Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 58


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Kini kehidupan Alya menjadi lebih berwarna sejak Chandra mulai menyayanginya namun, bersamaan dengan itu, penyakit dideritanya semakin parah dan semakin menggerogoti tubuhnya dengan ganasnya.


Saat ini mereka sudah siap untuk pulang dari rumah sakit karena kondisi Chandra sudah pulih dan tidak perlu dipantau oleh Dokter lagi.


"Aku senang karena Ibu bisa pulang hari ini," ucap Najwa.


"Ya, aku juga senang," sambung Alya.


"Kalian anak-anak Ibu yang baik yang sangat perhatian sama Ibu. Terimakasih ya," ucap Chandra.


"Kenapa Ibu berterimakasih pada anakmu sendiri? Bukankah sudah kewajiban seorang anak untuk menjaga dan merawat Ibunya kan?" ucap Alya.


Chandra tersenyum lalu beberapa detik kemudian air matanya menetes dari pelupuknya. "Ibu sudah begitu jahat padamu Nak, tapi kamu tetap menyayangi Ibu seperti ini."


"Ibu, aku sudah bilang lupakan yang sudah terjadi, aku bahagia karena sekarang sudah mendapatkan Ibu. Mari kita jalani hidup baru, aku tidak mau mengingat masa lalu karena masa itu tidak akan pernah kembali meski kita sangat menyesalinya."


"Alya, kamu memang adikku yang paling baik, pengertian dan sangat bijaksana. Kakak bangga punya adik seperti kamu."


"Aku juga bangga punya kakak yang baik, cantik, perhatian dan bijaksana seperti kakak. Oh ya satu lagi, kakak cerewet, bawel dan suka memaksa tapi aku senang punya kakak seperti kak Najwa."


"Kamu juga keras kepala dan suka ingin menang sendiri selain itu kamu juga cengeng. Sedikit-sedikit nangis, apa-apa nangis."


Chandra tersenyum dengan air matanya yang masih mengalir di pipinya, ternyata selama ini kedua putrinya memiliki sifat yang sama, ternyata mereka begitu dekat dan sangat menyayangi satu sama lain.


"Ibu macam apa aku ini? Aku tidak tahu bahwa kedua putriku sangat dekat bahkan mereka saling menguatkan satu sama lain," ucap Chandra didalam hatinya.


"Semuanya, sudah siap untuk pulang," ucap Farhan yang baru tiba di ruangan itu.


"Sudah tapi kami sudah dijemput," ucap Najwa.


"Siapa yang jemput?"


"Mas Arman yang menjemput kami. Sebentar lagi juga dia datang," ucap Alya.


"Daripada nunggu lama, mending pulang sama aku aja."


"Alya, lebih baik kamu pulang sama Farhan biar Ibu dan kakakmu menunggu Arman di sini."


"Tidak Bu, kalau pun harus ada yang pulang sama Farhan, itu bukan aku tapi kak Najwa. Kak Najwa saja yang pulang sama Farhan dan aku bersama Ibu yang menunggu Mas Arman."


"Alya, kamu gak baik lho menolak perintah Ibu. Ayo pulang sana biar kakak sama Ibu."


"Maaf kak, untuk ini aku gak bisa. Maaf Bu, aku gak bisa menuruti permintaan Ibu."


"Ya sudah, jangan berdebat. Tante apa boleh aku menemani kalian di sini sembari menunggu sopir kalian datang?"

__ADS_1


"Silahkan Nak. Maaf ya, anak-anak Tante menang keras kepala. Mereka selalu saja seperti ini."


"Tidak apa-apa Tante. Aku biasa menghadapi mereka berdua."


**********


Di sebuah jalan.


Tiba-tiba Arman menghentikan mobilnya karena ada yang aneh dengan mobil yang dikemudikannya itu.


Dia turun dari mobilnya lalu memeriksa ban mobilnya!


"Hmmm sudah saya duga ternyata bannya kempes," ucap Arman.


"Kamu tuh kebiasaan tahu gak? Setiap saya lagi buru-buru selalu ada saja yang kamu lakukan agar saya terlambat datang," ucapnya lagi sambil menatap mobilnya penuh amarah.


"Yah nginjak paku nih mobil. Mana gak ada bengkel lagi di sekitar sini," gerutu Arman.


Arman pun mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu menelpon Najwa.


[Halo Mbak Najwa. Ini saya mau ngabarin kalau saya pasti datang terlambat karena ban mobilnya kempes. Saya harus cari tukang tambal ban dulu.]


Tanpa basa-basi setelah Najwa menerima telponnya, Arman langsung mengatakan apa yang ingin ia katakan.


[Kalau gitu kami akan pulang naik taksi saja. Mas Arman urus aja mobilnya.] ucap Najwa dari sebrang telpon.


Setelah Arman berucap, telponnya langsung terputus. Najwa mematikan sambungan telponnya tanpa berkata sesuatu apa pun lagi padanya.


"Mbak Najwa marah kali ya? Tumben dia matiin telpon gak bilang-bilang. Ah tapi bodo amat deh, mau gimana lagi orang mobilnya bermasalah."


**********


Di rumah sakit.l tepatnya di ruangan Dokter Wike.


"Mas, aku khawatir dengan Alya," ucap Wike pada Andrew.


"Bagaimana hasil pemeriksaan Alya terakhir kali?"


"Tidak ada perubahan, rumornya semakin membesar dan mulai ...."


"Kita akan meminta Alya berobat ke luar negeri saja. Di sana peralatannya lebih canggih dari yang kita punya di sini."


"Aku sudah menyuruhnya tapi dia tidak mau."


"Kenapa dia tidak mau? Bukankah ini demi kesembuhannya."


"Dia masih merahasiakan penyakitnya dari keluarganya."

__ADS_1


"Berapa persen kemungkinan dia bisa sembuh?"


"Mas, kamu tahu Alya sudah sangat mem ...." Wike menghentikan perkataannya yang belum selesai.


"Aku rasa kamu tahu seperti apa kondisi Alya sekarang," sambung Wike.


"Kita akan bicara padanya sekarang."


"Ibunya akan pulang hari ini, dia pasti lebih mementingkan Ibunya."


"Jadi Ibunya Alya sudah bisa pulang?"


"Ya, mungkin mulai hari ini kita tidak bisa memantau Alya lagi." Wike yang sudah menganggap Alya seperti adiknya sendiri merasa khawatir dengan kesehatan Alya.


"Kita harus cari cara agar Alya mau berobat di luar negeri, kita tidak boleh membiarkan Alya seperti ini terus."


Di ruangan Chandra dirawat.


"Arman bilang mobilnya mengalami pecah ban jadi dia tidak bisa datang. Sebenarnya tadi Arman bilang kalau dia akan datang terlambat tapi aku memintanya untuk tidak datang karena kita akan pulang dengan menggunakan taksi," jelas Najwa.


"Kalau gitu pulang naik mobil aku aja," ucap Farhan.


"Ya udah ayo kita pulang. Kasian Ibu," ucap Alya.


Mereka pun berjalan keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju mobil Farhan yang diparkirkan didepan rumah sakit itu!


Setibanya didepan mobil Farhan, Najwa membuka pintu belakang mobilnya dan meminta Chandra masuk lebih dulu!


"Alya, kamu didepan sama Farhan ya," ucap Najwa pada Alya.


"Aku mau sama Ibu saja kak."


"Aku yang duduk sama Ibu, kamu didepan."


"Jangan ribut terus, kalian bisa kan duduk di bangku belakang bertiga? Biar adil Tante Chandra duduk di tengah dan kalian di samping kiri dan kanannya," ucap Farhan yang sudah duduk di bangku kemudi.


"Ide bagus. Kak ayo kita masuk."


Najwa hanya mengerucutkan bibirnya karena merasa keinginannya tidak terkabulkan.


"Kak ayo masuk," ucap Alya yang sudah masuk ke dalam mobil itu.


"Iya-iya, aku masuk sekarang."


Setelah semua orang masuk ke dalam mobil, Farhan pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang!


Sepanjang perjalanan, tidak ada sedikitpun pembicaraan didalam mobil itu. Mereka semua terus fokus pada pemikirannya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2