Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 37


__ADS_3

Waktu terus berputar, hari terus berganti kini pernikahan antara Farhan dan Najwa tinggal menghitung hari.


Hari lima hari menjelang hari pernikahan itu.


Keluarga sudah mulai sibuk mempersiapkan kebutuhannya, apalagi pihak laki-laki yang harus membawa seserahan dan semacamnya membuat keluarga Farhan lebih sibuk mengurus semuanya.


Di kediaman Chandra.


Sejak beberapa hari terakhir, Alya sudah tinggal di rumah itu lagi karena dirinya harus menemani Najwa dalam melakukan persiapan pernikahannya.


Chandra sengaja meminta Alya tinggal bersamanya lagi, selain karena di rumahnya banyak pekerjaan, dirinya juga ingin Alya semakin merasa kesakitan karena tahu sampai saat ini Alya dan Farhan masih saling mencintai.


Di salah satu ruangan di kediaman Chandra.


"Jadi kapan kamu mau memberikan perusahaan kak Fathir?" tanya Ameera.


"Itu bukan hak kalian. Sampai kapanpun aku tidak akan memberikan perusahaan kami pada kalian," ucap Chandra dengan tegas.


Di luar ruangan itu.


Tanpa mereka ketahui sedari tadi, Alya mendengarkan perdebatan mereka. Sebenarnya Alya tahu, tidak sopan jika mendengarkan pembicaraan orang tapi entah kenapa saat itu seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk tetap di sana dan mendengarkan semua perkataan mereka.


"Oh jadi kamu mau pernikahan Najwa batal karena di rumah ini ada anak haram hasil dari perselingkuhan. Kamu tahu Chandra, mereka itu orang terpandang, mereka sangat menjaga nama baik keluarga kalau mereka tahu Fathir pernah berselingkuh bahkan sampai miliki anak ... jangan harap mereka akan menerima Najwa jadi menantunya," ucap Erlangga penuh penekanan.


Chandra terdiam, seketika kegelisahan menghampirinya dan mengganggu pikirannya.


"Kalau kamu tidak mau menandatangani surat pengalihan kepemilikan perusahaan ini, aku pastikan pernikahan Najwa akan batal," tambah Ameera.


Chandra merasa tak punya pilihan, dia tak ingin pernikahan Najwa dan Farhan batal karena dirinya tidak siap melihat Najwa bersedih.


"Alya terlahir dari wanita bernama Winda dan dia terlahir di rumah sakit xxx. Kami memiliki semua bukti tentang Alya, sekuat apa pun kamu melindungi nama baik keluarga kamu, kamu tidak akan berhasil karena kami yang akan membongkar semua kebobrokan keluarga kalian," ucap Ameera.


"Lebih baik kamu tandatangani saja surat pernyataan ini daripada Najwa kehilangan kebahagiaannya," tambah Erlangga.


Dengan tangan yang bergetar, Chandra mengambil pulpen yang terletak di atas meja bersama berkas yang mereka bawa untuk ditandatanganinya.


Ameera dan Erlangga saling menatap dan saling melempar senyum kemenangan.


"Bagus Chandra, setidaknya kamu berkorban untuk kebahagiaan anak kamu."


Baru Chandra akan menandatangi salah satu dari beberapa berkas itu. Alya menerobos masuk ke dalam ruangan itu lalu merebut pulpen itu dari Chandra.


"Tidak Bu, perusahaan Ibu tidak pantas untuk mereka," ucap Alya sembari meraih pulpen itu dari tangan Chandra.


"Alya apa yang kamu lakukan?" ucap Chandra dengan suara yang bergetar.


"Oh rupanya anak haram ini mencoba melindungi Ibu yang dia sayangi," ucap Ameera dengan nada bicara yang dibuat manja.


"Alya pergi kamu dari sini. Keputusan saya sudah bulat."


"Jangan Bu, perusahaan kita yang sudah kita bangun tidak boleh dimiliki orang seperti mereka. Mereka orang jahat Bu."

__ADS_1


"Dan kalian harus tahu, aku terlahir dari pernikahan yang sah secara agama dan negara jadi kalian tidak bisa menyimpulkan bahwa aku adalah anak haram," tegas Alya pada paman dan bibinya.


"Oh Chandra, sepertinya pernikahan Najwa akan batal."


"Tidak. Pernikahan ini akan tetap terjadi, aku akan bicara pada Om Broto dan Tante Rosa."


"Jangan bodoh kamu Alya, kamu akan membuat Najwa kehilangan kebahagiaannya."


"Tidak Bu, mereka tidak seperti itu. Aku tahu Om Broto dan Tante Rossa adalah orang-orang yang bijaksana. Mereka tidak akan membatalkan pernikahan ini hanya karena masalah keluarga kita. Aku akan pergi menemui mereka."


Alya merobek lembaran kertas yang ada di atas meja lalu segera pergi meninggalkan mereka di ruangan itu.


"Alya! Alya jangan bodoh kamu!" Chandra mengejar Alya yang berlari keluar rumahnya.


"Ada apa Bu?" tanya Arman.


"Kejar Alya, cegah dia untuk pergi."


Arman dan beberapa orang yang ada di sana langsung mengejar Alya yang sudah pergi jauh dengan menggunakan mobil miliknya.


Chandra langsung masuk ke mobilnya dan meminta Arman mengejar Alya!


Alya terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah orang tua Farhan dengan diikuti oleh Chandra dibelakangnya.


Di rumah Chandra.


"Tenang sayang, malam ini perusahaan milik kak Fathir akan resmi menjadi milik kita. Chandra pasti mendapatkan Alya dan mencegahnya untuk bicara pada keluarga Pak Broto lalu setelah itu, Chandra akan menandatangani berkas-berkas ini," ucap Ameera.


"Aku membawa berkas lain, aku tahu ini akan terjadi, jadi aku membawa berkas cadangan. Sekarang kita tunggu Chandra pulang."


"Kamu menang pintar sayang."


Mereka berdua tertawa sampai suaranya menggelegar di ruangan itu. Mereka sangat yakin bahwa mereka akan berhasil menguasai perusahaan milik Fathir.


********


Karena mengemudi dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu lama bagi Alya untuk tiba di rumah mantan kekasihnya itu.


Dia segera turun dari mobilnya dan berlari menghampiri rumah yang dari luar terlihat sedang ramai itu!


"Astaga, dia benar-benar menemui mereka," gumam Chandra sembari turun dari mobilnya!


"Arman kamu tunggu di sini saja," sambung Chandra.


Di depan pintu rumah mewah itu, Alya berdiri sembari menangis dadanya bernafas naik turun karena kelelahan.


"Alya," ucap Rossa.


Rossa dan Broto berjalan menghampiri Alya yang masih berdiri di pintu rumahnya.


"Ada apa Nak, kenapa kamu menangis?" tanya Rossa.

__ADS_1


"Aku ingin bicara dengan Om dan Tante," ucap Alya.


Chandra yang melihat Alya dari balik pohon didepan rumah keluarga Broto itu mulai merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang besar.


"Ya Allah, jangan sampai Alya bicara pada mereka," ucap Chandra didalam hatinya.


"Bicara apa, ayo masuk Nak," ucap Broto.


"Didalam ramai orang-orang, apa bisa kita bicara di tempat yang sepi?"


"Baiklah, mari bicara di taman."


Mereka pun membawa Alya ke taman yang ada di halaman depan rumahnya.


Diam-diam Chandra mengikuti mereka karena ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh Alya.


Dalam pikirannya, Chandra mengira Alya akan membatalkan pernikahan itu karena Alya memang mencintai Farhan.


Setibanya di taman yang sepi. Mereka duduk di kursi keluarga yang sengaja mereka siapkan untuk berkumpul dihari libur.


"Om, Tante, saya datang untuk memohon pada kalian."


"Apa maksud kamu?"


"Tolong jangan batalkan pernikahan Farhan dan kak Najwa." Air mata Alya mulai menetes lebih deras lagi.


"Kenapa Nak, apa ada masalah?"


"Jika di keluarga kami ada anak yang terlahir dari istri kedua, apa kalian akan terima?"


"Alya ada apa ini? Kami tidak mungkin membatalkan pernikahan ini."


"Meski aku terlahir dari istri kedua Papaku?"


"Alya kamu sedang membicarakan apa?" tanya Broto.


"Om, Tante, aku ini bukan anak kandung Ibu Chandra, aku terlahir dari pernikahan yang sembunyi-sembunyi tapi aku terlahir dari pernikahan yang sah. Selama ini Ibu Chandra memberikan namanya untukku demi menutupi aku yang menurut mereka hina. Tolong jangan batalkan pernikahan ini, aku janji aku akan pergi demi melindungi nama baik kalian tapi tolong jangan batalkan pernikahan ini. Kakakku sangat mencintai Farhan dan Ibuku juga sangat menginginkan pernikahan ini terjadi."


"Tapi aku mau pernikahan ini batal Alya!" ujar Farhan yang tiba-tiba datang."


Semua orang menoleh ke arah suara. Kedua orang tua Farhan terkejut mendengar perkataan Farhan.


Chandra yang dari tadi melihat dan mendengarkan pembicaraan mereka, ikut terkejut mendengarnya.


"Astaga," gumam Chandra.


"Apa maksud kamu Farhan? Pernikahan ini akan tetap terjadi meski keluarga mereka tak sempurna. Semua tidak akan merubah keputusan Papa."


"Dan kamu Nak, kamu tidak perlu pergi. Kami menerima keluarga kalian apa adanya," sambung Broto pada Alya.


Chandra tersenyum meski air mata masih membasahi pipinya. Dirinya merasa lega setelah mendengar perkataan Broto.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2