Pembalasan Hati Yang Hancur

Pembalasan Hati Yang Hancur
021.


__ADS_3

“LEPASKAN AKU...!!!” teriak Lucia.


“ini dimana kenapa gelap sekali..., siapapun tolong aku !!” teriaknya lagi.


“CK ! diamlah tant....,” tegur Evelyne kesal.


“Evelyne, kamu kenapa ada disini ? bukannya kamu masih di penjara ?” tanya Tante Lucia bingung.


“Bisa dong ...,” ucapnya sombong.


“Cih !!! masih sempatnya sombong...,” sindir salah satu anak buah Daddy Archie.


Evelyne mendelik tak suka, ia memikirkan cara agar bisa kabur dari sini sebelum ruang penyiksaan lusa malam. Apa yang harus ia lakukan, sedangkan tante Lucia terus saja berteriak dan memarahi anak buah Daddy Archie hingga membuat Jerry meminta untuk pisah tempat dengan kedua wanita gila itu.


“Tetaplah di sana, itu sudah baik untukmu !!” tegurnya lagi.


Jerry hanya bisa menahan kesal, ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang ini semua karena Evelyne yang menbuat rencananya berantakan, bukannya untung malah buntung.


Sedangkan mereka yang di mansion, sedang menunggu kabar dari Daddy Archie dan yang lainnya. Mommy Alica yang mendengar bahwa anak perempuannya tertembak sangat terpukul.


Ia sudah bersiap untuk menghampiri orang yang sudah membuat anaknya tertembak, tapi hal itu di tahan oleh Mami Emili. Karena para lelaki akan memberi hukuman yang lebih berat dari yang mereka lakukan terhadap mereka semua.


“Utuh-utuh adekna Kak Klaile lutuh tekali.....,” godanya.


“Adek bayi dangan nompol di kalpet mahal oma Alik ya, nanti pantatna di tampol,” ancamnya.


Baby Richard hanya merengek kecil seolah ia paham dengan ancaman kakaknya.


“Baby Icad, nanti kalau sudah besar jangan seperti Kakak Claire ya....” ucap Luna.


“tenapa atak ?” tanya Claire dan Clark penasaran.


“Karena kamu nakal...,” jawab Bella.


“iiiii, onti ni enda ada otakna.. ajalin By Icad enda bemolal “ ucapnya sinis.


“otak aunty di sini...,” tunjuknya ke kepalanya sendiri.


“Itu kelapa onty....,” pekik Claire


HAHAHAHAH mereka tertawa mendengar pekikan Claire yang menyebut kepala menjadi kelapa. Hal itu mmebuat Claire melengkungkan bibirnya ke bawah dan bersiap untuk menangis.

__ADS_1


Namun, mendengar suara Valencia, Claire mengubah mimiknya dengan mengadu jika Bella menganiaya dirinya. Bella mendengar itu mendelik tak terima, namun tetap saja Bella mengejek keponakannya hingga Baby Icad juga menangis.


“HAHAHA dekdek Icad seplekuenci dengan Klaile...,” ejeknya kepada sang Aunty Bella.


“Biarin... Wlekkk.. masih ada Clark teman aunty Bell,” ejeknya balik dan membuat Claire menangis sejadi-jadinya.


“Dasal cengeng !!!” ucap Clark yang sedang meminum susunya.


“Aduh....., bisa kalian diam sebentar !!!” ucapnya kesal.


“Mami !!!” teriak Rosse dan Luna bersamaan.


Mereka berdua memeluk Valencia dengan sangat erat, mereka berdua kira bahwa apa yang mereka lihat semalam adalah roh Valencia. Sungguh keduanya menangis rindu, mereka rindu dengan kedua orang tua angkatnya.


Hari ini mereka belum bertemu dengan Papi Cortie, keduanya juga terkejut melihat keberadaan keluarga yang mereka kira sudah meninggal itu muncul di sekitar mereka.


Akh betapa bahagianya mereka saat ini.


Kini mereka semua berkumpul di ruang keluarga, Luna dan Rosse sedang bercanda ria dengan Baby Icad dan juga kedua adik kembar mereka. Tak lama Cortie datang bersama Ardio beserta Aleysia dan Ara.


“Wah, Baby Icad.....” teriaknya


Ara berlari menghampiri Baby Icad yang tengah di gendong oleh Luna. Tak lupa ia mencuci kedua tangannya karena ia baru pulang dari sekolahnya. Sedangkan Luna dan Rosse, sudah meminta ijin kepada wali kelasnya untuk ijin beberapa hari karena ada masalah yang harus di selesaikan.


Oek oek...


HA HA HA 


Tawa mereka semua,  suasana di mansion sangat ramai karena  tangisa Baby Icad. Mommy Alica menanyakan keadaan Alice kepada Cortie dan Ardio. Cortie menceritakan bahwa Alice kehilangan banyak darah dan memerlukan tranfusi darah.


Mommy Alica baru menyadari bahwa wajah sang putra sangat pucat, apakah putranya baru saja melakukan tranfusi darah untuk adiknya ?


“Kamu istirahatlah, nak !” titah Mommy Alica.


Tak lupa ia meminta Valencia untuk menemani suaminya, sementara Baby Icad bisa mereka yang menjaga selagi bayi itu tidak menangis karena kehausan. Setelah kepergian kedua pasutri itu, Mommy Alica mengajak Aleysia untuk bergosip, karena ia butuh teman julid untuk sekarang ini.


Menjelang siang, semua orang sudah duduk di karpet yang di sediakan oleh para pekerja. Mereka semua akan makan di lantai beralaskan karpet, tetap pada peraturan sebelumnya, Mommy Alica meminta salah satu maid untuk memanggil Valencia untuk makan siang bersama.


Valencia yang baru selesai menidurkan Baby Icad meletakan bantal pembatas untuk putranya ia membaringkan putranya di sebelah Cortie yang sedang tertidur pulas.


TOK...TOK....TOK....

__ADS_1


“Iya sebentar...,” ucap Valencia sedikit berteriak.


“Sayang kamu di sini dulu, ya. Tidur sama papi dulu mami mau makan siang ke bawah, kamu jangan nakal okey...,” nasehatnya kepada Baby Icad.


Merasa sudah aman, Valencia berjalan menuju pintu kamar dan segera membukanya. Muncullah maid yang tengah berdiri di depan pintu, melihat majikannya ia mengajak Valencia untuk turun makan siang dan Valencia mengikutinya.


SKedatangan  Valencia tanpa seorang Cortie membuat Mommy bertanya kemana gerangan putra sulungnya dan ketika mendengar penjelasan Valencia, Mommy Alica melanjutkan makan siangnya.


Beberapa menit kemudian, Mommy Alica mengajak besannya untuk ke rumah sakit sembari membawa makan siang untuk suami-suami mereka. Sedangkan yang lain memilih tidur siang. Ardio mengajak  istri serta anaknya untuk pulang ke rumah, karena nanti sore kedua orang tuanya akan datang mengunjungi mereka.


Sepanjang perjalanan Mommy Alica menatap keluar jendela, entah apa yang ia rasakan saat ini. Hari ini, ia kehilangan mood untuk sekedar berbicara, mengajak Aleysia untuk julid bukannya senang ia malah merasa kesal karena Aleysia meninggalkannya untuk pergi tidur.


“Jeng, kita sudah sampai !” kejut Mami Emili.


Namun, sepertinya Mommy Alica tidak menanggapi panggilannya hingga ia menepuk keras bahu besannya dan benar saja Mommy Alica terkejut dan latah secara tiba-tiba.


“Kita sudah sampai ?” tanyanya.


“Iya kita sudah sampai....,” jawab Mami Emili.


Lalu keduanya pun turun dari mobil, sedang supir memilih parkir dan menunggu di sana. Ia juga bisa tidur sampai Nyonyanya kembali ke mobil lagi.


“Uh, panas sekali......” keluhnya.


“Woi, ambil kipas angin disini panas sekali..,” ucapnya kesal.


“Kalia berdua bisa diam tidak, kepalaku sakit, telingaku berdenyut mendengar teriakan kalian berdua,” ucap Jerry kesal.


Dari tadi mereka selalu berteriak, apa mereka tidak kasihan dengan tenggorokan yang sudah berapa jam di paksa berteriak seperti itu ? 


“tenanglah, aku ingin tidur siang..” ucap jerry dengan posisi duduk terikat.


“keadaan seperti ini kamu masih bisa tidur ?” tanya Evelyne tak percaya.


“Tidur lebih enak ketimbang kalian yang berteriak untuk bebas... toh malam nanti kita juga mati...” jawabnya pasrah.


“Tapi aku tidak ingin mati...!!!” teriak Evelyne histeris.


Sedangkan Jerry sudah bodoh amat, semenjak ia tahu kebenaran masalah yang sebenarnya terjadi  ia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Tidak ada gunanya untuk mengelak kebenaran jika buktinya sudah ada dan itu murni kesalahan kakeknya yang berkhianat dan ia juga merindukan kedua orang tuanya yang tidak tahu dimana keberadaannya dan itu semua karena kakeknya.


Ia berharap kakeknya cepat sadar dan mengatakan kepadanya, apa yang terjadi di masa lalu dan kenapa ia di jadikan alat balas dendam, kenapa kakeknya tidak membicarakan hal yang sebenarnya. Jerry menyesal sudah tak ada gunanya, jika ada kesempatan untuk hidup lebih baik lagi ia akan menggunakannya untuk sebaik-baiknya.

__ADS_1


“Apabila sebuah penyesalan merupakan sebuah pengalaman, maka hikmah adalah sebuah hal yang terkandung di dalamnya.”


“Menuruti emosi dan hawa nafsu hanya merugikan, dan penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima.”


__ADS_2