
Sore itu saat Candra sudah beristirahat.
"Ibu sudah tidur, ikutlah dengan kakak. Ada yang mau kakak bicarakan padamu," ucap Najwa.
"Yakin, Kita tinggalkan Ibu sendirian?"
"Sebentar lagi Mbok Darti akan datang bersama dengan Arman. Mereka akan menjaga Ibu selama kita tidak ada lagian kita juga gak akan lama kok."
"Ya udah, ayo."
Baru mereka akan keluar dari ruangan itu, Mbok Darti dan Arman tiba di sana.
"Non Alya." Tanpa menghiraukan apa pun lagi, Mbok Darti langsung memeluk Alya dengan erat.
"Mbok, Mbok kenapa?" ucap Alya sembari memeluk orang yang sudah mengasuhnya dari kecil itu.
"Mbok tidak apa-apa, Mbok hanya ingin memeluk Non Alya saja."
"Kirain ada apa? Gak mungkin Mbok kangen sama aku, kan baru kemarin kita bertemu."
"Ya udah Mbok, tolong jagain Ibu sebentar ya, aku sama Alya ada urusan di luar," ucap Najwa. L
"Oh iya silahkan. Mbok dan Arman yang akan menjaga Ibu."
Najwa tersenyum lalu meraih tantan Alya dan menariknya keluar dari ruangan itu!
Mbok Darti dan Arman mulai masuk dan berjalan mendekati Chandra!
"Kondisi Ibu begitu parah ya Mbok," ucap Arman sembari menatap Chandra.
"Iya Man, semoga aja Ibu cepat sembuh agar bisa pulang dari sini ya."
"Kita do'akan saja yang terbaik untuk Ibu."
Di taman kecil yang berada di area rumah sakit itu.
Najwa dan Alya duduk di kursi taman dengan posisi saling berhadapan.
"Kenapa kak, apa yang mau kakak bicarakan?"
Najwa menatap mata Alya dengan mata yang tak berkedip satu kalipun.
"Kamu mencintai Farhan?" tanyanya.
Alya menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah sang kakak, dia menggeleng pelan sambil berkata, "tidak. Aku tidak mencintai dia."
Najwa tertawa kecil namun tawanya itu terdengar hambar.
"Kamu gak pernah bisa membohongi kakak."
"Tidak kak, aku memang mencintai Farhan tapi itu dulu, sekarang udah nggak lagi."
"Kenapa? Kenapa bisa begitu?"
"Aku tidak tahu."
__ADS_1
"Alya, kenapa kamu gak bilang kalau sebenarnya kalung berlian pemberian Farhan itu untuk kamu bukan untuk aku?"
"Karena memang kakak yang pantas memakainya."
"Kamu takut sama Ibu? Hanya karena kamu takut sama Ibu, kamu mengorbankan kebahagiaanmu sendiri!" Najwa menaikkan nada bicaranya karena kesal dan jengkel pada adiknya itu.
"Tidak seperti itu kak. Aku ... aku–"
"Diamlah. Sekarang ambil kalung ini dan pakailah," ucap Najwa sembari memberikan kalung pemberian Farhan yang selalu dipakainya itu.
"Tidak kak, aku tidak berhak."
"Ssst. Diam Alya." Najwa memakaikan kalung itu lalu setelah itu membuka cincin tunangannya dengan Farhan dan memakaikannya di jari manis Alya.
Alya menarik tangannya! Berusaha menolak perlakuan Najwa yang hendak memakaikan cincin itu.
"Kakak apa yang kamu lakukan. Itu milikmu, bukan milikku."
"Farhan mencintai kamu Alya! Bukan mencintai aku."
"Farhan mencintai kakak, dia mencintai kakak. Kalian akan menikah."
"Dasar keras kepala. Mau sampai kapan kamu menyiksa diri kamu sendiri hah? Terlihat dengan jelas kalau kamu mencintai Farhan."
"Aku bilang tidak ya tidak kak. Tolong jangan paksa aku. Dulu memang aku mencintai Farhan tapi sekarang tidak lagi."
"Kenapa? Kamu mau menjadikan Daffa lagi untuk menutupi kebohongan kamu?"
"Tidak kak. Aku tidak bisa hidup dengan Farhan, aku tidak mau menikah dengannya."
"Kalau gitu aku juga tidak mau menikah dengan Farhan."
"Iya, Ibu pasti bahagia tapi aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan kamu. Aku memang mencintai Farhan tapi Farhan mencintai kamu kan? Kalian saling mencintai, bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintai kakak."
Alya terdiam, selama ini memang Farhan tidak bisa membuka hatinya untuk Najwa tapi Alya sendiri tidak mungkin menikah dengan Farhan sedangkan dirinya sudah tak akan lama lagi hidup di dunia ini. Kebersamaannya dengan Farhan hanya akan membuat luka dalam di hati Farhan.
Setelah mempertimbangkan semuanya, Alya lebih memilih tidak menjalin hubungan dengan siapa pun dan membiarkan Farhan menikahi Najwa.
"Alya!" seru Arka.
Arka yang masih menyimpan banyak pertanyaan untuk Alya itu, tidak bisa tenang sebelum tahu semuanya tentang Alya dan Farhan.
Cintanya pada Alya terlalu besar sehingga dirinya sudah tak mengenal malu ataupun takut untuk mengutarakan rasa sayangnya .
"Pak Arka," ucap Alya.
"Aku mau bicara."
"Tentang apa? Pak, aku sedang bicara dengan kakakku."
"Mau bicara apa? Bicara saja, aku bisa pergi."
Najwa bangkit dari duduknya lalu mulai melangkah!
"Kak Najwa, kita belum selesai bicara."
__ADS_1
Najwa menghentikan langkahnya lalu berbalik badan untuk menatap adiknya itu .
"Pembicaraan kita sudah selesai. Kamu yang akan menikah dengan Farhan nanti." Najwa kembali berjalan menjauhi mereka!
"Sebenarnya ada apa ini Alya. Jujur aku mencintai kamu tapi Farhan ...."
"Tidak ada apa-apa diantara aku dan Farhan. Farhan akan tetap menikahi kak Najwa."
"Lalu diriku? Aku mencintai kamu Alya."
"Pak, maaf. Untuk saat ini aku masih ingin sendiri."
"Oke, aku hargai keputusan kamu ini. Kenapa kamu sering merasa sakit dikepala kamu dan kamu juga sering pingsan?"
"Aku sakit kepala karena aku telat makan dan aku pingsan karena kelaparan selain itu juga aku ada gangguan dengan lambung ku."
"Apa sakit lambung bisa menyebabkan orang koma dengan tiba-tiba?"
"Pak, itu urusan Dokter, aku tidak tahu dan tidak mengerti dengan semua ini."
"Aku sudah tanya pada Dokter Andrew dan Dokter Wike tapi mereka memberi jawaban yang aku rasa tidak mungkin."
"Kalau gak percaya sama Dokter lalu mau percaya sama siapa?"
"Aku butuh penjelasan dari kamu."
"Penjelasan apa?"
"Kamu menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang sangat serius."
"Tidak. Aku tidak menyembunyikan apapun."
"Lalu apa ini?" Arka memperlihatkan sebuah kertas hasil pemeriksaan yang dikeluarkan oleh suatu rumah sakit.
"I_itu ... itu."
"Ini hasil pemeriksaan tumor otak yang diderita oleh pasien bernama Alya. Sudah jelas ini milikmu."
"Dari mana Anda mendapatkan ini? Kenapa bisa ada ditangan Anda?"
Alya meraih kertas itu lalu meremasnya, setelah itu dia membuang kertas itu ke sembarang tempat!
"Jauhkan kertas ini dari Ibu dan kakakku," ucap Alya.
Arka hanya bisa diam sembari menatap ke mana arah kertas itu menggelinding.
Alya begitu terkejut saat melihat kertas yang dilempar nya berhenti tepat di bawah kaki Chandra dan mengenai sandal wanita paruh baya itu.
Alya membuka mulutnya lebar sambil ditutupi dengan telapak tangannya.
Chandra menatap kertas yang membuat itu lalu menatap Alya.
"Apa ini, Nak?" tanya Chandra.
Karena Alya terlalu lama mengobrol dengan Arka, akhirnya Chandra memilih menemui Alya di taman itu karena ada hal penting yang ingin dibicarakan.
__ADS_1
Tak mendapat jawaban dari Alya ataupun Arka, dengan pergerakan lambat, Chandra meraih kertas itu dan perlahan membukanya untuk selanjutnya dibacanya.
Bersambung