Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 65


__ADS_3

Di kamar Alya.


Chandra menangis sambil memeluk buku harian milik Alya.


Dalam buku itu tertulis banyak hal dan kisah yang Alya lewati semasa hidupnya. Hati wanita paruh baya itu sangat teriris saat membaca tulisan tangan Alya itu.


Selama ini tak pernah dia ketahui bahwa putri keduanya itu begitu menderita dengan sikapnya yang tak pernah menganggap Alya ada, ditambah lagi dengan penyakit yang dideritanya membuatnya semakin tersiksa.


"Aku memang Ibu yang tak berguna, aku adalah Ibu yang terburuk di dunia," gumamnya sembari terus memeluk buku itu.


Setelah beberapa saat, dirinya membuka lembaran selanjutnya, dia ingin tahu apa lagi yang ditulis Alya berikutnya! Tanpa sengaja dirinya menemukan sebuah anak kunci kecil yang terselip di dalam buku itu.


Chandra pun segera berjalan menuju lemari pakaian Alya. Yang dia lihat kemarin, di dalam lemari pakaian Alya ada sebuah kotak kecil yang terkunci rapat!


*******


Di pemakaman tempat Alya dimakamkan.


Farhan berjalan memasuki area pemakaman itu dengan membawa buket bunga yang terdiri dari bunga mawar merah dan mawar putih saja.


Sengaja dirinya datang sore itu ke makam Alya hanya untuk menemui kekasihnya yang sudah tiada.


Setibanya di samping makan Alya, Farhan berdiri sejenak sembari menatap tanah makan yang belum kering itu.


"Selamat sore Al, bagaimana hari mu sore ini?" ucapnya sembari merindukan badannya hingga akhirnya dia duduk di atas tanah merah itu.

__ADS_1


"Aku tahu sekarang kamu sedang menatapku dengan senyuman manis di bibirmu yang selalu kau suguhkan untukku. Inikah akhir kisah cinta kita?"


Bulir bening mulai meluncur dari pelupuk Farhan, dia meraih nisan yang bertuliskan nama Alya itu dan mengelusnya dengan lembut!


"Aku datang membawa bunga ini, lihatlah Alya. Mawar putih bunga kesukaan kamu kan dan mawar merah ini tanda cinta aku ke kamu ...." Farhan menghentikan ucapannya karena tak kuasa menahan tangisnya.


"Aku tidak tahu kenapa aku sangat lemah saat bersamamu Alya. Oh ya, tentang permintaan kamu, aku akan menikahi Najwa dan akan membahagiakan dia seperti yang kamu minta tapi itu nanti tidak dalam waktu dekat ini. Aku harap kamu mengerti, beri aku waktu sebentar saja."


Lama terdiam, hanya ada suara sedu sedan tangis seorang laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun itu.


Dalam sunyinya suasana pemakaman itu, tak membuat Farhan berkeinginan untuk cepat-cepat pergi dari sana.


Farhan masih betah duduk di samping makan yang belum sampai tujuh hari itu.


"Aku tidak tahu harus membutuhkan berapa lama untuk melupakan kenangan indah bersamamu dan mulai merangkai kisah dengan Najwa yang aku tahu kamu akan selalu ada dalam hatiku meski sampai kapanpun."


Chandra duduk di tepi ranjang dan mulai membuka kotak kecil itu!


Betapa terkejutnya ia saat melihat beberapa foto Alya yang diedit sedemikian rupa dibuat seolah seperti sedang dipeluk olehnya dan dimanja olehnya.


Seketika tangisnya pun kembali deras seiring dengan dirinya melihat beberapa foto itu.


"Anakku," gumam Chandra sembari terus melihat foto itu.


Setelah semua foto itu dilihatnya, dia melanjutkan melihat tumpukan kertas yang tersusun rapi didalam kotak kayu itu.

__ADS_1


Chandra semakin merasa sesak saat melihat lembaran kertas hasil pemeriksaan kesehatan Alya.


"Aku adalah Ibu yang paling jahat di dunia ini, aku tidak pantas dipanggil Ibu oleh siapapun."


Penyesalan kian mendera menyiksa batin perempuan paruh baya itu.


Kebenciannya terhadap perlakuan suaminya di masa lalu membuatnya buta dan tak pernah melihat semua kebaikan dan ketulusan seorang Alya ~ gadis yang dia rawat sejak dari lahir hingga sampai menutup matanya.


Kebenciannya membuat dirinya tak bisa menyayangi Alya meski dirinya tahu Alya tidak pernah tahu dan tidak salah apapun terhadapnya, kini setelah dirinya tahu dan membuka mata hatinya untuk Alya kesehatan untuk menebus kesalahannya pada Alya pun sudah tidak ada lagi.


Alya sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya, kini hanya ada penyesalan yang akan terus menyiksa dirinya sepanjang hidupnya.




SEBENARNYA.


sebagai manusia kita harus bisa memaafkan apa yang telah orang lain perbuat kepada kita agar tak menjadi penyesalan dihari kemudian.



Jika Allah saja maha pemaaf, kenapa kita yang hanya ciptaannya tidak bisa memaafkan sesama ciptaannya.


__ADS_1


INGAT.


Dendam tidak akan membuat hidup kita tenang justru dendam akan membuat hidup kita gelisah.


__ADS_2