Pembalasan Hati Yang Hancur

Pembalasan Hati Yang Hancur
025.


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Cortie merasa sudah aman untuknya karena tidak bertemu Vania yang mengaku sebagai calon istrinya. Seminggu ini, Cortie banyak melakukan pekerjaan kantor dan malah ia setiap malam lembur bersama assistentnya.


“Aaron, siang ini jangan ada yang ganggu waktu saya, karena istri dan anak-anak saya akan makan siang di sini..!!” titahnya.


“Baik, ‘bos “ jawabnya.


Keduanya pun kembali mengerjakan berkas-berkas dan juga mempelajari proposal yang di kirim oleh beberapa perusahaan.


Sedangkan di sisi lain, Valencia sedang mengurusi ketiga anaknya karena siang ini mereka akan mengunjungi Cortie untuk makan siang bersama. Ya ini mereka lakukan sudah beberapa bulan lalu, setelah kejadian dimana Cortie menangis histeris karena mimpi buruknya itu.


“Nah, anak-anak mami sudah cantik dan tampan..,” ucapnya setelah memberikan polesan sedikit untuk ketiga anak-anaknya.


“Mami, apa kita akan mengunjungi papi dengan wajah secemong ini ?” tanya Clark cemberut.


“HA HA HA ini tidak cemong sayang, biar putri kembar mami terlihat sangat cantik dan mempesona..,” godanya.


Claire yang mendengarkan kata cantik dan mempesona keluar dari mulut maminya pun bersorak bahagia. Ia mencium Baby Icad hingga terdengar rengekkan dari si baby montok itu.


“Kakak, adiknya jangan di cium-cium seperti itu, kasihan ..,” tegur Valencia.


“Abis dedek gemes sekali,’ mami “ jawabnya lucu.


“Sekarang kakak kembar tunggu adik bayi sebentar, ya. Mami mau menyiapkan rantang dulu. Okey !”


“Okey Mami Pale ,” jawab anak kembarnya.


Setengah jam kemudian, Valencia sudah siap dengan rantang makanan yang akan ia bawa ke kantor suaminya.


“Sayang..., ayo kita ke kantor papi,” ajaknya.


Valencia membawa Baby Icad dalam gendongan kangguru, tangan kanannya membawa rantang makanan, sedangkan Claire dan Clark bergandengan tangan menghampi supir yang sudah stand by di depan mansion.


Selama perjalanan menuju kantor suaminya, Valencia mengajak Baby Icad ngobrol dan tentu di jawab celoteh bayi 6 bulan itu, tak ketinggalan kakak-kakak kembarnya ikut menimpali ocehan Baby Icad.


Di perjalanan, tampak kemacetan panjang terjadi. Membuat para pengguna kendaraan membunyikan klaksonnya.


“Tumben sekali siang begini macet separah ini,” ucap Valencia.


“Iya nyonya tumben sekali..,” timpal sopir itu.


Claire yang usil pun membuka kaca jendela dan mengeluarkan kepalanya, Valencia yang melihat itu pun menegur anaknya. Clark yang penasaran pun ikut mengeluarkan kepalanya. Tanpa sengaja ia melihat sosok orang yang ia kenal dan berteriak, “ PAPI ..!!!!”.


Valencia terkejut mendengar anaknya Clark memanggil papi mereka, setahu Valencia Cortie berada di kantornya.


Sedangkan pria yang di panggil papi oleh Clark menoleh, tanpa menunggu ia menghampiri anaknya.


“Wah, benelan papi ...” pekik Claire.


Cortie berjalan dengan ekspresi yang tak biasa, melihat papinya mendekat Clark dan Claire mengambil posisi duduk di kursi masing - masing.


Cortie, melihat jika ada istrinya di dalam sana yang tersenyum melihatnya cortie pun membalas senyuman istrinya, dengan tangan kiriyang sudah memegang knop mobil tiba - tiba saja seseorang memeluk Cortie dan di belakangnya lagi ada Assistent Aaron yang juga menarik tangan wanita itu.

__ADS_1


Corti yang terkejut, segera melepaskan pelukan wanita itu dapat Valencia lihat bahwa suaminya tengah menahan emosi yang mungkin sudah memuncak.


“Papi !!” teriak CLaire.


Valencia meminta kedua putri kembarnya itu untuk pindah ke depan di samping kursi supir, keduanya menuruti perintah maminya. Valencia membuka pintu mobil dan keluar, ia bisa melihat perubahan  jika suaminya sudah emosi.


Valencia menghampiri suaminya yang sedang melepas pelukan dari wanita gila itu dan ia dapat mendengar teriakan pengendara lain, dengan santai ia menarik tangan suaminya, sehingga tubuh wanita itu kesandung dengan kaki Cortie yang menyilang.


BUGH !!!


AUH !!!


Pekik wanita itu, Valencia menyerahkan Baby Icad kepada suaminya dan Cortie tak menerima uluran Valencia. Ia menatap tajam Viana yang sudah berani memeluknya, matanya sudah menggelap,sedangkan Asisstent Aaron langsung mengunci pergerakan Vania agar tak mendekati istri dan anak bosnya.


“Apa kau tak malu memeluk suami orang di depan umum ?” tanya Valencia yang masih menggendong Baby Icad.


“Sayang bawa Baby Icad masuk, biar aku yang urus...” perintah Valencia.


Mau tak mau, Cortie mengambil alih Baby Icad dan masuk kedalam. Melihat Cortie masuk ke dalam mobil, Viana berteriak,


“Cortie, kamu harus tanggung jawab...!!” teriaknya.


“Tanggung jawab apa ?” tanya Valencia santai.


“Aku HAMIL ANAK CORTIE..,” teriaknya lagi.


Valencia diam, bukan ia termakan omongan Vania tapi ia diam menatap tak percaya dengan wanita gila ini, malas untuk meladeni Vania, Valencia memilih untuk masuk ke dalam mobil.


Kemacetanpun teratasi oleh kedatangan polisi,Assistent Aaron diminta kedatangannya untuk memberi keterangan lebih lanjut di kantor polisi, sedangkan Cortie dan lainnya tetap pergi ke kantor dengan Cortie yang masih diliputi emosi, Valencia mendiamkan suaminya untuk memilih menenangkan diri tanpa mengambil Baby Icad di tangan suaminya.


Tak berselang lama, mobil sampai di halaman perkantoran. Cortie turun tanpa menunggu istrinya, Valencia memaklumi suaminya yang melupakan dirinya dan anak-anaknya. Tak lupa Valencia membuka pintu untuk kedua putri kembarnya.


“Mami... apa papi malah sama kita ?” tanya Claire takut.


“Tidak sayang..,” jawabnya dan menggandeng tangan Claire sedangkan tangan kirinya membawa rantang makanan.


“Ayo, ‘Mi..” ucap Clark tak lupa ia menggandeng saudarinya.


Ketiganya pun berjalan menyusul Cortie dan Baby Icad, sedangkan sang supir sudah meninggalkan perkantoran menuju mansion.


Di ruangan Cortie,


Celoteh Baby Icad terdengar, ia bercolet sembari memegang telunjuk papinya.


“Pah .. Pah ..” celotehnya


“Wah, kamu harusnya manggil papi bukan papa...,” protesnya.


“Pih ..” celotehnya dan tertawa.


Cortie yang mendengar itu merasa senang, ia berbicara dengan putranya terkadang keduanya tertawa hingga  suara kedua ayah dan anak terdengar sampai keluar.

__ADS_1


CEKLEK !!!


“Seru amat....” sindir Valencia


Cortie mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka, ia melihat istri dan anak-anaknya.


“Baby Icad memanggilku papi...,” adunya


“Benarkah ???” tanya Valencia tak percaya.


“Iya, dia memanggilku papi “ ucapnya senang.


Valencia tersenyum,mungkin Baby Icad bermaksud untuk meredamkan emosi papinya dengan cara berceloteh.


“Ayo makan siang dulu mas..,” ajaknya tak lupa ia menyediakan makanan untuk si kembar, sedangkan Baby Icad makan bubur sayuran yang sudah di haluskan oleh Valencia.


“Adek mamam sendiri ya..,” ucap Valencia kepada bayi montoknya.


“mami, adik bayi mana tahu makan sendili..,” protes Claire.


“ha ha ha, mami ajarinlah..” jawabnya.


“Sudah.. sudah ayo makan,” tengah Cortie, ia sangat lapar sekarang dan mengajak anak istrinya untuk makan terlebih dahulu.


Sedangkan di sekolah, Luna dan Rosse sedang makan siang bersama anak - anak lainnya. Tiba - tiba meja kedua di datangi geng Cheryl, ia masih tak terima bila Rosse berpacaran dengan Ainsley karena hanya ia seorang yang boleh.


BRAKK !!!


“APA-APAAN Lo !!” bentak Luna.


“LO YANG APA-APAAN !!” bentaknya balik.


“SINTING !!” teriak Luna.


Cheryl tak menyukai dirinya di bentak oleh orang lain, ketika ia hendak menampar Luna, Barnard datang dan mencekal tangan Cheryl.


“Cheryl, berhenti bermain kasar !!” tegur Barnard.


“Lu apa-apaan sih, ‘Nard ?” protesnya


“Lu, nyerang adik kelas buat apa ?”


“Ainsley nggak bakalan balik ke elu..,” sarkasnya.


“Gue nggak peduli dan gue ga suka Ainsley dekat dengan cewek lain..!” bentaknya.


Barnard memijit keningnya, sungguh wanita di depannya ini sangat obsesi dengan Ainsley. Padahal ia tahu bahwa dirinya sudah putus dengan Ainsley beberapa bulan yang lalu, namun Cheryl masih tak terima hingga ia terus mengganggu Luna dan Rosse, terutama Rosse ia sering di samperin Ainsley  ketika jam istirahat.


Sedangkan AInsley sendiri sedang terkena skorsing akibat membogem salah satu siswa lain yang berani ingin melecehkan Rosse yang tengah mencuci kedua tangannya di wastafel taman samping sekolah.


Dan hal itulah yang membuat Cheryl membenci Rosse, karena pembelaan yang di berikan Ainsley kepada Rosse yang hanya anak beasiswa membuat dirinya cemburu.

__ADS_1


Selama berpacaran dengan Ainsley, dirinya lah yang selalu di bela dan di jaga. Namun, karena dirinya juga Ainsley menjauh.


__ADS_2