
Berita kehebohan di salah satu SMA CC beberapa waktu lalu menggemparkan tanah air, seorang siswa mengajak teman - temannya untuk membunuh adik tingkatnya karena hubungan asmara.
“Bagaimana ini pa ?” tanya Mami Raya.
“Papa harus lakukan sesuatu untuk membebaskan anak kita, Cheryl !” tuntut Mami Raya kepada suaminya.
“Iya ini papa lagi mikirin semuanya, mi. Jadi tenanglah dulu !” ucap Papi Rayond kesal.
Sudah seminggu mereka mendatangi Daddy Archie agar dapat membebaskan Cheryl dan kedua temannya. Tapi sayang, pihak dari keluarga Daddy Archie tidak mengindahkan permintaan orang tua Cheryl.
Sehingga, kedua orang tua Cheryl nekat untuk mendatangi Luna dan Rosse di rumah sakit. Sampai saat ini Rosse belum sadar dari komanya dan Luna yang belum sehat walau ia sudah sadarkan diri tiga hari yang lalu.
Dua bulan berlalu, Luna sudah masuk sekolah sepertia biasa berbeda dengan Rosse sampai saat ini ia masih betah menutup kedua matanya yang mana membuat Luna menyalahkan dirinya karena tak becus menjaga Rosse dengan baik, Ainsley dan Barnard setiap sepulang sekolah akan menjenguk Rosse dan mereka mengajak Rosse berbicara walaupun Rosse sendiri tidak merespond hal itu.
“Bagaimana ini, bulan depan kita akan melangsungkan ujian tengah semester sedang Rosse belum sadarkan diri,” keluh Luna.
Ya mereka saat ini sedang berada di ruang rawat Rosse, Ainsley selalu berada di sisi Rosse sedangkan Luna dan Barnard berada di sofa, Barnard menenangkan Luna agar tidak panik.
“Rosse, kamu kapan bangunnya ?”
“Aku kangen kamu, maaf gara - gara aku kamu seperti ini,”
“Jika kamu sadar nanti, aku akan menjauh darimu agar kamu tidak seperti ini lagi,”
“Aku, minta maaf Rosse. Cepatlah sadar keluargamu sangat mencemaskanmu !” ucapnya kesal.
“Akh, sama saja tidak di respond !!” keluhnya kesal.
Ainsley yang kesal berniat untuk meninggalkan Rosse, namun matanya tak sengaja melihat pergerakan kecil dari jari jemari Rosse. Refleks ia berteriak memanggil nama Rosse dan menekan Wireless intercom.
Wireless Intercom adalah alat komunikasi tanpa kabel dan tanpa pulsa biasa digunakan untuk komunikasi antar ruang di lingkungan rumah sakit.
Luna dan Barnard bergegas mendekati brankar Rosse, mereka bertiga sangat senang melihat Rosse yang membuka matanya perlahan.
“Rosse akhirnya kamu sadar juga,” pekik Luna senang.
CEKLEK
“permisi adik - adik, tolong bisa keluar sebentar dulu biar kami periksa teman kalian ya” ucap suster Vlora sopan.
Ketiganya pun keluar dari ruang inap Rosse, tak lupa Luna memberitahukan kepada keluarganya jika Rosse sudah sadar. Sungguh Luna merasa bahagia sekali, lega rasanya melihat saudarinya bangun dari koma.
10 menit kemudian, Dokter Anna dan suster Vlora keluar mereka memberikan penjelasan mengenai kesehatan Rosse saat ini, setelah itu Dokter Anna dan suster Vlora pamit untuk kembali visit pasien lain.
Kepergian Dokter Anna dan suster Vlora, Ainsley berlari masuk untuk bertemu dengan Rosse begitu juga dengan Luna dan Barnard.
__ADS_1
“Rosse,” panggil Ainsley pelan.
Rosse menoleh menatap pria yang memanggil namanya dengan mata berkaca - kaca dengan tiba - tiba Ainsley memeluk Rosse. Merasa bahunya basah Rosse menyadari bila Ainsley tengah menangis, terdengar isakan kecil yang keluar dari bibir Ainsley.
Luna yang melihat itu memalingkan wajahnya dan refleks memeluk Barnard, bukan ia cemburu tapi ia terharu dengan kedua pasangan itu.
“tenanglah, Rosse sekarang sudah sadar. Jangan menangis lagi dan jangan menyalahkan dirimu sendiri lagi !” ucap Barnard menasehati Luna yang sesegukkan.
Tanpa mereka sadari, Cortie dan lainnya melihat adegan bocil 16+ yang sedang peluk - pelukan sambil menangis.
Sudah cukup 5 menit, Cortie memberi waktu mereka dengan adegan pelukan. Kini dirinya dan istri serta anak - anaknya masuk dan mengejutkan mereka berempat.
“Sudah 5 menit, bubar - bubar jangan pelukan lagi !” tegur Cortie tegas.
Mereka refleks melepaskan pelukan tiba - tiba, Luna merasakan panas menjalar di pipi putihnya dan itu membuat Barnard gemas ingin dirinya mencubit gemas pipi itu, tapi ia takut di marahi Papi Cortie.
Merasa sudah ada kedua orang tua yang menemani wanita kesayangannya, Ainsley dan Barnard pamitkepada Cortie dan Villia untuk pulang kerumah masing -masing.
Setelah kepergian Ainsley dan Barnard, Cortie mengoda Luna yang pipinya masih memerah semerah buah cherry.
“Cie yang sudah berani peluk - pelukan,” goda Cortie.
“is, papi ih. Luna malu !!” teriaknya sembari memeluk tubuh papinya.
Tawa mereka menggelegar memenuhi ruangan itu, sedangkan Rosse ia hanya tersenyum mesem - mesem, karena mendapatkan pelukan dari pria yang ia kagumi.
“HM, anak papi dua-duanya lagi .. cie cie !!” goda Cortie lagi.
“Papi ihhh, “ ucap Rosse lirih sambil tersenyum.
“Ingat jangan sampai kalian lupa tugas utama kalian !”ucap Cortie mengingatkan kedua putrinya yang sedang kasmaran.
“Baik pi,” jawab keduanya.
Beberapa jam kemudian, Cortie mengajak istri dan anak - anaknya untuk pulang karena sebentar lagi Mommy Alica dan Mami Emili akan menjenguk Rosse dan nanti Cortie akan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Rosse bersama Daddy Archie dan Papi Egind.
“Hai sayang,” sapa Mami Emili kepada Rosse.
“Hai, oma...,” jawabnya lirih tak lupa Rosse tersenyum melihat kedua omanya datang menjenguk.
“Apa yang kamu rasakan sekarang, nak ?” tanya Mommy Alica.
“Badan Rosse masih lemas oma,” jawabnya.
“Kamu istirahat lagi, biar badanmu sehat bugar kembali !” tita Mami Emili.
__ADS_1
Rosse mengiyakan karena ia sudah mengantuk setelah diberikan obat oleh Villia, sedangkan kedua oma itu menyalakan televisi menonton sinetron ikan terbang dan sekali - kali terdengar umpatan Mommy Alica yang kesal dengan pelakor.
Mereka berdua tak menyadari jika Cortie dan suami mereka masing - masing ada di ruangan itu menatap keduanya dengan wajah bengongnya.
Hingga Mami Emili haus karena air dihadapan mereka habis, ketika ia berbalik Mami Emili terkejut melihat ketiga pria beda usia menatap keduanya dengan ya you know lah ha ha ha.
“Eh, ayam lepas tangkap ulang !!” latahnya.
“Apaan sih kalian bertiga kayak tembok aja !” ucapnya ketus.
Membuat Mommy Alica menoleh karena mendengar Mami Emili menyebut kalian bertiga. Ia mengira Mami Emili mengoceh sendiri karena hanya mereka bertiga diruangan ini dan ternyata ada suami, anak dan besannya yang menata bengong kepada dirinya dan besan perempuannya.
“Aduh, “ ringis Mommy Alica.
“Kenapa, ‘Mom ?” tanya Daddy Archie khawatir.
“Mommy haus,” jawabnya malu.
Daddy Archie syok dengan permintaan istrinya yang diluar nalar itu, bisa - bisanya disaat ia panik dan khawatir istrinya hanya minta minum karena haus, betul - betul.
Dua jam kemudian,
“Kalian menginap di sini ?” tanya Papi Egind kepada kedua wanita paruh baya itu.
“Sepertinya ia, sudah jam segini. Takut di culik,” ucap Mami Emili menguap.
“Mami, tidur di brankar sebelah Rosse saja berdua sama Mommy,” ucap Cortie.
“Ah, baiklah !” jawab Mami Emili.
Mereka semua pun pergi ketempat masing - masing untuk mengambil posisi rebahan, Papi Egind, Cortie dan Daddy Archie memilih tidur di sofa, sedangkan Mami Emili berpindah tidur di samping Rosse karena brankar Rosse lebih besar daripada brankar yang ia dan Mommy Alica gunakan.
Empat hari berlalu, hari ini Rosse sudah di perbolehkan untuk pulang ketika hasil kesehatannya sudah bisa di katakan baik - baik.
“hati - hati, nak !“ tegur Cortie kepada Rosse yang senang karena sudah bisa keluar dari rumah sakit.
“Ha ha maaf, ‘Pi “ jawabnya tersenyum.
Di mansion, semuara orang sedang menunggu untuk menyambut kedatangan Rosse dan Cortie. Yang paling heboh adalah Luna dan adik - adik kembarnya serta maid bungsu 2 dan 3, karena Rosse sangat akrab dengan mereka dan selalu mau bertegur sapa bahkan mengobrol dan bersantai bersama.
“Akh, saya jadi tidak sabar bertemu nona Rosse “ ucap Maid sulung kepada rekannya.
“Iya, nona Rosse hampir 3 bulan tidak ada di mansion,” jawab Maid tengah.
“Sabar bi, Rosse sedang dalam perjalanan he he he,” goda Luna yang tak sengaja mendengar pembicaraan kedua maid dir mansion ini.
__ADS_1