Pembalasan Hati Yang Hancur

Pembalasan Hati Yang Hancur
040.


__ADS_3

Hari sudah sangat sore, semuanya bersiap untuk pulang kali ini Luna dan Rosse memilih untuk duduk bersama kekasih mereka masing - masing yang mana membuat Cortie mendengus kesal. Sepanjang perjalanan, anak - anak tertidur sangat pulas.


Beberapa jam kemudian, mereka telah sampai di mansion Cortie. Setelah terkena macet panjang karena orang - orang yang baru pulang bekerja. Keluarga Dokter Nic dan besan memilih untuk langsung pulang sedangkan Ibu Rania dan Kania di minta untuk menginap di mansion saja karena Kania yang sudah sangat pulas.


“Ibu menginap saja di sini,” pinta Cortie.


“Tapi, ibu dan Kania nggak bawa baju ganti,” ucapnya.


“Di sini banyak baju bu, jadi ibu tenang saja !” seru Valencia yang baru menggantikan pakaian anak - anaknya di bantu Luna dan Rosse.


“Baiklah,” jawab Ibu Kania sedangkan Andro sudah membawa Kania ke kamar tamu yang disediakan oleh Daddy Archie.


Para penghuni mansion masuk ke kamar masing - masing, tidak ada makan malam karena sekarang sudah jam 22:00 WIB. Waktunya untuk para penghuni bumi mengistirahatkan badan dan tenaganya.


Keesokan harinya,beberapa penghuni mansion sudah melakukan aktivitasnya masing - masing. Beda hal dengan anak - anak mereka memilih untuk tidur lebih lama lagi karena masih mengantuk dan kelelahan.


“Ada yang bisa saya bantu, Bu ?” tanya Maid bungsu 3.


“Ah, saya ingin bantu kalian di dapur apa boleh ?” tanyanya.


“Tapi bu, ibu tamu di mansion ini. Ibu pergi istirahat saja,” ucap Maid bungsu 3 tak enak.


“Nggak papa mbak, saya malah nggak enak cuma berdiam diri di mansion ini tanpa membantu,” bujuk Ibu Rania.


“Aduh, saya juga nggak bisa main putus gitu aja bu,” ucap maid bungsu 3.


Karena hari ini jadwal ia dan maid tengah di dapur sedangkan yang lainnya ada di tempat jadwal masing - masing.


“Biar saya saja yang masak, mbak urus yang lainnya” ucap Ibu Rania dan mulai memasak untuk penghuni mansion.


Sedangkan maid bungsu 3 membersihkan dapur dan maid tengah menyiapkan bahan - bahan ia akan membantu Ibu Rania bersiap.


Dua jam kemudian,


“Sudah selesai !” ucap Ibu Rania.


Sudah terhidang beberapa ragam masakan ala Ibu Rania, membuat maid bungsu 3 dan maid tengah berdecak kagum dengan skill memasak Ibu Rania.


“Wow, keren !!” puji maid bungsu 3 dan maid tengah.


“ha ha ha, kalian lucu sekali”  Ibu Rani terkekeh.


“Eh, ada Ibu Rania !” sapa Valencia yang baru masuk ke dalam dapur.


“Wah, kalian sudah selesai masak” ucapnya lagi.


“Iya nya, ini Ibu Rania yang masak “ ucap maid tengah.


“Wah, ibu yang masak ? kenapa tidak istirahat saja bu ?” tanya Valencia terkejut.


“Ah, ibu nggak bisa berdiam diri disini. Ibu juga harus bantu orang - orang disini,” jawab Ibu Rania.


“Aduh bu, kita di sini banyak pekerja. Jadi ibu santuy saja ya di sini “ ucap Valencia.


“Ha ha baiklah, ibu akan santuy!” balas Ibu Rania dan berpamitan untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


Begitu juga Valencia, ia akan kembali ke kamarnya dan akan membangunkan anak - anak dan suaminya.


Di sini lah semua penghuni mansion berkumpul untuk makan bersama, mereka makan seperti biasa lesehan karena banyaknya penghuni mansion.


“Makan yang banyak ya, Kania !” tegur Cortie.


Sedangkan Kania malu - malu untuk makan paha ayam goreng, hingga seseorang memberikannya dua paha ayam goreng sang pelaku hanya terdiam melihat raut terkejut Kania. Begitu juga dengan mereka yang ada di sana, siapa lagi pelakunya kalau bukan Claire.


“Klaile, paha ayamna banyak kali. Nanti kalau endak habis mubajir kata Ibu Lania,” bisik Kania kepada Claire takut kedengaran orang lain.


“kata papi, makan yang banyak Kania !!!” ucapnya mengikuti perkataan Cortie.


“Kania malu jadina gala Klaile mulutna combelan !” ucap Kania cemberut.


“Makan yang banyak, sayang paha ayamnya nganggur !” tegur Luna kepada kedua gadis kecil itu.


Lihatlah di piring Kania dan Claire tiga potong paha ayam goreng menutupi nasi keduanya, tidak ada sayur yang memberi warna piring kedua gadis kecil itu. Sedangkan Clark ia lebih banyak nasi dan sayur tumis dari pada paha ayam goreng yang ia ambil hanya dua potong saja.


“Nah, bagus Claire ! Biar Kania gembul seperti dirimu yang rakus itu !” ejek Cortie.


“Papi, kalau makan itu tutup mulutna !” tegur Claire.


“Mulut kalau di tutup, papi makannya gimana ?” tanya Rosse kepada Claire.


“Ya pake tangan, telus masuk mulut !” ucapnya nyeleneh.


“Ya nggak gitu konsepnya,” ucap Rosse tak terima.


“Gitu dong konsepnya, ambil pakai tangan, lalu di suapkan ke mulut” jelas Claire yang entahlah.


“Selah, selah, selahkan sendili” ejek Claire.


“Sudah, sudah makan lagi yang habis dan kenyang!” tegur Valencia.


“baik, mami !!” ucap keduanya.


Sedangkan di sisi lain, seorang gadis cantik membawa seorang wanita dan seorang gadis kecil seumuran dengan Claire dan Clark. Mereka mendatangi rumah sederhana itu dan mengetuk pintu terus menerus.


Tok tok tok !!!


“Apa tidak ada orang ya,” gumamnya.


“Bagaimana ?” tanya wanita itu, sedangkan gadis yang di tanya hanya menggelengkan kepalanya.


“Mama, Momo ngantuk !” rengeknya.


“ya sudah tidur sini,” ucap Meila kepada anaknya.


Mereka bertiga duduk dikursi depan rumah Ibu Rania, tanpa terasa ketiganya tertidur di kursi hingga sebuah mobil masuk ke perkarangan rumah sederhana itu.


“Ada orang bu,” ucap Andro memberitahukan Ibu Rania.


“Siapa ya ?” tanyanya heran.


“Ayo kita turun untuk lihatnya !” ajak Andro.

__ADS_1


Mereka turun dan Andro yang menggendong Kania yang tertidur pulas, mungkin karena terlalu kenyang dan masih kelelahan makanya Kania tertidur kembali.


Ibu Rania jalan mendahului Andro, karena ia ingin melihat siapa yang bertamu ke rumahnya. Terlihat ketiga wanita beda usia tertidur sangat pulas, Gadis yang membelakangi Ibu Rania membuatnya tak mengenali gadis itu.


“Neng, bangun neng !”ucap Ibu Rania membangunkan gadis itu.


“Hm,” ucapnya dan pelan - pelan membukakan matanya, terlihat sangat mengantuk sekali.


“Ayo bangun,” ucap Ibu Rania.


Gadis itu menoleh ke arah Ibu Rania dengan wajah ngantuknya dan saat itu juga Ibu Rania terkejut melihat sosok gadis dengan muka bantal menatap Ibu Rania.


DEGH !!!!


“Tania !!!” pekik Ibu Rania terkejut.


“Tania anak ibu,” ucapnya dan memeluk Tania yang belum sadar dengan situasi.


Mendengar nama Tania yang di sebut oleh Ibu Rania membuat jantung Andro berdebar kencang, ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya, rasa rindu yang sudah tiga bulan ini menyelimuti perasaan dirinya terhadap gadis bernama Tania.


Bahagia, tentu !! Siapa yang tidak bahagia ketika gadis yang dicintainya pulang ke rumah setelah beberapa bulan ia menghilang.


“Ibu,” ucap Tania lirih, sungguh saat ini ia sangat malu bertemu ibunya.


“kamu kemana aja sayang ?” tanya Ibu Rania.


“Tania, kerja di kota Berlin bu, Maaf !” ucapnya dan menangis.


Membuat Meila dan Moizila terbangun, Moizila merengek karena tidurnya terganggu.


“Mama,” rengeknya dan ingin menangis.


“Tan, kamu kenapa menangis ?” tanyanya yang belum sadar jika disana mereka tidak sendiri.


Tetapi, Tania tak merespon pertanyaan dari Meila yang mana membuat Meila kesal dan ketika Meila ingin meneriaki Tania, ia baru menyadari siapa yang membuat Tania menangis.


“Eh ! Ibu siapa ya ?” tanyanya pelan dan malu.


“Saya Ibu Rania , ibunya Tania,” kenalnya.kepada Meila.


“Oh, Ibunya Tania. Kenalkan Bu, Saya Meila dan ini anak saya Moizila,”


“Saya tetangganya Tania di Berlin,” ucapnya lagi.


Ibu Rania menyambut baik dan membawa mereka masuk ke dalam rumah dengan Tania yang masih menangis di pelukan sang ibu.


“Mei, anak kamu bawa ke kamar Kania saja !” seru Ibu Rania yang dibalas anggukan oleh Meila.


Andro yang duduk di sana merasa sedih dengan keadaan Tania, setelah mendengar cerita Meila yang menemukan Tania dalam keadaan berantakan. Menurut cerita Meila, Tania hendak dijual oleh seseorang yang berpakaian serba hitam, namun berhasil berlari karena orang itu lengah dan bertemulah Tania dengan Meila ditempat dimana Meila bekerja sebagai penjaga Roti di Berlin.


“Syukurlah, kamu selamat sayang” ucap Ibu Rania sambil mencium putrinya dengan sayang.


“Maafkan Tania,bu. Tania tidak mendengarkan larangan ibu hiks,”


“Iya sayang, sekarang kamu di sini ibu sudah sangat bahagia !” serunya dengan mata berbinar.

__ADS_1


Setelah berbincang sedikit, Tania berpamitan untuk membersihkan diri dikamarnya yang sudah tiga bulan ia tinggalkan. Sedangkan Ibu Rania, Andro dan Meila sedang mengobrol di ruang  tengah.


__ADS_2