Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 50


__ADS_3

"Pak, apa masih ada karyawan yang lembur di dalam?" tanya Najwa pada seorang Satpam yang berjaga di depan kantor Arka.


"Tidak ada Mbak, semua karyawan sudah pulang."


"Alya juga?"


"Iya Mbak, justru Mbak Alya tadi pulang lebih dulu karena ada keperluan lain katanya."


Najwa terdiam sembari memikirkan kemana Alya akan pergi.


"Oh, kalau gitu terimakasih ya. Saya langsung pamit ya. Permisi."


"Iya silahkan Mbak."


"Kemana Alya, apa mungkin dia ke kostan nya?" pikir Najwa.


"Sebaiknya aku temui Alya ke kostan nya," sambung Najwa lalu masuk ke dalam mobilnya.


**********


Di sebuah ruangan rawat di rumah sakit tempat Andrew bekerja.


"Kemarin kamu tidak datang untuk melakukan pengobatan lanjutan, ini akibatnya karena kamu tidak mengonsumsi obat selama satu hari," ucap Andrew pada Alya.


"Aku pikir aku akan mati hari ini," ucap Alya dengan suara lirih.


"Diamlah, kamu akan sembuh."


"Jangan menghiburku. Kamu sendiri yang bilang kemungkinan nya sangat tipis untuk aku sembuh."


"Ssst. Jangan bicara seperti itu. Sekarang aku harus bicara apa pada dua laki-laki yang membawamu ke sini."


"Aku tidak tahu, cari alasan yang tepat untuk tidak membuat mereka khawatir."


"Dari tadi mereka terus berdebat. Mereka berdua menyukai kamu. Seharusnya ada sedikit semangat untuk kamu sembuh dan memberi mereka harapan jangan putus asa seperti ini."


"Memang sudah tidak ada harapan kan?"


"Minum obatmu dan beristirahat di ranjang rumah sakit ini selama satu malam. Besok kamu boleh pulang."


"Andrew, apa istrimu ada, di sini?"


"Tidak ada, kenapa?" Andrew yang hendak keluar dari ruangan itu kembali menghadap Alya dan menjawab pertanyaannya.


"Tidak. Pergi saja kalau mau pergi."


"Ya baiklah tapi kalau ada yang mau kamu katakan atau kamu perlukan, kamu bisa bilang ke aku."

__ADS_1


"Tidak, ini urusan perempuan."


"Ya baiklah. Seharusnya kamu tahu kalau aku sudah menikah jadi sedikit banyak aku tahu urusan perempuan apa saja." Andrew pun langsung pergi setelah merasa tidak ada lagi yang ingin Alya katakan.


Alya yang terbaring dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya yang dia sendiri tidak tahu namanya apa dan fungsinya untuk apa hanya diam sembari menatap kepergian Dokter yang selama ini sudah menjadi sahabatnya.


Di luar ruangan itu.


"Dokter, apa yang terjadi pada Alya, apa dia baik-baik saja?" tanya Arka.


"Pasien baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sahut Andrew.


"Apa itu benar? Anda tidak menyembunyikan sesuatu dari kami kan?" ucap Farhan.


"Apa yang kamu bicarakan. Alya itu sahabat baik saya jadi saya tidak mungkin menyembunyikan apapun menyangkut keselamatan dia."


"Maaf Dokter, saya terlalu khawatir jadi saya–"


"Ya sudahlah. Jangan dibahas, semua orang pasti khawatir terhadap Alya termasuk saya juga. Kalau mau menemui Alya, silahkan dan kalau ada sesuatu atau yang terjadi pada Alya, segera panggil saya di ruangan saya."


"Baik. Terimakasih Dokter," ucap Arka.


Andrew langsung pergi meninggalkan dua pemuda itu dan setelah Dokter itu pergi, Arka dan Farhan mulai masuk ke ruangan rawat Alya!


Mereka berdua berdiri di samping Alya dengan mata yang terus tertuju pada gadis yang sedang terbaring sakit itu.


"Tidak perlu, Dokter yang menangani ku barusan adalah suami dari Dokter Wike. Dokter yang waktu itu kamu temui di rumah sakit tempat Ibuku dirawat."


"Alya, kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu sering pingsan tiba-tiba," ucap Arka.


"Tidak apa, aku hanya kelelahan jadinya aku pingsan."


Saat mereka sedang bicara, ponsel Arka berdering tanda adanya telpon masuk.


"Sebentar ya." Arka mengambil ponselnya dari saku celananya lalu melihat siapa yang menelponnya.


"Najwa," ucap Arka.


Arka menatap wajah Alya lalu kembali menatap layar ponselnya.


"Jangan diangkat," ucap Alya.


"Tapi kenapa?"


"Kakak gak boleh tahu aku ada di sini."


"Tapi Al, mereka pasti mengkhawatirkan kamu."

__ADS_1


"Kalau gitu terima saja telponnya lalu katakan Alya ada tugas ke luar kota bersamamu, agar mereka tidak khawatir pada Alya," ucap Farhan.


"Kalau gitu aku keluar dulu ya." Arka langsung berjalan keluar dari ruangan itu untuk menerima telpon dari Najwa!


Kini tinggal ada Farhan dan Alya saja didalam ruangan itu.


Farhan menggenggam tangan Alya dengan lembut. "Al, apa sebaiknya kamu berobat ke luar negeri saja? Agar kamu bisa sembuh," ucap Farhan.


Alya menatap Farhan dan membiarkan laki-laki itu tetap menggenggam tangannya.


Sebenarnya dirinya masih sangat mencintai Farhan tapi dirinya sendiri tidak mungkin bersama dengan Farhan karena waktunya di dunia ini sudah tidak lama lagi.


Selain itu, dirinya juga tidak ingin merusak kebahagiaan Ibunya dan juga kakaknya.


Najwa sangat mencintai Farhan dan Chandra juga sangat menginginkan mereka menikah.


Dengan kondisi seperti ini, Alya memilih membiarkan Najwa menikah dengan Farhan dan bahagia bersama.


"Tidak perlu, semua sudah terlambat. Setelah aku tiada nanti, tolong cintai dan bagaikan kak Najwa seperti kamu mencintaiku dan seperti kamu ingin membahagiakan aku."


"Aku tidak mau menuruti keinginan kamu, aku mau kita bahagia bersama."


"Farhan, aku mohon. Kamu sudah tahu semuanya, Dokter Wike sudah menjelaskan semuanya padamu kenapa kamu tidak mengerti juga."


Farhan kembali meneteskan air mata dihadapan Alya, dirinya tak kuasa menerima kenyataan hidupnya yang seperti ini.


"Aku tidak percaya pada mereka, aku yakin kamu bisa sembuh. Aku mohon Alya, turuti permintaan aku, berobat lah ke luar negeri agar kamu bisa sembuh. Pengobatan di sana sudah sangat canggih dan obat-obatan di sana juga bagus-bagus."


"Ibu dan kakakku akan tahu jika aku pergi ke luar negeri. Aku tidak mau membuat kak Najwa sedih."


"Najwa, Najwa, Najwa terus. Kenapa sih kamu selalu mementingkan kebahagiaan Najwa?"


"Karena hanya kak Najwa yang aku punya. Kamu tahu kan selama hidupku, aku hanya disayang oleh kak Najwa saja."


Cklek!


Suara pintu yang dibuka oleh seseorang dari luar.


Farhan langsung melepaskan tangannya yang sedang menggenggam tangan Alya lalu mengusap air matanya.


"Sesuai yang kamu minta Al, aku tidak mengatakan bahwa kamu sedang di rawat di rumah sakit. Katanya Najwa mencari kamu ke kantor dan juga ke kostan kamu tapi dia gak menemukan kamu jadinya dia menelpon aku karena katanya kamu tidak menerima telpon darinya padahal ponsel kamu aktif," jelas Arka.


"Ponsel, dimana ponselku?" ucap Alya.


"Sebentar, biar aku cari di mobil. Mungkin terjatuh di mobil," ucap Farhan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2