
Farhan dan keluarganya sudah berada di rumah sakit tempat Chandra dirawat.
Farhan membuka pintu ruangan yang didalamnya ada Chandra dan kedua anaknya.
Najwa dan Alya menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu yang terbuka.
Najwa segera beranjak dari duduknya lalu berhamburan memeluk Farhan!
Sementara itu, Alya hanya duduk dengan mulut yang tertutup rapat, sesekali dirinya menatap Najwa yang sedang mencurahkan kesedihannya pada Farhan.
Melihat itu, Chandra menggenggam tangan Alya dengan erat dan mengucapkan kata, "maaf."
Alya hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Chandra lalu mengusap punggung tangan Chandra yang dengan tangan yang satunya lagi.
"Kamu yang sabar. Jangan sedih, Ibumu pasti baik-baik saja," ucap Farhan.
Broto dan Rossa berjalan melewati Farhan dan Najwa yang masih berpelukan. Mereka mendekati Chandra yang tengah terbaring lemah dengan tubuh penuh luka.
"Bu, saya turut prihatin dengan kecelakaan yang Ibu Chandra alami," ucap Rossa.
"Terimakasih Bu, Pak sudah menyempatkan waktu untuk datang menjenguk saya," ucap Chandra lirih.
"Semoga cepat sembuh ya Bu."
"Alya, kamu yang sabar ya Nak," ucap Rossa sembari mengelus punggung Alya.
"Terimakasih Tante," ucap Alya dengan suara parau khas orang nangis.
Farhan dan Najwa berjalan menghampiri Chandra dengan berjalan berdampingan!
"Tante cepat sembuh ya," ucap Farhan.
"Terimakasih Nak."
Saat mereka sedang berdiri mengelilingi Chandra, datang seorang Dokter yang akan memeriksa kondisi perkembangan kesehatan Chandra.
"Permisi, saya mau memeriksa kondisi pasien dulu," ucap seorang Dokter perempuan.
Mereka semua menyingkir dan memberi tempat untuk Dokter itu memeriksa Chandra.
"Alya ...." Dokter itu menatap Alya dalam waktu yang lumayan lama.
"Dokter kenal dengan Alya?" tanya Najwa.
"Iya dia pasien–"
"Iya kak, kami saling kenal. Waktu itu aku mengantarkan orang yang pingsan di jalan dan dari situlah kami menjadi saling kenal," ucap Alya yang sengaja memotong perkataan Dokter itu.
"Oh ya."
__ADS_1
"Silahkan Dokter, periksa kondisi kesehatan Ibu saya," ucap Alya pada Dokter itu sembari menatapnya dengan tatapan aneh.
Dokter itu mengangguk lalu segera memeriksa kondisi Chandra.
Mereka semua duduk di sofa yang berada di sudut ruangan itu dan hanya menyisakan Dokter itu dan Alya saja di samping ranjang rumah sakit yang ditiduri oleh Chandra.
"Kondisinya sudah mulai membaik. Semoga cepat sembuh."
"Terimakasih Dokter," ucap Alya.
"Kalau gitu saya permisi dulu," ucap Dokter itu.
Setelah selesai memeriksa kondisi Chandra, tanpa banyak bicara lagi, Dokter itu langsung pergi meninggalkan ruangan itu!
"Kak aku mau ke luar sebentar ya. Aku titip Ibu ya," ucap Alya setelah Dokter itu keluar dari sana.
Najwa mengangguk dan Alya pun langsung ke luar dari sana.
Alya berlari mengejar Dokter yang baru saja memeriksa Ibunya itu!
"Dokter Wike!" seru Alya sembari berjalan cepat menghampiri Dokter itu.
"Alya, kamu masih punya keluarga? Aku pikir kamu gak punya keluarga karena kamu–"
"Dokter, aku mau bicara sebentar."
"Baiklah, ayo ikut ke ruangan aku."
"Semuanya, aku keluar sebentar ya, mau menelpon klien yang seharusnya meeting bersamaku pagi ini," ucap Farhan.
"Ya, silahkan."
Farhan pun langsung keluar dari ruangan itu!
Dia menatap kiri dan kanan untuk mencari Alya. Sebenarnya dia ingin mencari kesempatan untuk bisa bicara berdua dengan Alya.
Setelah dia melihat Alya yang sedang berjalan beriringan dengan Dokter itu Farhan pun langsung berlari mengejar mereka!
"Alya! Alya tunggu sebentar," ucap Farhan sembari terus berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Alya.
"Ada apa?" tanya Alya.
"Aku butuh penjelasan dan bukti atas semua yang kamu ucapkan tentang penyakit kamu. Jujur aku tidak percaya dengan semua ucapan kamu padaku tadi malam."
"Kalau gitu ikutlah denganku."
Setelah tiba di depan sebuah pintu, Dokter Wike membukanya dan mempersilahkan masuk pada Alya dan Farhan.
Mereka pun masuk dan langsung duduk di kursi yang berada di depan meja kerjanya Dokter Wike!
__ADS_1
"Siapa dia?" tanya Dokter Wike pada Alya.
"Calon suaminya kakakku," sahut Alya.
"Aku ada satu permintaan padamu Dokter."
"Apa? Katakan saja."
"Jangan katakan pada Ibu dan kakakku tentang penyakit aku ini."
"Dan kamu Han, kalau masih belum percaya dengan apa yang aku ucapkan. Ini Dokter Wike, suaminya yang menangani penyakit aku dan kalau kamu masih belum percaya. Silahkan kamu tanyakan apa yang ingin kamu ketahui pada Dokter Wike tapi setelah kamu tahu, aku mohon dengan sangat, tolong jangan beritahu Kak Najwa dan Ibu tentang semua yang terjadi dan yang aku alami ini," ucap Alya pada Farhan.
"Alya, kondisi kamu sudah semakin parah dan sangat sedikit kemungkinannya untuk bisa sembuh. Apa gak sebaiknya kamu beritahu keluarga kamu," ucap Dokter Wike.
"Sudah separah apa kondisinya Dokter?" tanya Farhan dengan suara halus.
"Tumor ganas di otaknya udah mencapai stadium akhir. Sebagai Dokter yang turut memantau kondisi Alya, saya dan tim menyatakan bahwa Alya tidak akan bertahan lebih lama lagi meski sebenarnya kami tidak memegang takdir hidup seseorang tapi melihat kondisinya, kami tidak bisa menjanjikan kesembuhan pada Alya. Dalam kondisi seperti ini kita hanya bisa berdoa dan berharap adanya keajaiban dari Tuhan," ucap Dokter Wike panjang lebar.
"Tidak mungkin. Saya melihat Alya baik-baik saja selama ini."
"Itulah kelebihan gadis yang sekarang duduk di samping kamu. Dia kuat dan tegar menghadapi kenyataan hidupnya."
"Alya, disisa waktumu, izinkan aku bersamamu menemani hari-harimu," ucap Farhan dengan air mata yang mulai keluar dari sudut matanya.
"Aku akan bahagia jika kamu menikahi kak Najwa."
"Dalam keadaan seperti ini kamu masih saja keras kepala dan terus saja mementingkan kebahagiaan kakakmu dsn juga Ibumu itu."
"Aku tidak punya pilihan lain, Farhan."
"Punya. Kamu punya pilihan hanya saja kamu terlalu takut untuk memilih. Aku mohon Alya, aku sangat mencintai kamu."
Alya menggelengkan kepalanya, air matanya mulai keluar dengan derasnya.
"Kalau boleh aku kasih saran. Ada baiknya kamu hidup dengan orang yang kamu cintai Alya, agar kamu bisa lebih bahagia dan proses penyembuhan penyakit kamu juga akan berkembang lebih baik saat kamu merasa bahagia," ucap Dokter Wike.
"Kalian tidak tahu apa-apa tentang diriku dan keluargaku. Biarkan aku mati dengan tenang dengan tanpa meninggalkan orang-orang yang mencintai dan menyayangiku biarkan orang tidak merasa kehilanganku saat aku benar-benar pergi."
"Ssst." Farhan meletakkan jari telunjuknya di bibir Alya.
"Jangan bicara seperti itu. Kamu akan sembuh, Dokter akan melakukan yang terbaik untuk kamu. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu," ucap Farhan dengan suara yang hampir berbisik karena terlalu sedih.
Dokter Wike meneteskan air mata melihat dua orang yang saling mencintai itu menangis. Dirinya tak tahu apa masalah diantara mereka tapi melihat mereka, dirinya ikut sedih seolah ikut merasakan apa yang Alya dan Farhan rasakan.
"Aku janji akan melakukan yang terbaik lagi untuk kesembuhan kamu Al, suamiku akan berusaha lebih lagi untuk membantu penyembuhan penyakit kamu."
"Terimakasih Dokter, tapi aku rasa kalian tidak usah membuang-buang waktu dan tenaga untuk aku lagi. Aku rasa, aku sudah tidak memiliki harapan lagi."
"Dokter tolong lakukan yang terbaik untuk Alya. Berapapun biayanya akan aku bayar."
__ADS_1
"Ini bukan soal biaya. Selama ini Alya tidak bermasalah dengan biaya hanya saja penyakit yang sudah terlambat ditangani ini terlalu sulit untuk disembuhkan."
Bersambung