Peluk Aku, Ibu

Peluk Aku, Ibu
bab 57


__ADS_3

Alya segera meraih kertas itu dari tangan Chandra!


"Bu, ini bukan apa-apa. Ibu tidak usah baca," ucap Alya.


"Tapi itu apa, kenapa kamu sampai semarah itu saat melemparkan kertas ini?"


"Tidak Bu, ini cuma ungkapan hati Pak Arka aja yang aku pikir terlalu lebai jadi tadi aku lempar."


"Gak baik seperti itu Nak, selama ini kamu selalu menghargai orang lain tapi kenapa sekarang begini?"


"Maaf Tante, sebenarnya aku yang salah. Aku tahu kalau Alya gak suka diberi ucapan tapi aku tetap saja memberikan surat ucapan untuk Alya."


"Tidak ada yang salah Nak, mungkin Alya hanya sedikit lelah jadi dia bersikap seperti itu. Biasanya Alya tidak seperti itu, dia anak yang baik."


"Bu, kenapa Ibu keluar dari ruang rawat? Ibu masih harus istirahat total."


"Ibu mau nyari kamu karena kamu terlalu lama pergi dan lagi, Ibu merasa bosan berbaring terus di dalam. Ibu mau menghirup udara segar."


"Ya baiklah Bu, aku akan menemani Ibu jalan-jalan di sekitar taman ini tapi Ibu naik kursi roda ya."


"Karena Ibu mau ditemani oleh anak kedua Ibu, jadi Ibu mau naik kursi roda. Sesuai keinginan kamu."


"Tante, boleh aku temani juga?" ucap Arka.


"Ya, tentu saja tapi itu kalau Alya nya mau kalau Alya gak mau, Tante gak bisa maksa."


"Ya, boleh. Aku gak bisa mengusir bosku kan nanti yang ada aku dipecat lagi."


Arka tertawa kecil lalu mengambil alih kursi roda dari seorang perawat yang mengantarkan kursi roda itu untuk digunakan oleh Chandra.


"Aku yang dorong, kamu jalan di samping aku aja."


Alya tersenyum lalu membantu Chandra untuk duduk di kursi roda itu.


"Bu, jalan-jalannya sebentar saja ya karena sebentar lagi waktu maghrib tiba."


"Iya, iya sayang."


Arka pun mulai mendorong kursi roda itu dan mereka pun berjalan bersama mengelilingi taman itu.


Setelah berjalan sekitar lima menit, tiba-tiba Alya merasa sakit kepala.


Dia menghentikan langkahnya lalu memegangi kepalanya.


"Kenapa?" tanya Arka yang juga menghentikan langkahnya saat menyadari Alya sudah tertinggal beberapa langkah.


Chandra menoleh ke belakang dan menatap Alya.


"Kamu kenapa Alya?" tanyanya.


"Aku pusing Bu, mungkin karena aku lupa makan tadi siang," ucap Alya berbohong.


Arka yang sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alya mulai khawatir.

__ADS_1


"Kamu duduk aja dulu Al, aku beli minum sebentar di depan sana." Arka langsung berlari tanpa menunggu Alya berucap apapun!


"Kamu belum makan dari tadi siang?"


"Iya Bu, aku lupa."


"Lain kali jangan sampai telat makan lagi. Ibu gak mau kamu kenapa-napa."


"Iya Bu, kejadian ini tidak akan terulang lagi."


Di tempat lain di area rumah sakit itu.


"Kamu ke sini untuk menemui Alya?" tanya Najwa pada Farhan.


"Tidak. Aku datang untuk menjenguk tante Chandra lagipula aku tidak datang sendiri. Orang tuaku juga datang."


"Aku mau bicara sama kamu, sebentar saja."


"Bicara apa? Katakan saja."


"Tidak di sini. Ikuti aku." Najwa mulai berjalan ke tempat yang lebih sepi dan nyaman untuk bicara!


Farhan mengikuti Najwa dari belakang namun sebelum itu, dirinya meminta Mama dan Papanya menunggu di ruangan Chandra dirawat.


Setibanya di sebuah lorong rumah sakit yang jarang dilewati oleh orang-orang. Najwa duduk di kursi yang disiapkan khusus untuk menunggu pasien di luar ruangan rawat nya.


"Duduk Han, gak enak ngobrol sambil berdiri."


"Soal kamu dan Alya."


Farhan tak bersuara, dirinya hanya menatap Najwa dengan tatapan aneh.


"Kamu mencintai Alya?"


"Ya," sahut Farhan singkat.


Najwa tak langsung bicara, dia terdiam sejenak sambil menatap Farhan, sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.


"Aku dan Alya memang sudah berpacaran sejak kesalahpahaman kamu dan Ibu kamu terhadap kado yang aku kirimkan ke rumah kamu."


"Kenapa kamu gak bilang ini dari awal? Aku merasa kalau aku ini orang jahat tahu gak. Dengan bahagianya aku memamerkan kado yang sebenarnya bukan milik aku dan dengan begitu bangganya aku mengenalkan kamu sebagai calon suamiku pada semua orang tanpa aku sadari ternyata aku menyakiti hati adikku sendiri."


"Alya yang minta aku untuk merahasiakan hubungan kami, dia memaksa ku untuk mengiyakan semua perkataanmu dan juga Ibumu bahkan Alya memaksa ku untuk menikahi kamu."


"Kenapa Alya melakukan ini. Karena cinta aku ke kamu, aku jadi gak bisa melihat kalau ternyata adikku tersakiti dengan ini semua."


"Nanti kamu akan tahu apa alasan Alya melakukan ini."


"Kamu sudah tahu?"


"Tidak. Aku belum tahu."


Najwa melepaskan cincin tunangannya dari jari manisnya lalu memberikannya pada Farhan!

__ADS_1


"Ambil ini dan pakaikan cincin ini di jari Alya. Aku tidak berhak memakai cincin ini," ucap Najwa.


"Tapi Naj."


"Ambil saja. Aku memang mencintai kamu tapi rasa cinta aku terhadap Alya lebih besar dari cinta aku ke kamu."


Farhan terdiam, seketika dirinya mengingat perkataan Alya yang diucapkan padanya. Kata itu sama persis seperti yang dikatakan Alya padanya waktu itu.


"Kamu serius?"


"Ya, aku serius. Bahagiakan Lah adik aku itu karena aku cuma punya dia dan Ibu di dunia ini."


Farhan tersenyum.


"Ternyata kalian memang gadis yang baik yang sangat menyayangi satu sama lain," ucap Farhan didalam hatinya.


**********


"Sudah sore Bu, kita kembali ya," ucap Alya.


"Iya tapi bagaimana dengan kepala kamu. Masih pusing?"


"Tidak Bu, aku baik-baik saja."


"Kamu yakin Al?" tanya Arka.


"Ya, aku baik-baik saja kok."


"Ya udah kita masuk lagi ke ruangan Ibu nanti sekalian kamu periksa pada Dokter."


"Nggak usah Bu, aku udah gak apa-apa kok."


Arka pun langsung mendorong kursi roda yang diduduki oleh Chandra dan perlahan Alya mengikuti langkah Arka dari sampingnya!


Mereka pun mulai berjalan memasuki rumah sakit lagi!


**********


Di kantor polisi.


Dari dalam jeruji besi, Erlangga dan Ameera berteriak pada seorang sipir meminta untuk dikeluarkan dari penjara besi itu.


"Pak! Tolong keluarkan kami. Kami tidak bersalah!" ucap Ameera.


Petugas itu tak menghiraukan teriakan-teriakan Ameera dan suaminya itu. Mereka tidak bisa melakukan apa pun selama Najwa tidak menarik laporannya.


"Pak! Kami tidak bersalah. Mereka yang salah, mereka sudah menguasai harta kakak saya!" seru Ameera.


Pasangan suami istri itu terus merusuh dan terus nenangin. Mereka terus memohon agar dilepaskan dari penjara.


"Diam! Diam! Lu berdua bisa diam gak sih. Gue mau istirahat, gue mau tidur kenapa lu berdua selalu saja berisik," ucap salah satu napi yang satu ruangan bersama mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2