
Di tengah hamparan rerumputan, dibawah pohon besar dan rindang, Alya duduk dengan pipi yang sudah banjir dengan air mata.
Dia menangis terisak sambil memeluk kakinya.
Dibelakang Alya, tanpa Alya ketahui dari tadi Farhan berdiri sambil memperhatikannya.
Farhan sengaja tak langsung menghampiri Alya karena dia tahu, Alya butuh waktu sendiri untuk meluapkan amarah dan keluh kesahnya.
Setelah tangis Alya mulai mereda, perlahan Farhan berjalan menghampiri Alya! Dia duduk di samping Alya namun tidak mengatakan sesuatu apa pun padanya.
Alya mengusap air matanya lalu menatap Farhan.
Farhan tersenyum tipis lalu meraih tangan Alya! Digenggamnya tangan Alya dengan lembut lalu mulai berbicara.
"Ada apa? Kenapa menangis di sini?"
Alya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kalau tidak kenapa-kenapa, kenapa kamu menangis?"
"Orang nangis gak harus ada masalah atau luka. Ada kalanya orang menangis untuk mencari ketenangan batinnya."
"Kamu gak tenang karena sebentar lagi aku akan menikah dengan kakakmu?"
"Sama sekali tidak."
"Katakan saja kalau kamu mencintai aku."
"Tidak Farhan, aku sudah tidak mencintai kamu lagi karena kamu cuma milik kak Najwa."
"Kamu bohong. Bibir kamu berkata tidak tapi sorot matamu mengatakan bahwa kamu mencintai aku, kamu masih sangat mencintai aku. Ayo kita ungkap kebenaran ini Al, lagipula aku tidak akan pernah bisa hidup dengan orang yang tidak aku cintai."
"Jangan gila kamu Han, pernikahan kalian sudah ditetapkan dan semua persiapannya sudah hampir rampung."
"Tapi aku tidak mau menikahi Najwa, aku mau nikah sama kamu."
Air mata Alya kembali meluncur di pipi mulusnya.
"Aku bukan anak kandung Ibu. Aku terlahir dari istri kedua Ayahku. Selama ini Ibu tidak pernah menyayangiku seperti dia menyayangi Kak Najwa karena dia selalu membenci Ibuku dan dia ingin aku menebus semua kesalahan Ibuku dimasa lalu jadi tolong mengertilah Farhan. Aku gak mau membuat Ibu semakin benci padaku, aku sayang pada Bu Chandra meski kenyataannya dia bukanlah Ibu kandung aku."
Farhan terdiam setelah mendengar pernyataan dari Alya.
"Selama ini kehidupan kami tidak seperti yang kalian lihat. Ibu tidak pernah menyayangi aku, dia selalu membenci aku, dia gak pernah perduli padaku. Selama ini jangankan perhatian, senyum pun tak pernah dia berikan untuk aku. Sedari kecil aku hidup bersama Mbok Darti karena itulah aku lebih dekat dengannya dibandingkan dengan Ibu tapi meski begitu, aku tetap sayang dan akan selalu menghormati Ibu Chandra karena tanpa dia mungkin aku gak akan hidup sampai sekarang ini."
"Tapi Al, kamu juga berhak bahagia. Kamu boleh memilih apa yang ingin kamu jalani. Kita saling mencintai, apa salahnya kalau kita bersatu dalam ikatan tali pernikahan. Ayolah Alya."
"Farhan, aku mohon ... lupakan semua tentang kita, anggap kita tidak pernah kenal."
__ADS_1
"Aku mencintai kamu, demi Allah aku akan terus mencintai kamu."
*******
Di kediaman Chandra.
"Mbok, saya mau pergi sebentar tolong sesekali periksa Najwa di kamarnya ya. Dia masih gak enak badan katanya," ucap Chandra.
"Baik Bu."
"Oh ya, jangan lupa ingatkan dia untuk minum obatnya ya."
"Iya Bu."
Chandra langsung pergi dari rumahnya dan membiarkan Najwa dijaga oleh Mbok Darti.
Setelah Chandra pergi Mbok Darti langsung berjalan ke kamar Najwa untuk memastikan keadaan Najwa di sana!
"Mbok, ada apa?" tanya Najwa.
"Mbok cuma mau melihat keadaan Mbak Najwa aja. Ibu yang menyuruh Mbok selalu memantau Mbak Najwa karena kayanya Mbak masih sakit."
"Oh, aku udah baik-baik aja kok Mbok. Sini Mbok duduk."
"Terimakasih Mbak." Mbok Darti pun duduk di samping Najwa.
"Gak mungkin mau Mbak, mungkin kalau Ibu yang ngajak Non Alya pulang, Non Alya mau balik lagi ke rumah ini."
"Aku sudah meminta Ibu agar menjemput Alya tapi Ibu gak mau dan kayanya sampai Alya bisa mengembalikan Ayah, baru Ibu mau memaafkan Alya dan mengajak Alya tinggal di sini."
"Astaghfirullah."
"Kenapa ya Mbok, keluarga ini jadi berantakan seperti ini padahal dulu tidak. Dari dulu Ibu memang membenci Alya tapu gak sampai mengusir Alya dari sini tapi sekarang ...." Najwa mulai menangis.
"Sabar Mbak, ada saatnya nanti keluarga ini akan bersatu lagi dengan kebahagiaan di dalamnya."
"Amin."
**********
"Ada yang lihat Alya gak?" tanya Arka pada karyawannya yang sedang mengobrol di area kantornya.
"Nggak Pak."
"Kemana dia?" gumam Arka.
Arka melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima puluh menit namun Alya belum kembali lagi.
__ADS_1
Memang tadi sebelum pergi, Alya meminta izin padanya dan mengatakan mungkin Alya akan kembali ke kantor sedikit telat tapi entah kenapa Arka merasa Alya sudah pergi lama.
"Apa aku kangen sama Alya?" ucap Arka didalam hatinya.
"Ah gak mungkin, ngapain aku kangen sama Alya? Pacar bukan, istri bukan," sambung Arka lagi.
**********
"Jujur sama aku Al, kamu mencintai aku kan."
"Farhan tolong jangan tanya aku tentang ini."
"Kamu selalu menghindari aku. Aku tahu sebenarnya kamu sakit kan melihat aku sama Najwa. Aku mencintai kamu Alya."
"Aku mau kamu menikah sama kak Najwa."
"Kenapa kamu mau mengorbankan kebahagiaan kamu demi Najwa dan Ibu Chandra?"
"Aku mau Ibu memaafkan Ibu kandung aku dan juga Ayahku. Aku tidak berharap bisa tinggal sama mereka lagi yang aku mau cuma Ibu memaafkan mereka yang sudah tiada."
"Tapi gak dengan cara seperti ini Al."
"Cuma ini caranya karena Ibu yang meminta padaku untuk membiarkan kalian menikah. Ibu yang meminta aku menjauhi kamu demi kak Najwa. Tolong jangan lagi kamu bahas tentang cinta kita yang gak akan pernah bersatu ini sampai kapanpun aku gak akan menerima cinta kamu lagi."
"Jika Bu Chandra meminta kita menikah, apa kamu mau menikah dengan aku?"
"Itu tidak akan terjadi."
"Itu akan terjadi. Aku akan bicara padanya dan mengatakan semuanya."
"Jangan. Jangan Farhan, kamu jangan gila ya."
"Aku emang sudah gila Al, gila karena cintamu. Kamu tahu gak, aku cemburu melihat kamu dekat sama bos kamu itu.
"Tidak ada apa-apa diantara kami hanya ada hubungan antara bos dan karyawannya gak lebih dari itu."
"Tapi Arka mencintai kamu."
"Itu cuma prasangka kamu aja lagipula kita tidak ada hubungan apa-apa lagi jadi kalau pun Pak Arka mencintai aku, tidak ada alasan untuk aku menolaknya."
"Gak boleh. Kamu cuma milik aku dan hanya boleh menjadi milik aku selamanya."
"Kamu jangan egois ya Farhan."
"Kamu yang egois Al, kamu suruh aku nikah sama Najwa padahal kamu sendiri tahu aku tidak mencintai dia."
Bersambung
__ADS_1