
Keesokkan harinya, dikediaman Cortie dan Valencia didatangi oleh Tante Lucia yang marah besar karena Cortie dengan tega mengusir Evelyne dengan kasar semalam. Ia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Cortie terhadap Evelyne.
“Apa yang tante lakukan dimansionku ?” tanya Cortie dingin
“Apa yang kamu lakukan kepada Eve ?”tanya Tante Lucia balik tanpa menjawab pertanyaan Cortie
“Apa urusannya dengan tante ?” tanya Cortie dengan penuh penekanan.
“Tante tidak suka kamu melakukan hal kasar kepada Eve, dia wanita baik-baik. Tidak seperti istrimu “ ucap Tante Lucia tak terima.
“Tidak seperti saya ?Heh, orang baik-baik tidak akan menjadi pelakor di rumah tangga pria yang sudah beristri” ucap Valencia angkuh.
“Tante nggak mau tahu, kamu harus baikan dengan Eve” titahnya.
“Anda siapa mengatur suamiku seenak jidatmu. Apa anda tak pernah mengurusi suamimu sendiri dirumah ?” ucap Valen kesal.
“Jangan sok tahu kamu” bentak Tante Lucia.
“pergi dari sini, atau aku akan menjebloskan kamu ke penjara !!” ancam Cortie
Tak ada embel-embel tante baginya, Lucia adalah benalu di hubungan orangtuanya, sampai kini ia dendam melihat Lucia yang berlaga seolah ia nyonya segala nyonya.
“Cortie !!! apa yang kamu pikirkan. Aku ini tantemu” teriaknya tak suka.
Valencia menarik suaminya untuk pergi dari hadapan Lucia, ia malas berdebat dengan nenek ular. Lebih baik mengisi perut supaya kenyang daripada hilang nafsu melihat wajah ular.
Merasa dirinya diabaikan, Lucia memilih mengikuti kedua pasangan suami istri itu keruang makan.
Disinilah mereka berada, dimana semua orang berkumpul untuk sarapan, namun ketika mereka melihat tuannya tak datang sendirian memilih bodoh amat dan tetap duduk dikursi masing-masing. Lucia yang melihat maid dan pekerja lainnya ada dimeja makan segera mengusirnya.
“Apa-apaan ini, kalian para babu pergilah makan dibelakang. Jangan mengotori meja makan ini. Tempat ini tidak cocok untuk orang rendahan seperti kalian”. bentaknya
“Biarkan saja” itulah yang diucapkan mereka dalam hati.
Merasa dirinya tak dihormati, Lucia menarik mangkuk berisi sayuran ditangan Maid 3 pun langsung menyirami maid itu dengan kuah sayur yang masih panas, hingga membuat maid 3 menjerit kesakitan.
Valencia dan Cortie menahan amarah, namun karna Claire yang dekat dengan maid 3, dengan cepat melempar mangkuk saos pedas kemuka Lucia.
Prutttttt Pack !!!
PRANK!!!
AKHHHHH !!!!!SIALAN
Lucia teriak dan akan menampar Claire, namun Rosse dengan cepat melindungi Claire hingga ia yang terkena tamparan panas itu.
PLAK !!!
“PERGI DARI RUMAHKU ATAU KAU AKAN TAHU AKIBATNYA LUCIA” bentak Cortie.
“Anakmu yang sialan itu, membuat wajahku kepedasan.” ucapnya tak mau kalah, harga dirinya dipertaruhkan disini.
Valencia bangkit dari kursinya dan berjalan mengitari meja makan menghampiri Lucia. Wajah Valencia sangat menyeramkan kali ini.
“Apa yang kau lakukan disini ? kau datang seolah kau nyonya dimansion ini ! aku jadi yakin kalau kau ingin merebut harta dan warisan mas Cortie dan juga kedua orang tuanya”. ucapnya dingin hal itu membuat Lucia merinding.
“Aku tahu, kau, Eve dan Anna yang meracuniku sebulan lalu. Itu semua kau lakukan untuk membantu Eve menggantikan posisiku kan” ucapnya berbisik ditelinga Lucia.
“Kau tau keluargaku seperti apa, haha kau adalah seorang wanita yang berdrama seolah kau yang menolong kakek mertuaku dan agar bisa diangkat menjadi anaknya. Agar menjadi kaya dadakan bukan ?” ucap Valencia.
Auranya semakin dingin dan menakutkan, mengapa Valencia tahu tentang dirinya dimasa lalu. Apa ia tahu siapa keluarga aslinya ? bagaimana ini ia tak ingin ketahuan, jika ia maka dirinya akan dijebloskan kedalam penjara sedangkan orang tuanya juga akan terkena imbasnya.
Lucia memilih pergi daripada berurusan dengan Valencia dan juga Cortie.
“Uh, coba dari tadi pergi. Ganggu aja” ucapnya sembari menepuk tangannya.
“Bibi tidak apa-apa ?” tanya Valencia kepada maid 3
“hanya perih nyonya. Saya balik kekamar dulu nyonya.” pamitnya.
“Baiklah, nanti balik makan lagi bi” ingat Valencia.
“Baik, nyonya”
Kepergian maid 3, Valencia menatap anaknya.
“Rosse, apa ini sakit ?” tanya Valencia lembut.
Rosse menggelengkan kepalanya. Baginya ini hal biasa, dulu ia pernah disetrika badannya oleh ibu, tangannya dipukul menggunakan pemukul kasur dan masih banyak lagi. Valencia memeluk Rosse dan mengusap bahunya pelan.
“Sudah, jangan dinget lagi. Kamu aman disini. Yang nggak aman itu kalo dua ular ada di rumah hehe” candanya
__ADS_1
“Mami bisa aja. Adek, mamam dulu ya. Nenek itu sudah pergi” jawabnya dan beralih melihat sang adik yang ketakutan.
“Benel udah pelgi ?” tanyanya lirih.
“Iya sayang” jawab Valencia dan Rosse serentak
“Aman dek, nenet dahat tudah pelgi. Mali tita makan” ajak Clark
Semuanyapun makan dengan tenang tak lupa berdoa seperti biasa, sedangkan maid 3 sudah kembali duduk ditempatnya lagi.
Setengah jam berlalu, seperti biasa mereka akan mencuci piring bekas masing-masing.
“Luna, nanti berangkat sekolah sama saya dan Rosse ya” ucap Valencia.
“Baik nyonya.” jawab Luna senang.
“Panggil kakak saja atau mami juga boleh. Heheh saya banyak anak jadinya” canda Valencia.
“Panggil senyamanmu, luna. Anggap kami kedua orang tuamu” timpal Cortie.
“Wahh, makasih-makasih.” ucap Luna senang.
Cortie dan Valencia tersenyum, Luna gadis seumuran dengan Rosse. Kehidupan Luna lebih baik sedikit dari Kehidupan Rosse. Luna dikira pencuri, karena saat itu hanya ia sendiri yang berada disamping ibu-ibu sosialita entah bagaimana bisa dompet itu berpindah ketangan Luna dan mengakibatkan ia dibawa paksa oleh segerombolan orang ke kantor polisi.
Flashback
Kebetulan, Cortie sedang berada di kantor polisi yang sama dengan Luna. Cortie yang saat itu sedang melaporkan tindak kejahatan bawahannya yang berlaku curang dengan cara korupsi diperusahaannya, seketika menatap kasihan melihat Luna yang menangis karena ia tak bersalah apapun.
Ia bertanya kepada petugas kepolisian kenapa anak itu menangis, polisi itupun menceritakan semuanya. Cortie membebaskan Luna dan membawanya pulang ke mansionnya dan disambut pertanyaan oleh istrinya.
Saat itu Valencia masih hamil sikembar, Valencia sering merasa bosan dirumah karna kedua org tuanya dan kedua orang tua Cortie memilih tinggal di kota A dan Kota S, sedangkan kedua adik mereka berkuliah di kota K.
Awalnya, Valencia ragu menerima kehadiran Luna tapi lama kelama ia jatuh cinta dengan sosok manis dari Luna. Yang mana membuatnya ingin Luna memanggilnya mami, Luna senang tapi karena Lucia yang sering datang ke mansion, tak mau Luna memanggil Cortie dengan sebutan Papi. Ia tak terima dan mengancam Luna terus-menerus hingga Luna terbiasa memanggil Nyonya dan Tuan serta Luna memilih pindah ke Paviliun karena ancaman Lucia yang akan menyakiti Valencia yang tengah hamil besar.
Back to story.
“Atak Luna, Atak Losse” panggil Clark
“Iya ada apa sayang?” tanya Luna
“Mami ajak belangkat, nanti atak teulat” ujar Clark
Mereka bertiga pun mendatangi Valencia yang menggendong Claire, tampak Claire tengah sesegukkan. Rosse dan Luna menatap Valencia seolah bertanya Claire kenapa ? namun, Valencia tak memberikan jawaban. Ia meminta anak-anak langsung masuk ke mobil.
Clark dibantu Rosse untuk naik kedalam mobil, sedangkan Luna ia duduk disamping pak sopir. Valencia sendiri duduk dibelakang bersama sikembar dan Rosse.
Hari ini, Valencia akan mendaftarkan Rosse di sekolahan yang sama dengan Luna. Beberapa menit kemudian mereka sampai di SMA CC. Sekolah terkenal di kota J.
“Mami, Luna duluan masuk ya. Takut di lihat anak-anak kalau Luna anak Mami Vale” ujarnya takut dilihat teman-teman yang lain.
“HAHAHA baiklah, hati-hati sayang.” ucap Valencia.
“Siap Mami.” ucapnya sembari menyalami Valencia, mencium kedua adik kembarnya dan juga tak lupa menyalami pak sopir.
“Rosse, aku tunggu kehadiranmu di sekolah” ucapnya setengah menggoda Rosse.
“Iya nanti aku datangi kamu hehehe’ ledek Rosse.
“Oke bye semua, Luna pergi dulu” ucapnya sambil membuka pintu.
Tak lupa ia melirik kanan dan kiri, apakah aman atau tidak untuknya pergi. Sekira sudah aman, Luna berlari menjauhi pakiran menuju kelasnya.
“Ayo kita keluar sayang...” ajaknya kepada Rosse.
“Baik mi” jawab nya.
Ke empat wanita beda usia itu turun dari mobil, mereka berjalan memasuki gedung sekolah. Rosse yang sudah lama tak sekolah pun merasa gugup.
“Jangan gugup, santai saja” tegur Valencia.
Rosse hanya tersenyum, kini mereka telah berada didepan kantor kepala sekolah. Valencia mengetuk pintu sebelum masuk kedalam ruangan.
Tok..tok..tok..
“Permisi” ucap Valencia
“Oh, iya silahkan masuk” ucap kepala sekolah yang melihat Valencia datang bersama dua anak kembar dan satu gadis yang menggunakan seragam sekolah.
“Ada yang bisa saya bantu ?” ucapnya to the point.
“Maaf bu, saya ingin mendaftarkan anak saya di SMA CC ini” jawabnya dengan sopan dan memberitahukan kedatangannya kesekolah ini.
__ADS_1
“Saya tahu, saya juga lihat penampilan anak anda. Silahkan tulis biodatanya disini” ucapnya
Valencia yang mendengar jawaban dari kepala sekolah merasa tak nyaman, seperti menganggap enteng. Tetapi demi anaknya, Valencia mengisi daftar biodata Rosse dengan dibantu Rosse sendiri.
“Jangan lupa berkasnya, harus lengkap” ucapnya lagi, Valencia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Lima menit kemudian,
“Ini bu, sudah selesai dan ini berkasnya” ucap Valencia sembari menyodorkan berkas milik Rosse.
“Bu Windi, tolong keruangan saya” ucap Kepsek itu ditelfon.
Tak lama datanglah seorang guru yang Valencia yakini ada Bu Windi guru yang ditelepon kepala sekolah.
“Ada yang bisa saya bantu. Bu ?” tanya Bu Windi
“Tolong urus mereka” titahnya.
“Ba..baik bu”
“Mari Nyonya ke meja saya saja.” ajaknya sopan.
Tak lupa Bu Windi membawa berkas-berkas milik Rosse. Valencia dan anak-anaknya mengikuti Bu Windi.
“Perkenalkan saya Bu Windi wali kelas X IPS 3” kenalnya kepada Valencia
“Saya Valencia, mami dari Rosse” jawabnya sopan.
“Maaf bu, atas kelakuan kepala sekolah kami yang baru.” ucapnya tak enak.
“Tak apa bu, saya hanya ingin mendaftarkan anak saya sekolah di sini. Itu saja” jawab Valencia tersenyum.
Ia tahu, guru didepannya ini merasa tak enak perihal kelakuan kepala sekolahnya. Ia melihat Rosse yang mengawasi kedua adik kembarnya itu. Sembari menunggu, Bu Windi merekap data-data Rosse.
Lima menit kemudian,
“data nya sudah selesai bu dan ini rincian biaya untuk Rosse” jelasnya.
“Baik, saya bayar lunas hari ini” ucap Valencia
“Cash atau Debit bu ?” tanyanya sopan.
“debit saja, bu” jawab Valencia.
Valencia mengeluarkan BlackCard milik suaminya, dan memberikan kepada Bu Windi. Sedangkan Bu Windi langsung mengesek Blackcard itu dan memberikan kembali kepada Valencia.
“Ini bu kartunya dan ini perlengkapan Rosse selama bersekolah disini” ucapnya sopan seraya memberi seragama dan alat-alat sekolah lainnya.
“Terima kasih banyak, Bu Windi”
“Sama-sama, bu. Rosse bisa langsung masuk dikelas saya hari ini bu untuk memulai pelajaran”. jelas Bu Windi.
“Baik bu” jawab Rosse senang.
“Claire dan Clark kita pulang ya, Kakak Rosse mau masuk sekolah” ucap Valencia mengajak kedua anaknya pulang.
Namun, Claire dan Clark menolak pulang. Mereka berdua ingin bersama Rosse.
“Maaf, adik-adik di sekolah tidak boleh membawa adik-adiknya masuk kedalam kelas, jadi adik-adik cantik tunggu kakaknya di rumah saja ya” ucap Bu Windi memberi pengertian kepada kedua anak kembar itu.
“Enda boleh itut macuk betulan bu gulu ?” tanya Clark
“Iya sayang nggak boleh. Soalnya udah peraturan sekolah” jelasnya dengan sabar.
“Baiklah, tami tundu atak Luna dan Atak Losse di lumah” jawab Clark
“Salim dulu sama kakak Rosse” ajar Valencia.
Kedua anak kembar itu menyalami Rosse hingga Bu Windu pun juga mereka salamin, hal itu membuat Bu Windi tertawa kecil. Setelah berpamitan, Rosse dan Bu Windi masuk kedalam kelas X IPS 3.
Bu Windi meminta anak-anak untuk tenang dan meminta Rosse memperkenalkan dirinya. Setelah berkenalan Rosse di diminta untuk duduk di bangku yang kosong. Ia melihat Luna yang melambaikan tangannya. Ia tak tahu jika Luna dikelas X IPS 3.
“Yes, akhirnya sekelas hehehe” ucap Luna.
“Kamu bisa aja Lun” jawabnya.
“Mami sama sikembar udah pulang ?” tanya Luna berbisik takut didengar anak-anak lainnya.
“Iya sudah” jawab Rosse.
Kini, ruang kelas itu sunyi karena kelas sudah memulai pelajaran. Bu Windi tampak menjelaskan materi yang ia sampaikan hari ini.
__ADS_1