingga mengeluarkan suara gemeltuk giginya yang beradu satu sama lain.
Gadis berusia dua puluh lima tahun itu menggerakkan tangannya ke arah leher Erlangga lalu mendorongnya sampai punggungnya tersandar di tembok!
Najwa mencekik leher Erlangga dengan keras sehingga laki-laki itu tidak bisa melawannya. Erlangga hanya memegangi tangan Najwa agar terlepas dari lehernya.
Melihat suaminya yang sudah tak berdaya, Ameera menyerang Najwa dengan memukul punggung Najwa menggunakan tasnya!
Chandra yang masih lemas pun berusaha bangkit untuk melindungi putrinya namun, belum sempat dirinya berdiri, Ameera sudah memukul punggung Najwa.
Seketika Najwa merasa kesakitan dan langsung melepaskan tangannya yang sedang mencengkram leher Erlangga.
"Ah," lirih Najwa sembari memegangi punggungnya yang terasa sakit.
"Najwa, Najwa anakku," ucap Chandra sembari berjalan pelan menghampiri Najwa.
Bruk!
Ameera mendorong Chandra hingga wanita paruh baya itu terjatuh dan meringkuk di lantai.
__ADS_1
"Ibu!" Najwa menghampiri Ibunya lalu segera meraih kepala Chandra yang terbentur ke tembok.
"Ayo kita pergi dari tempat ini," ucap Ameera pada suaminya.
Dengan tanpa rasa bersalah seolah tak mempunyai dosa, Ameera dan Erlangga mulai melangkah meninggalkan ruangan itu.
Tak terutama mereka pergi begitu saja. Najwa yang sedang duduk sambil menopang kepala Chandra dengan pahanya, dengan cepat menarik kaki Ameera dengan sekuat tenaganya saat kaki Ameera akan melangkah melewati dirinya.
"Aaaa!" Ameera berteriak dan terjatuh menimpa Erlangga.
Kepala Erlangga terbentur ke lantai tapi dirinya masih sanggup untuk berdiri lagi dan membantu Ameera terbangun.
"Satpam!" teriak Najwa dengan keras.
Sambil memegangi kepalanya, Erlangga berusaha membantu Ameera berjalan karena kaki istrinya itu tak bisa digerakkan akibat rasa sakit yang dideritanya.
Tak lama dua orang petugas keamanan datang ke ruangan itu.
"Pak, tangkap dua orang ini dan bawa mereka ke kantor polisi. Mereka sudah menyerang Ibu saya," ucap Najwa sebelum petugas keamanan itu bertanya padanya.
Melihat pasien yang tergeletak di lantai, petugas keamanan itu pun langsung memaksa pasangan suami istri itu untuk ikut dengan mereka.
"Kami gak salah. Mereka yang salah," ucap Erlangga mencoba membela diri.
"Sebaiknya jelaskan di kantor polisi saja," ucap salah satu petugas keamanan itu sembari terus menyeret dua orang jahat itu.
Di ruangan Chandra dirawat.
Dokter sudah selesai memeriksa kondisi Chandra dan kini Chandra pun sudah mulai tenang dan bisa diajak bicara.
"Pasien masih syok, ada baiknya jangan terlalu banyak bertanya dulu padanya," ucap Dokter itu pada Najwa.
"Baik Dok, saya mengerti."
Dokter itu tersenyum tipis lalu pergi dari ruangan itu.
Setelah Dokter itu pergi, Najwa memunguti beberapa lembar kertas yang berserakan di lantai!
__ADS_1
"Najwa, kamu tidak apa-apa Nak?" tanya Chandra dengan suara lirih.
Bersambung