Pembalasan Hati Yang Hancur

Pembalasan Hati Yang Hancur
032.


__ADS_3

“Villia !!”


Merasa namanya di panggilpun, ia segera menoleh.


“Maaf siapa, ya ?” tanyanya sopan.


“Kamu nggak kenal aku ?” tanyanya bingung menatap Villia.


“Maaf aku nggak kenal siapa kamu,” jawab Villia sopan.


“Kamu anak angkatnya Mommy Ve, kan ?” ucapnya bertanya.


“Iya benar,” jawab Villia semakin bingung dengan wanita di hadapannya.


“Hai, kita kenalan lagi ya. Aku Laura kakak kandung Alina tunangannya Berto,” kenalnya.


Mendengar nama Alin dan Berto membuat Villia mengingat sesuatu,


“Ohhhhh, Anaknya Mama Ariana dan Papa Arga ! Wah, kamu darimana baru muncul, ‘Lau ?” tanya Villia heboh.


“He he he, aku mengunjungi mertuaku, ‘Vill “ jawabnya tersenyum.


“Ini anak kamu ?” tanya Laura terkejut.


“Iya, Lau. Ini anak aku,” jawab Villia tersenyum.


“Hai, Baby Montok !” pekik Laura heboh, tak lupa ia mencubit kecil pipi bakpao Icad.


“Gemes benar! Eh, ngomong - ngomong, namanya siapa, ‘ Vill ?” tanya Laura.


“Hallo Tante Laura, nama aku Richard panggil aja Baby Icad “ jawab Villia menirukan suara khas bayi.


“Hallo baby Icad,” sapa Laura.


“Anak kamu mana, ‘Lau ?” tanya Villia heran, tumben kedua bocil itu tidak ikut emak rempongnya ini.


“Tuh, di sana ! main sama anak kembarnya Pak Cortie,” tunjuknya.


“Main sama si kembar ?” tanya Villia bingung dan ia menoleh dimana anak kembarnya bermain.


“Iya Vill,” jawabnya.


Laura belum tahu jika yang ia maksud adalah anak kembar Villia atau Valencia dengan Cortie, karena yang Laura tahu Villia atau Valencia ini ditemukan kedua orang tua Berto waktu kecelakaan dan ia juga tidak tahu bahwa Villia istri dari pengusaha terkaya raya di Berlin, Jerman.


Villia dan Laura sedang asyik bergosip ria, tanpa sadar hari sudah semakin sore. Cortie yang baru sampai ditempat istrinya berada.


TING !!


Bunyi bell tanda pelanggan masuk.


Cortie mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang istrinya, sampai dimana ia melihat sang istri yang asyik berbicara dengan wanita yang di depannya. Terlihat Baby Icad tertidur di dalam gendongan sang istri, lalu si kembar kemana ? pikirnya.


“Sayang !!!” panggil Cortie.


“Mas, “


Laura pun menoleh kebelakang, betapa terkejutnya ia secara langsung melihat Cortie pengusaha kaya raya dan pemilik CC Group. Ia belum menyadari jika saat ini dirinya dilirik aneh oleh Villia maupun Cortie.


“Vill, ini suami kamu ?” tanyanya bengong.


“Iya, ‘Lau. Ini suami aku Mas Cortie “ jawabnya tersenyum.


“Buset ! Berarti kamu bagian dari keluarga Maxillie dan keluarga Gottlieb, !” seru Laura tak percaya.


“Iya, namaku Valencia Gottlieb “ jawabnya santai.


“Ck ck ck ini sih, keluarga terkaya !” seru Laura.


“ HA HA HA,”


Tawa mereka menggema, Cortie memanggil anak kembarnya lalu mengajak istri dan anaknya untuk pulang. Begitu juga dengan Laura dan anak - anaknya sudah di jemput oleh suami dari Laura.


Sepanjang jalan, Villia maupun Cortie tak ada yang membuka suaranya membuat Asisten Aaron merasa sangat kesal. Ia lalu memutarkan musik K-Pop dan bernyanyi dengan suara serak basah - basahnya.


“Huft macet, tumben di sini macet banget !” ucap Villia sambil melihat keluar jendela mobil.


Tatapan  Villia menajam melihat sosok yang ia kenal, seorang gadis berpakaian seragam tapi anehnya seragam itu penuh dengan darah. Ketika gadis itu menatap kedepan, TIBA - TIBA 


“LUNA !!!!” teriak Villia tiba - tiba.


Cortie dan Asisten Aaron terkejut dengan teriakan Villia.


“Mas, Luna mas Luna “ teriaknya lagi.


Villia memberikan Baby Icad di pangkuan Cortie dan bergegas keluar mobil menuju sosok gadis yang ia yakini adalah Luna anak angkatnya.


“Aaron, cari parkiran. CEPAT !!!” perintahnya.


Apa yang terjadi sebenarnya, mengapa istrinya meneriaki nama Luna. Setelah mendapatkan parkiran. Cortie keluar sambil menggendong Baby Icad untuk mencari istrinya berada.


Sedangkan di tempat lain,


“LUNA !!!” teriak Villia.


Mendengar namanya disebut Luna menoleh, ia melihat maminya berlari kearahnya.


“Mami....,” ucapnya lirih.


“Sayang, kamu kenapa ?” tanyanya ketika sudah di hadapan Luna yang menangis.


“Mami, Rosse mi.. tolong Rosse “ ucapnya lirih dan sesegukkan.


“Apa yang terjadi dengan kalian berdua, ‘Lun ?” tanya Villia panik.


“Hu hu hu, maafkan Luna mami. Luna nggak bisa jaga Rosse, hiks “ tangisnya pecah dan Luna masih menyalahkan dirinya.


“Ada apa Lun, bilang sama mami. Ada apa !!” bentaknya sambil menggoyangkan bahu Luna.


“Sayang, ada apa ? Luna seragam kamuu kenapa banyak darah ?” tanya Cortie panik.


“Rosse tertusuk benda tajam,” jawabnya lirih.


“APA ?!!” teriak Cortie dan Villia bersamaan dengan Baby Icad yang menangis karena terkejut.


“Cup . .cup sayang, “


“Lalu, Rosse dimana ?” tanya Villia khawatir.


“Di sana, “ ucap Luna dan berlari menghampiri Rosse.


“ROSSE !!!” teriak Villia.

__ADS_1


“Sayang, bangun nak !!” teriak Villia.


Cortie menghubungi Asisten Aaron untuk menjemput mereka di ujung jalan dan tak lupa ia menghubungi Dokter Anna.


Tak lama Asisten Aaron datang, Luna dan Rosse yang sudah tak sadarkan diri dibawa langsung menuju rumah sakit.


20 menit kemudian, tibalah mereka di rumah sakit, Dokter Anna dan rekannya sudah stand by dengan dua brangkar. Cortie meminta istrinya untuk membawa ketiganya pulang dengan diantar oleh Asisten Aaron. Awalnya Villia kekeh ingin menunggu kedua anaknya sadar, tapi karena ia membawa anak - anak akhirnya ia mau di minta pulang.


“Kabari aku mas perkembangan keduanya !!” pinta Villia.


“baiklah sayang,” ucap Cortie menenangkan istrinya.


Setelah kepergian Villia dan lainnya, Cortie menghubungi seseorang untuk mengecek rekaman CCTV di ujung jalan yang tak jauh dari tempat sekolahan Luna dan Rosse.


“Huft, semoga kalian baik - baik saja nak,” ucapnya khawatir.


Sudah dua jam, Cortie menunggu Dokter Anna dan lainnya keluar namun sampai saat ini belum satupun dari mereka yang keluar. Cortie menunggu harap - harap cemas.


Satu jam kemudian, seorang suster keluar dari ruangan dan terlihat sangat tergesa -gesa membuat Cortie berdiri.


“Apa yang terjadi ?” tanyanya cemas ketika suster sudah kembali dan akan masuk keruangan.


“Pasien kehilangan darah dan sekarang saya membawa beberapa kantong yang tersedia untuk pasien,” jawabnya cepat.


Cortie baru menyadari bahwa suster tersebut kembali membawa beberapa kantong darah, tapi siapa yang kehilangan darah ? pikirnya.


Saat ini ia belum bisa berpikir jernih, kepalanya sangat sakit dan juga ia sangat mengkhawatirkan kedua putrinya.


“Mas, bagaimana keadaan kedua putri kita ?” tanya Villia, ia juga datang tak sendirian.


Ada Papi Egind dan juga Daddy Archie yang mengikuti Villia.


“Apa yang terjadi ?” tanya Daddy Archie yang melihat putranya menangis.


“Salah satu dari mereka kehilangan banyak darah,” jawabnya sesegukkan.


“Lalu, stock darah ada ?” tanya Papi Egind dan Cortie hanya mengangguk.


Villia memeluk suaminya dan keduanya sama - sama berdoa untuk keselamatan kedua putri angkatnya. Sedangkan Papi Egind dan Daddy Archie sedang berusaha mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya, setelah mereka mendapat sedikit informasi dari Villia ketika mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit.


CEKLEK !!!


“Bagaimana keadaan cucu saya, ‘ Dok ?” tanya Daddy Archie.


“Keduanya baik - baik saja sekarang, tuan “ jawab Dokter Anna.


“Terima kasih dok, tolong keduanya pindahkan ke ruangan VVIP dan satu ruang ya “ pinta Daddy Archie.


“baik,tuan “ jawab Dokter Anna.


“Oh, ternyata begitu “ ucap Papi Egind.


“Ada apa ?” tanya Daddy Archie.


“Coba liatlah !” ucap Papi Egind


Daddy Archie melihat rekaman CCTV yang dikirim oleh anak buahnya, Cortie dan Villia tak mau ketinggalan keduanya ikut menonton.


“KURANG AJAR !!!”


“Dasar anak - anak bau kencur !!” ucap Villia marah.


Setelah tahu siapa yang membuat kedua anaknya dalam keadaan sekarat ini, Villia berencana untuk mendatangi sekolah itu esok hari.


Sedangkan di tempat lain,


“Aduh, nak. Jam segini baru pulang, apa kamu lembur ?” tanya Ibu Rania.


“Eh, ibu. Iya bu Tania lembur,” ucapnya sambil menyalami sang ibu.


“Tania lelah bu,” jawabnya pelan.


“Ada apa sayang ?” tanya Bu Rania.


“Tidak ada apa - apa bu. Oh ya bu, tadi Tania ketemu sama ayah !” ucapnya senang.


DEGH !!!


“Lalu ?” tanya Bu Rania pelan.


“Ayah bilang ayah akan jemput Tania, bu “ jawabnya.


“Jemput kemana ?”


“Tania nggak tahu, bu” jawabnya mengangkat bahu.


“Apa ayah menanyakan alamat kita ?” tanya Bu Rania khawatir.


“Sepertinya tidak, bu “


“Kamu jangan beritahu alamat kita dan tolong jangan temui ayahmu,” pinta Bu Rania.


“Tapi kenapa, bu ? Tania kangen ayah !!” ucapnya kesal.


“Tania ....,”


“Udah ya bu, pokoknya besok Tania akan ketemu ayah. Tania kangen ayah, kalau ibu nggak suka Tania akan ikut ayah !!” marahnya kepada Bu Rania.


Setelah mengucapkan itu semua, Tania meninggalkan ibunya yang memanggil dirinya. 


“Tania dengarkan ibu dulu, nak !!” panggil Bu Rania.


“Tania, dengarkan ibu dulu !!” panggilnya lagi, namun Tania tidak membukakan pintu kamarnya.


Ibu Rania terus saja mengetuk pintu kamar putrinya, berharap Tania mau membukakan pintu. Namun, sudah sejam tidak ada tanda - tanda Tania untuk keluar kamar.


“Ibu ....,” panggil Kania.


“Ibu ayo tidul di kamal, Kania tatut tidul tendili” ajaknya.


Ibu Rania ragu meninggalkan Tania, tapi ia harus menemani Kania untuk tidur. Mungkin besok ia akan kembali mengobrol dengan Tania anaknya.


Keesokan harinya, Ibu Rania sudah menunggu Tania dari jam 7 pagi berharap Tania akan keluar kamar.


Dengan Kania yang sedang makan di depan televisi sambil disuapin oleh Ibu Rania, sengaja ia membawa anaknya makan di ruang tamu, agar bisa melihat Tania dan segera menyelesaikan permasalahan yang semalam.


“Kakak mu jam segini tumben belum bangun,” ucap Bu Rania gelisah.


“Apa kakak kamu sakit ?” tanyanya lagi.


Seolah mengerti ucapan sang ibu, Kania pergi mengetuk pintu kamar kakaknya.

__ADS_1


TOK TOK TOK,


“Pelmisi atak Tania, ayo bangun tudah pagi ini. Nanti di patuk ayam lejeki atak Tania,” omelnya.


CEKLEK !!!


“Ih, ibu kamalnya ndak telkunci !” teriak Kania.


Mendengar itu, Ibu Rania mendatangi anak bungsunya dan tak lupa ia membuka pintu kamar Tania. Sepi itulah yang ia lihat, tempat tidur Tania sudah rapi.


“Apa Tania sudah berangkat kerja ? Bukannya ia kerja jam 9 ?” tanyanya gelisah.


Bu Rania pun masuk ke kamar Tania, hatinya berdebar ia takut anaknya pergi dengan mantan suaminya. Dengan cepat ia memeriksa lemari Tania,


DEGH !!!


“Nggak .. nggak mungkin !!” teriaknya tak terima.


“Tania .. Tania ... “Panggilnya.


Bu rania melupakan Kania yang melihat ibunya menangis,


“Tania hiks, jangan tinggalkan ibu nak.. hiks hiks “


“Tania ..!!” teriaknya frustasi.


Sedangkan di sisi lain,


“Ayah mana ya ?” gumamnya.


Sudah sejam Tania menunggu Ayahnya menjemput, tapi sampai sekarang Ayahnya belum juga menjemput dirinya.


“Ayah dimana ?” 


Tania sudah mengirim puluhan pesan dan juga panggilan, tapi tetap saja nomor ayahnya tidak aktif.


“Apa aku menunggu di tempat kerja aja ya ?” ucapnya.


“tapi kalau ayah datang nanti, gimana ?”


Tania sedang beradu pikiran antara meninggalkan tempat atau ia akan menunggu ayahnya di tempat kerja, karena sekarang sudah jam 8 pagi dan ia sudah 2 jam menunggu ayahnya yang tak kunjung muncul untuk menjemputnya.


Dengan membawa tas punggung miliknya, Tania memutuskan untuk pergi ketempat kerjanya. Tania berharap ayahnya akan menjemputnya di tempat kerja.


“Akh, ayah pasti jemput aku ketempat kerja. Nggak papa deh !” ucapnya tersenyum.


Tak tahukah Tania bahwa dirinya akan menjadi korban selanjutnya oleh ayah kandungnya dan ia dengan tega meninggalkan ibu serta adiknya demi seorang ayah yang bejat.


Hari ini, Villia ijin tak berangkat kerja karena ia ingin kesekolah kedua putri angkatnya sekalian meminta ijin untuk beberapa hari sampai kondisi keduanya pulih.


Sedangkan Cortie ia akan terlebih dahulu ke kantor, karena ada pekerjaan yang sangat penting untuk perusahaan jadilah Villia hanya berdua dengan Daddy Archie.


Di sekolah Luna dan Rosse, 


“Vale, Daddy akan pergi melihat - lihat kondisi sekolah dan kamu temuilah wali kelas Luna dan Rosse setelah itu, temui Daddy di ruang rapat sekolah !” perintah Daddy Archie.


“Baik Dad,” jawabnya patuh.


Keduanya keluar dari mobil dan menuju tempat masing - masing, Villia mendatangi kelas XI IPS 3, namun di jalan ia melihat salah satu siswa sedang memainkan bola basket sendirian. Tampak, siswa itu sedang bermain dengan emosi yang mana membuat Villia heran.


Namun, karena kedatangannya kesekolah ini sangat penting ia berjalan terus menuju kelas XI IPS 3.


TOK ... TOK ...


“Permisi,” ucap Villia.


Bu Windi yang sedang menjelaskan materi langsung menoleh ke arah pintu melihat kedatangan Villia, Bu Windi langsung meminta anak - anaknya untuk mengerjakan evaluasi di buku LKS.


Bu Windi langsung menghampiri Villia dan mengajaknya untuk ke ruang guru.


Di sinilah mereka berada, di ruangan Bu Windi menyediakan minuman dan makanan ringan.


“Silahkan, Bu Vale “ ucapnya sopan.


“Ha, baik bu” jawab Villia.


“Maaf Bu Windi, kedatangan saya kesini ingin meminta ijin kepada ibu, bahwa Rossed dan Luna beberapa hari kedepan tidak bisa masuk ke sekolah seperti biasa, karena semalam keduanya mengalami musibah dan sampai saat ini anak saya Rosse belum sadar dari komanya” tutur Villia.


“Ya, Tuhan. Bagaimana bisa terjadi bu ?” Tanya Bu Windi syok mendengar kedua muridnya mengalami musibah.


“Untuk jelasnya saya belum tahu bu, tapi untuk saat ini kami dari pihak keluarga masih mencari pelaku penyerangan anak saya,!” jawabnya tegas.


“Baik bu, nanti sepulang sekolah. Saya akan menjenguk Luna dan Rosse,” ucap Bu Windi.


“Silahkan,Bu “ jawab Villia tersenyum.


Setelah berbicara sedikit dengan Bu Windi, Villia pamit pergi untuk menemui Daddy Archie di ruang rapat sekolah.


Sedangkan di ruang rapat sekolah, Daddy Archie sedang berbincang dengan kepala sekolah SMA CC. Terlihat sekali kepala sekolah itu berbicara dengan sangat angkuh, tanpa ia tahu bahwa orang yang di hadapannya adalah pemilik SMA CC dan CC Group tempat suaminya bekerja.


CEKLEK !!!


Pintu terbuka, menampakkan sosok wanita cantik dengan plester yang masih tertempel di bawah matanya.


Kedua orang yang tengah berbicara itu menoleh kearah wanita yang masuk dengan santai, kemudian duduk di samping Daddy Archie.


“Apa kamu tidak sopan, masuk keruangan ini dan.........,”


“Apa saya harus sopan dengan anda ?!” sarkas Villia.


“Anda wanita tidak tahu tata krama !!” bentak Kepala Sekolah.


“Diamlah, kita akan membicarakan hal penting. Panggil ke lima orang ini” ucap Valencia memberikan secarik kertas yang di tulis Luna tadi malam.


Melihat nama - nama yan tertera membuat kepala sekolah itu protes, pasalnya ke lima orang ini adalah anak - anak berprestasi di SMA CC. Merasa di protes, Villia menatap Daddy Archie dan kepala sekolah yang mendengar permintaan Daddy Archie tetap menolak dan tak ingin memanggil ke lima muridnya.


“Maaf saya tidak bisa melakukan apa yang ibu dan bapak inginkan,” tolaknya.


“Anda menolak permintaan kami ?” tanya Villia serius.


“Kenapa saya harus takut menolak permintaan kalian ?” ucapnya angkuh.


“Apa anda mau sekolah ini, saya panggil pihak kepolisian karena anak - anak di sini sudah membuat kedua anak saya dalam keadaan sekarat ?” ancamnya penuh emosi.


“Siapa kamu berani memerintah dan mengancam saya ?!” bentaknya.


Merasa dirinya dan menantunya dibentak sedemikian rupa oleh kepala sekolah, mau tak mau Daddy Archie menghubungi pihak kepolisian dan juga putranya.


“Kita tunggu saja !!” sarkas Villia.


“KALIAN GILA YA “ bentaknya takut.

__ADS_1


“Semuanya bermula dari sikap anda yang angkuh dan sombong,” ucap Villia dan tersenyum.


__ADS_2