
"Najwa, dimana Alya?" tanya Chandra.
Entah kenapa Chandra merasa khawatir terhadap Alya padahal selama ini dirinya begitu membenci Alya.
Apa karena terlalu lama hidup bersama, dirinya menjadi kasihan saat Alya sedang sakit seperti ini.
"Dia di dalam ruangan ini, ayo Bu," ucap Najwa sembari membuka pintu ruangan rawat yang didalamnya ada Alya.
Najwa dan Chandra langsung masuk ke ruangan itu, mereka berjalan beriringan memasuki ruangan itu!
Arka dan Farhan langsung menoleh ke arah pintu saat terdengar suara pintu yang terbuka.
"Alya sedang krisis, Bu," jelas Najwa.
Chandra berdiri terpaku sambil menatap Alya yang terbaring lemah tak sadarkan diri.
"Ayo kita keluar, biarkan keluarga ini di sini," ucap Arka pada Farhan.
Farhan mengangguk lalu segera keluar dari ruangan itu!
Perlahan Chandra berjalan mendekati Alya! Raut wajah datar masih terlihat di wajah Chandra, tak ada tangis atau senyum bahagia hanya ada tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Selama ini Alya tidak pernah merasakan belaian tangan Ibu, ayo Bu, buat keajaiban dalam dunia nyata. Mungkin Alya akan terbangun saat Ibu membelai nya dengan lembut."
Chandra hanya diam, dia tak menyahut ataupun bergerak.
"Mungkin Ibumu jahat karena telah merebut kebahagiaan keluargaku tapi saya hanya manusia biasa yang lemah, saya benci sama kamu tapi saya juga kasihan saat melihat kamu seperti ini," ucap Chandra didalam hatinya.
__ADS_1
"Bu, ayolah. Saat ini keadaan Alya begitu menyedihkan, apa Ibu tidak merasa kasihan padanya."
"Najwa, bisa kamu diam sebentar? Biarkan Ibu sendiri, tolong pergi dari sini."
"Maaf aku tidak bisa Bu, selama ini Ibu begitu membenci Alya. Bukan aku tak percaya pada Ibu tapi bagaimana kalau Ibu lepas kendali dan mencobanya membunuh Alya."
Tahu dengan semua sifat dan sikap Chandra pada Alya, Najwa tak bisa percaya pada Ibunya sendiri.
Kebencian yang begitu besar dan luka yang sangat mendalam, bisa saja membuat Chandra khilaf dan akhirnya mengakhiri hidup Alya di sana saat Alya tak berdaya.
"Bicara apa kamu? Kalau Ibu tega membunuhnya, sudah dari dulu Ibu membunuhnya. Mungkin dia tidak akan merasakan indahnya alam dunia ini."
Najwa terdiam, yang dikatakan oleh Chandra memang benar tapi entah kenapa dirinya terus berpikiran buruk padahal Chandra adalah Ibu kandungnya.
"Tinggalkan Ibu sendiri. Ibu masih bisa menahan emosi tanpa adanya yang mengingatkan."
Setelah Najwa keluar, Chandra melangkah beberapa langkah untuk sampai pada kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit itu!
Chandra duduk di atas kursi itu! Matanya menatap Alya sendu dan mulutnya masih tertutup rapat seolah enggan berucap.
Untuk beberapa saat, Chandra hanya diam dan tak mengeluarkan suara sedikitpun dan tak bergerak sama sekali.
Perlahan air matanya menetes membasahi pipinya. Rasa sesak mulai menusuk hati kala melihat keadaan Alya yang begitu memilukan.
"Saya mungkin terlalu benci padamu Alya tapi melihat kamu seperti ini rasanya ada yang menusuk hati saya, saya kesakitan. Saya tidak ikhlas kamu mati ditangan orang lain yang saya mau kamu tetap hidup dalam luka hati seperti yang saya rasakan."
"Saya sangat membenci kamu tapi tolong jangan mati sekarang. Kamu harus melihat Najwa bahagia. Masih banyak hutang Ibumu padaku yang harus kamu bayar."
__ADS_1
"Saya tidak mau kamu mati secepat ini, yang saya mau kamu mati perlahan karena mendapatkan siksaan batin dari saya."
Chandra terus berbicara pada Alya meski dirinya tak tahu apakah Alya dapat mendengar suaranya atau tidak.
Di luar ruangan.
Najwa berdiri didepan pintu, sesekali dia melihat Ibunya dan Alya dari kaca yang terdapat pada pintu ruangan itu.
Memang dirinya tidak bisa mendengar semua yang diucapkan oleh Chandra tapi setidaknya dirinya bisa melihat apa saja yang dilakukan oleh Chandra didalam sana.
"Najwa, kalau kamu mau pulang, pulang saja biar aku yang menjaga Alya," ucap Farhan.
"Sebaiknya kalian yang pulang, aku mau di sini menemani adikku. Aku takut tidak punya waktu lagi untuk bersamanya. Bukan aku soudzon tapi tapi kita tidak tahu takdir Tuhan dalam hidup kita."
"Kamu benar, kalau gitu aku akan tetap di sini untuk menjaganya," ucap Arka.
"Kamu siapa nya Alya hah. Kamu tuh gak ada hak untuk tetap di sini," ujar Farhan.
"Kamu sendiri siapa? Kamu juga tidak punya hak untuk tetap di sini. Kalau saya jelas karena saya adalah bosnya Alya jadi saya ada hak untuk tahu perkembangan karyawan saya."
"Tapi aku lebih berhak karena sebentar lagi Alya akan menjadi adik iparku."
"Tolong jangan berdebat. Jika kalian ingin tetap di sini silahkan, kita semua di sini karena sayang sama Alya, tujuan kita sama yaitu menjaga Alya," ucap Najwa.
Farhan dan Arka terdiam di tempatnya masing-masing, keduanya berpikir bahwa yang dikatakan Najwa memang benar.
Bersambung
__ADS_1