Pembalasan Hati Yang Hancur

Pembalasan Hati Yang Hancur
023.


__ADS_3

DEGH !!!


“Pak, apa maksudnya ini ?” tanya Jenny tak percaya.


“Iya itu adalah fotomu dan saudara kembar kamu, dan foto satunya adalah foto keluarga kandungmu..,” jawab Daddy Archie.


Sedangkan di kotak milik Jerry adalah sebuah sertifikat tanah dan rumah serta fasilitas lainnya. Ia bingung barang-barang ini milik siapa ? Daddy Archie menjelaskan kepada Jerry, bahwa itu adalah milik Papa Burchan karena semua milik Burchan di gadai oleh Lucia untuk dirinya berfoya-foya, sehingga Burchan di usir paksa oleh pihak bank dan membuat Burchan depresi dan mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu sehingga kini ia terbaring koma.


Mendengar penjelasan itu, membuat Jerry menangis dan Papi Egind meminta Jenny untuk memeluk saudara kembarnya, bagaimanapun juga mereka terpisah oleh keegoisan Kakek dan Lucia.


Jenny bangkit dari duduknya dan berlari memeluk saudara kembarnya, ia menangis sesegukkan. Ia tak menyangka akan bertemu dengan keluarga kandungnya apalagi ia memilik kembaran.


“Huhuhu abang....,” tangisnya pilu.


Semua yang berada disana menangis haru melihat pertemuan saudara kembar yang terpisah lama oleh kedua orang yang sangat egois. Jerry dan Jenny berterima kasih kepada keluarga Daddy Archie dan Papi Egind. Keduanya berpamitan untuk mengunjungi Papa Burchan.


“Akh, sedihnya...” ucap Maid tengah yang menangis sesegukkan.


Selepas kepergian keduanya, Mami Emili teringat bahwa keduanya belum makan dengan cepat maid bungsu 3 memanggil kedua kakak beradik itu.


“Aduh, kita melupakan makan malam..,” ucap Mommy Alica.


Mereka semua tertawa karena kelalaian mereka, Daddy Archie mengajak semua orang untuk menuju ruang makan dan menunggu maid bungsu 3 membawa Jerry dan Jenny untuk kembali masuk ke mansion.


Di sinilah mereka semua, seperti biasa mereka makan bersama di bawah dengan beralaskan tikar. Mereka menikmati makan malam dengan khidmat.


Setelah selesai makan, Jenny, Jerry dan Dokter dingin itu berpamitan untuk kembali ketempat masing-masing, Jerry dan Jenny pergi mengunjungi Papa Burchan dan setelah itu akan pergi ke rumah milik Papa Burchan.


Sedangkan Dokter dingin itu diantar Bella sampai ke depan mansion, lihatlah betapa romantis keduanya. Tanpa mereka sadari Alice melihat perlakuan Dokter dingin itu kepada Bella, membuat hatinya sakit.


Alice memilih pergi dari sana, takut hatinya semakin sakit karena cemburu.


Keesokan harinya,


“Mas, bangun....” ucap Valencia membangunkan suaminya.


“Hm, sudah jam berapa yang ?” tanyanya ngantuk.


“Sudah jam 08:20 mas....,” jawabnya Valencia ketus.


“Bangunkan mas jam 09:25 ya..” ucapnya dan tidur kembali.


Valencia yang selesai memandikan Baby Icad, dibuat kesal oleh suaminya. Kenapa suaminya pagi ini sangat malas untuk di bangunkan sudah tiga kali Valencia membangunkan suaminya dan ini adalah yang keempat kalinya.


Kesal dengan suaminya, Valencia membawa Baby Icad keluar kamar, sebelum itu ia harus melihat kedua putri kembarnya.


CEKLEK !!!


“Mami.....!!,” teriak Claire.


“Kalian sudah mandi ?” tanya Valencia.


“Cudah mami..,” jawab keduanya.


Valencia mengajak kedua putri kembarnya untuk pergi ke bawah dan melihat keluarganya sedang duduk santai. Mami Emili yang melihat anak dan cucunya, mengambil alih Baby Icad dari gendongan Valencia, ia akan bermain bersama Baby Icad dan juga cucu kembarnya.


“Suami kamu mana ?” tanya Daddy Archie.


“Tidur,’dad “ jawabnya.


“Sepertinya, Cortie membuatmu kesal nak ?” tanya Papi Egind kepada putri sulungnya.


“Ya, begitulah.. susah dibangunkan,” ucapnya kesal.

__ADS_1


“Oh, ya... “


Sedangkan di perusahaan,Alice tampak mendiamkan Bella ia tak sedikitpun berbicara kepada Bella, kentara sekali jika ia cemburu dengannya. Bella hanya bisa diam, karena ia memiliki rencana yang tak terduga, mengingat dua hari lagi adalah hari spesialnya.


Alice yang melihat Bella tersenyum melihat ponselnya hanya mendengus kesal, apa Bella tak tahu jika ia menyukai dokter dingin itu, kenapa Bella bersikap bahwa ia merebut orang yang ia sukai.


TRING !!!


Ponsel Bella berdering, segera di jawab olehnya.


“hallo....,”


“Hahahaha ia kak, aku akan makan siang bersamamu..,” jawabnya tersenyum.


“Apa ?! sopir kakak sudah di bawah ? Hei kak ini belum siang betul !!” ucapnya


“Baiklah - baik aku akan pergi ke rumah sakit sekarang...” jawabnya.


Bella mengemasi barang - barangnya dan berjalan begitu tergesa meninggalkan Alice yang hancur hatinya mendengar orang yang di sukainya mengajak Bella makan bersama.


Dengan hati yang kacau, Alice memerintah sekretaris baru untuk membelikannya makanan.


“Mas, kamu itu kenapa sih... tiba-tiba jadi aneh gini ?” tanya Valencia kesal.


“Kasihan Alice dan Bella..” omel Valencia.


“Ya sudah gini saja, kamu yang jaga anak-anak, aku yang bantu Alice dan Bella di perusahaan.,” ucapnya kesal.


“TIDAK !!!” teriak Cortie tiba-tiba.


Ia memeluk tubuh Valencia sambil sesegukkan, ia menangis dan mengatakan ia takut jauh dari Valencia.


“Ada apa, mas ? Coba cerita sama Vale.” pintanya memohon.


Mau tak mau Cortie menceritakan ketakutannya, Cortie terlihat sangat lemah ketika bersangkautan dengan kehidupan istri dan anak-anaknya, apalagi Baby Icad belum ada sebulan lahir.


“Sudahlah mas, aku baik-baik saja.” ucapnya menenangkan suaminya.


“Baiklah sayang.. berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku dan anak-anak,” ucapnya memohon.


“Iya sayang..,”


Dua hari berlalu, hubungan Alice dan Bella semakin merenggang, Alice yang menghindari Bella sedangkan Bella ia hanya santai saja, seolah tak adalah masalah. Mommy Alica dan Mami Emili menatap anaknya masing-masing dengan tatapan heran.


Sedangkan, Cortie dan lainnya memilih untuk diam karena mereka hari ini akan merayakan ulang tahun seseorang. Mereka bersikap biasa saja, satu persatu orang mengabaikan Alice yang mana membuat Alice semakin yakin bahwa ini ulah Bella.


Kesalahpahaman yang tertanam dibenaknya sudah semakin membara, apa lagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Bella di jemput oleh Dokter Dingin itu.


“Alice, kamu belum siap-siap ?” tanya Mommy Alica.


“Alice nggak ikut,mom” jawabnya lesu.


“Loh, kenapa ? yang lain sudah siap mau berangkat !” ucap Mommy Alica gemas.


“Alice nggak enak badan mom,” ucapnya berbohong.


“Ya sudah..” tukas Mommy Alica meninggalkan Alice yang terbengong dengan jawaban mommynya.


“Akh kesal !!!” teriaknya.


Sejam sudah kepergian keluarga besarnya,kini Alice di mansion bersama para pekerja. Ia memilih untuk menonton Drakor di ruang khusus keluarga ia ingin meluapkan perasaannya tanpa sadar ia hanya seorang diri di mansion.


Setengah jam kemudian, Alice yang haus beranjak ke dapur untuk mengambil minum dan cemilan.

__ADS_1


Tiba-tiba.....


TAP !!!


“Loh, kok padam ?”


“Aduh, ponsel aku di dalam lagi... ini gimana liatnya,”


“BIBI ... BIBI...” teriaknya.


Namun tak ada yang menjawab panggilannya. Alice terus saja memanggil mereka namun tetap saja tak ada jawaban.


Hingga di saat ia yakini ruangan yang ia datangi adalah dapur dengan pelan ia meraba-raba sekelilingnya dan matanya tertuju pada taman belakang, ia berjalan dengan pelan mencari pintu dapur yang kearah belakang.


“Ayo bersiap, Dia sudah datang ....” ucap wanita itu.


Kini Alice berada di tengah-tengah meja yang di atasnya ada beberapa lilin yang menyala. Alice duduk di kursi itu dengan perasaan yang campur aduk. Ia mengangkat kedua kakinya dan menyembunyikan kepalanya di atas lutut.


“Hiks ... hiks ..”


“Tahu begini aku ikut saja.... hiks,”


Happy Birthday Alice ...


Happy Birthday Alice ...


Happy Birthday Alice ...


Membuat Alice yang menangis terkejut mendengar nyanyian itu, ia mengangkat kepalanya menatap semua orang yang terus bernyanyi, hingga matanya tertuju kepada pria yang membuatnya menangis tiap malam sedang memegang kue ulang tahun dengan wajah yang tersenyum manis.


Di sampingnya ada Bella bersama seorang laki-laki yang ia ketahui itu adalah teman dokter yang ia sukai, keduanya terlihat sangat serasi dengan Bella yang mengalungkan tangannya di lengan Dokter Bara. Jadi, apakah ia sudah salah paham dengan Bella ?


Tiup lilinnya....


Tiup lilinnya...


Tiup lilinnya....


Alice mendekati Dokter Alden, dan....


Wushhhhhhhh !!!


Alice meniup lilin tersebut bersamaan dengan lampu mansion menyala. Terlihatlah semua orang tengah berdiri mengelilingi Alice dan Dokter Alden. Membuat Alice menjadi salah tingkah dengan pipi yang kemerahan membuat Dokter Alden gemas.


Potong kuenya ....


Potong kuenya....


Potong kuenya ....


Alice memotong kuenya dan memberikan potongan pertama itu kepada kedua orang tuanya dan kemudian kepada abangnya Cortie.


“Potongan ke empat dong..!!!” teriak Bella.


Alice yang mendengar itu melototkan matanya, Alice tak habis pikir dengan ucapan Bella yang semaunya..


Bagi kuenya...


Bagi kuenya ...


Teriak Bella lagi diikuti Luna, Rosse dan semua orang menyorakinya, mau tak mau ALice memberikan potongan kue lagi dan menyuapi Dokter Alden.


CIE !!!!

__ADS_1


Sudah kepalang tanggung, mau tak mau ia lakukan. Namun, hal tak terjadi Dokter Alden melamar Alice di hadapan semua orang, kedua orang tua Dokter Alden dan kedua adiknya juga berada di sana.


Hal yang tak terduga membuat Alice menerima lamaran itu dan di sorak oleh Bella dan lainnya. Jadilah malam ini mereka merayakan ulang tahun Alice yang ke- 23 sekaligus lamaran.


__ADS_2