
“Uh, ini sudah siang. Aku lapar sekali,” keluhnya.
“Ya udah deh, aku makan di mansion utama siapa tahu ada makanan enak,” gumamnya.
Ningsih segera keluar dari kamarnya menuju mansion utama.
“Ningsih, sini bantuin kita dong !!” teriak maid bungsu 3 dan bungsu 2.
“Hish, aku mau ke mansion utama !!” teriaknya kesal dan ia langsung melanjutkan langkahnya melewati kebun anggur Valencia.
“Cih, mau ngapain Ningsih ke mansion utama ? Kan, bukan jadwalnya sekarang ? “ ucap maid bungsu 3 heran.
“Apa dia mau makan ya ? Kalo mau makan di dapur paviliun masih ada sayur tadi pagi !” imbuh maid bungsu 2.
“Wah, nggak bisa di biarin ini !” seru maid bungsu 3.
“Kalian berdua kenapa ?” tanya tukang kebun 1.
“Ini loh pak, si Ningsih nggak ada malunya !” ucap maid bungsu 2.
“Emang malunya kemana, ‘Mbak ?” tanya tukang kebun 2 yang baru saja memangkas rumput.
“Malunya hilang karena diputus uratnya,” celetuk maid bungsu 3.
“Ha, serius mbak ? Saya masih nggak paham,” ucapnya.
“Aduh pak, gimana jelasnya ya hanya anakmuda yang tahu,” celetuk maid bungsu 2.
“Jadi kami yang tua nggak boleh tahu dong, mbak ?” tanyanya.
“HA HA HA, terserah bapak saja “ ledek maid bungsu 3.
Sedangkan di sisi lain, Ningsih sedang makan 2 potong paha ayam goreng dengan santai ia mengangkat satu kakinya dan makan dengan tenang di meja makan. Karena suasana di mansion siang hari sedang sepi, jadilah ia berani mengobrak - abrik lemari di dapur dan kulkas.
“Ningsih, apa yang kamu lakukan !!” teriak maid sulung.
Namun, Ningsih menganggap angin lalu dan tetap memakan paha ayam yang ke 3. ia mengambil 2 potong lagi dengan santai ia makan tanpa tahu potong ayam goreng sudah habis di makannya.
Merasa Ningsih tidak mendengar ucapannya, maid sulung merebut satu potong paha ayam di tangan Ningsih. Hal itu justru membuat Ningsih marah dan ia melemparkan piring kaca tersebut kearah maid sulung.
PRANK !!!!
Bunyi piring kaca yang jatuh ke lantai dan pecahannya berhamburan, darah segar keluar dari pelipis dan kaki Baby Icad yang ternyata menyusul maid sulung yang akan mengambil dessert kesukaannya.
HUWAAAAAAA !!!
Tangisan Baby Icad dan juga suara pecahan piring kaca memenuhi ruang makan, yang mana sampai terdengar di taman samping dan ruang tengah. Semua orang yang mendengar tangisan Baby Icad segera berlari menuju ruang makan.
“Ada apa ini !!” teriak Cortie yang panik ketika mendengar suara putra bungsunya menangis.
“Richard !!!” teriak Valencia ketika darah segar keluar dari pelipis Baby Icad, begitu juga dengan Cortie dia panik melihat keadaan anaknya.
Cortie menatap Ningsih dan maid sulung bergantian dan, “ Kalian berdua temui saya di ruang tengah !!”.
Setelah itu, Cortie dan Valencia membawa Baby Icad keluar dari ruang makan untuk mengobati luka di pelipis putra mereka. Valencia meminta tolong maid bungsu 2 untuk mengambilkan obat P3K di laci meja dekat lemari kaca piala. Sedangkan Cortie sedang menyidang Ningsih dan juga maid sulung.
“Apa yang kalian lakukan tadi ?” tanyanya santai.
“Saya tadi lagi berberes tuan dan bibi ini memukul tuan muda karena tuan muda susah diatur,” fitnahnya.
“Bukan begitu tuan, saya tidak pernah kasar dengan anak - anak !” bantah maid sulung.
“Bohong tuan, bibi ini benaran melempar tuan muda dengan piring !” teriak Ningsih.
“Apa kamu yakin dengan ucapanmu ?” tanya Cortie mengitimidasi Ningsih.
“Iya be.. benar tuan “ jawabnya gugup.
“Kenapa kamu gugup ?” tanya Valencia kepada Ningsih.
“Saya nggak gugup hanya saja........,”
“Hanya saja apa ?” tanya Valencia.
“Kamu bilang kalau maid sulung memukul dan melempar piring kaca ke putra saya kan ?” tanya Cortie.
“Iya benar tuan,” jawabnya semangat.
Ningsih merasa senang tuannya percaya dengannya, ia melihat maid sulung dengan tersenyum penuh kemenangan.Namun senyumnya hilang ketika Cortie memintanya untuk melihat layar yang ada dibelakang mereka.
“Coba lihat di belakang kalian !” titah Cortie.
DEGH !!!
Terlihat di layar itu, Ningsih sedang makan dengan santainya dan ia juga mengambil 5 potong paha ayam yang seharusnya itu milik anak - anaknya. Tak lama, datanglah maid sulung bersama Baby Icad ke ruang makan. Terlihat jika maid sulung mengambil 1 potong paha ayam yang di tangan Ningsih dan terjadilah perdebatan antara keduanya sehingga Ningsih melempar piring kearah maid sulung namun, lemparannya meleset dan mengenai Baby Icad.
__ADS_1
“Jadi ada yang mau kamu sampaikan ?” tanya Cortie, sementara itu Valencia sangat emosi dan .... PLAK !!!
Tamparan pedas mengenai pipi Ningsih, sakit ? tentulah mana ada tamparan yang enak ! Valencia gitu loh :v
“Auh !!” ringisnya.
“Kamu ya, dibaikin malah ngelunjak !! Kalau bukan karena saya kasihan sama kamu malam itu, kamu udah saya biarkan dileceh oleh mereka !” teriak Cortie.
“Tamparan dari istri saya belum seberapa dengan kamu melempar piring kaca sampai mengenai putra kami !”
“Ingat, kamu tidak diperbolehkan untuk masuk ke mansion ini lagi !! Pergi !!” usir Cortie.
“Tapi tuan, kalau saya lapar bagaimana ?”
“Makan dibelakang !!” celetuk maid bungsu 2 dan 3.
Tentu saja celetukan dari kedua maid itu berhasil membuat Ningsih mendelik kesal.
“Bagus !!” kode Valencia kepada kedua maidnya.
“Tapi tuan, bukannya kita semua makan bersama kenapa sekarang malah kami para pekerja makan di belakang, itu tidak adil !!” protesnya.
“Loh, anda siapa ??” tanya Valencia.
Yang mana membuat Ningsih semakin membenci Valencia, ia menatap tajam Valencia seperti akan menerkam Valencia jika mereka lengah.
“Suka - suka tuan dan nyonyalah, mansion - masion mereka kok situ yang protes !” ejek maid bungsu 2.
“Seorang pekerja banyak maunya, bangun mbak tidurmu terlalu tinggi hati - hati pas jatuh nangessss !!” timpal maid bungsu 3 mengejek Ningsih.
Jika tuannya tidak ada Ningsih ingin sekali membungkam mulut kedua orang itu, sungguh hari ini ia sangat apes sekali.
“Sudah jelas ! jadi silahkan kembali bekerja !” titah Cortie.
Mereka semua kembali ketempatnya masing - masing menyisakan Cortie, Valencia dan Baby Icad yang tertidur di pangkuan sang mami.
Semenjak kejadian itu, Ningsih kesulitan untuk mendatangi mansion utama ia juga di awasi oleh maid bungsu 2 dan 3 sehingga ia kesulitan untuk kemana yang ia mau. Ia juga menjadi sangat malas bekerja, di otaknya hanyalah bagaimana caranya agar dirinya bisa masuk kembali ke mansion utama.
“Ck, ini udah dua minggu ! Nggak ada perubahan!!” teriaknya kesal.
Tanpa sengaja ia mendengar perbincangan dari rekannya mengenai acara keluarga lusa malam di mansion dan itu akan menjadi kesempatannya untuk menarik perhatian semua keluarga tuannya.
“Ning, kamu nggak gila kan ?” celetuk maid bungsu 2.
Membuat hayalan Ningsih hilang seketika, mendengar celetukan maid bungsu 2.
“Lah memang benar, kamu itu senyum - senyum sendiri atau jangan - jangan kamu punya rencana lain, ya !” tuduh maid bungsu 2.
“Apa - apan sih, kalau iya kenapa ? Masalah buat lo !” ketusnya.
Ningsih pergi meninggalkan maid bungsu 2, jengkel ? Oh, tentu. Khayalannya diterima baik oleh seluruh keluarga tuannya di ganggu begitu saja oleh maid bungsu 2, tentu membuatnya kesal dan badmood.
Sedangkan di sisi lain,
Baby Icad sekarang berada di kantor papinya, entah kenapa Cortie ingin sekali membawa putra bungsunya, sedangkan si kembar mereka memilih bermain bersama Kania dan kedua kakak angkatnya.
“Papi,” panggilnya.
Namun, Cortie tak mendengar panggilan sang anak karena fokus mengerjakan pekerjaan kantornya yang dibantu oleh Asisten Aaron.
“Dedek nda ada temenna,” curhat Baby Icad kepada mainan robotnya.
“Papi tibuk celingkuh, Um Lon duga tibuk. Ikat nda ada temenna noblol !” teriaknya.
“Siapa yang selingkuh !” teriak Valencia tiba - tiba.
Cortie dan Aaron sampai memalingkan fokus mereka ke sumber suara, terlebih lagi kedatangan Valencia, si kembar dan juga kadatangan Millie dan putranya membuat keduanya terkejut.
Bukan tak suka, tapi biasanya mereka akan memberitahukan terlebih dahulu agar salah satu dari mereka berdua bisa menjemput ke lobby.
“Baby, apa benar papi kamu selingkuh ?” tanya Valencia lembut kepada Baby Icad.
Baby Icad mengacungkan dua jempolnya dengan wajah marahnya. Melihat jawaban putranya membuat Cortie kelimpungan.
“Mas nggak selingkuh sayang, tanya Aaron. Mas kerja setiap hari, fokus banget !!” ucapnya panik dan langsung menghampiri istrinya.
“Kamu selingkuh juga, mas ?” tanya Millie curiga.
Sama paniknya dengan Cortie, Asisten Aaron menghampiri istri dan putranya.
“Nggak yang, mas nggak selingkuh “ rengeknya.
Sedangkan pelaku utama hanya diam dan menikmati susu kotak kebanggaannya bersama Claire dan Clark. Millie meletakan bayinya di karpet bulu dan meminta tolong Clark untuk menjaga Baby Roro sebentar.
Millie membantu kakak ipar sepupu menghidangkan makan siang, karena Valencia sengaja untuk menghindari mansion sebab dia tahu Ningsih akan berbuat sesuatu terhadapnya.
__ADS_1
Tanpa mereka semua sadari Valencia memasang CCTV di kamar Ningsih dan sekitaran paviliun, karena ia tak ingin kecolongan lagi dan membuat nyawa anaknya terancam.
“Ayo makan !” ajak Millie, sedangkan Valencia menyiapkan makan siang untuk Baby Icad.
Mereka semua duduk bersila di karpet bulu sebelahan dengan karpet bulu yang di tiduri Baby Roro.
Sedangkan di mansion, keluarga besar Cortie dan juga Valencia sudah berdatangan. Terlihat Mami Emili, Papi Egind dan Mommy Alica menggendong cucu - cucu mereka.
Semua para pekerja menyambut keluarga majikannya, termasuk Ningsih yang sudah siap dengan segala rencananya. Melihat keluarga besar tuannya, ia akan bersikap polos seperti biasanya.
“Selamat datang tuan dan nyonya besar berserta jajarannya !!” sambut mereka semua.
“Terima kasih !” balas Daddy Archie mewakili.
“Bagaimana keadaan kalian ?” tanya Papi Egind.
“Baik tuan,” jawab salah satu dari maid.
“Sepertinya ada maid baru ya” ucap Alice yang baru menyadari.
Merasa dirinya di singgung, Ningsih maju kedepan dan memperkenalkan dirinya kepada mereka semua dan ia di sambut hangat oleh keluarga tersebut, hal itu membuat Ningsih semakin bahagia saat dirinya diterima baik.
“Sudah kalian boleh bekerja kembali !” titah Mommy Alica.
“Baik nyonya,”
Semua maid membubarkan diri mereka masing - masing untuk melanjutkan pekerjaan mereka sedangkan Ningsih, ia mulai mencari perhatian majikannya dengan membantu membawakan ini dan itu.
“Maaf nyonya, bisa saya bantu bawakan ?” tanya Ningsih ramah.
“Oh, nggak ada mbak. Ini saya bisa bawakan sendiri,” ucapnya.
“Nggak papa, nyonya. Saya bantu !” seru Ningsih sedikit memaksa.
Melihat Ningsih memaksa ingin membantunya, dengan senang hati Alice menerima tawaran Ningsi dan langsung memberikan tas itu dan membawanya ke ruang keluarga yang terletak di tengah ruangan.
“BUGH !!”
“Oh, maaf Ning. Tasnya sangat berat tadinya aku sudah menolak bantuanmu tapi karena kamu memaksa jadi bukan salah saya ya,” ucap Alice.
“Letakan diruang keluarga yang berada ditengah ya !” ucapnya lagi dan meninggalkan Ningsih yang syok dengan tas keberatan itu.
“Ah, sial ! bukannya untuk malah bluntung !!” teriaknya kesal.
Bayangkan saja seberat apa tas yang dibawa Ningsih, mau tak mau Ningsih membawa tas itu dengan menyeret.
“Eh, tas itu jangan di seret !!” teriak Mommy Alica.
Membuat Ningsih terkejut dan langsung mengangkat tas tersebut, sungguh ini malah jadi hari sial untuknya. Di sisi lain, maid bungsu 2 dan maid sulung mentertawakan kebodohan Ningsih yang ingin mendapatkan perhatian dari majikan mereka.
“Ningsih .. ningsih, segitunya mau dapat perhatian dari keluarga besar majikan kita !” ejek maid bungsu 2.
“HA HA HA, kamu ini bisa saja. Ayo lanjut beres - beres !” ajak maid sulung.
“Ayo !!” ucapnya semangat.
“ini isinya apaan sih, berat banget !” ucapnya kesal.
Belum ada setengah perjalanan, keringat Ningsih sudah bercucuran sebesar biji jagung. Ia juga lelah berjalan sambil membawa tas besar dan berat itu. Menyesal ? Sudah terlambat ! Nikmatin saja hasilnya !.
“Mom, apa mommy lihat tas besar yang dibawakan oleh maid baru itu ?” tanya Alice yang baru selesai mandi.
“Belum tuh, mommy baru duduk di sini” ucapnya sambil menyalakan televisi.
“Huft, kemana dia ? Baby Al harus tidur dan ayunan besinya ada di tas yang dibawa maid itu !” ucap Alice kesal karena harus menunda bayinya untuk tidur.
Beruntung Luna dan Rosse mau menjaga keponakan mereka, sehingga ia masih bisa mandi sebentar dan menyusui anaknya sebelumdirinya merakit ayunan Baby Al.
Namun suddah satu jam setengah berlalu, belum ada tanda - tanda Ningsih datang hingga akhirnya ia melihat sang suami yang membawa tas besar tersebut ke ruang tengah.
“Dimana Ningsih, bang ?” tanya Alice kepada suaminya.
“Ningsih siapa ?” tanya Dokter Alden.
Pasalnya ia tidak mengenal siapa yang dimaksud istrinya, sedangkan ia baru datang dari rumah sakit karena ada hal yang mendesak dan ketika sampai di mansion ia melihat tas besar milik istrinya terletak di atas meja ruang tamu di depan, maka itu ia membawa tas tersebut, ia mengira istrinya tidak mampu membawanya karena berat.
“Ituloh maid baru dan kenapa tas ini bisa sama, abang ?” tanya Alice bingung.
“Loh yang, tas ini ada di atas meja di ruang tamu. Abang pikir kamu nggak mampu bawanya makanya di letakkan di ruang tamu depan “ jawab Dokter Alden sama bingung dengan istrinya.
“Nggak gitu bang, tadi Ningsih maksa buat bawain tas ini padalah aku udah nolak, karena tahu tasnya berat,” kekeh Alice.
“Ya sudah, Baby Al belum tidurkan ? Abang pergi rakitkan ayunan anak kita dulu..,” ucapnya sambil membawa tas tersebut ke kamar mereka.
“Ish, awas aja maid itu. Aku jadiin Frikadellen !” ucap Alice kesal dan ia langsung menghampiri anaknya di kamar Luna.
__ADS_1
Frikadellen adalah salah satu makanan tradisional Jerman yang berbentuk seperti perkedel asal Indonesia.
Tak terasa hari sudah semakin sore, semua karyawan CC Group bersiap untuk pulang karena hari ini mereka tidak lembur. Begitu juga dengan Cortie dan lainnya mereka bersiap untuk kembali kemansion.