
“Sayang kamu habis dari mana ? Ini bayi siapa ?” tanya Cortie beruntun.
“Habis nyusuin baby cantik ini, mas. Vale nggak tahu bayi siapa,” jawabnya santai.
“Kamu kasih bayi ini ASI kamu ?” tanya Cortie kaget.
“Iya, emang kenapa ?” tanya Valencia polos.
“Emang ASI kamu masih ngalir ?” tanya Cortie balik, bukannya menjawab Valencia meminta pendapat suaminya.
“Mas, kalau kita adopsi bayi yang ada di panti bagaimana ?” tanya Valencia meminta pendapat suaminya.
“Semua bayi ?” tanyanya tak percaya.
“Iya sayang,”
“Bagaimana ngurusnya ?” tanya Cortie bingung.
“Ya kita doong yang ngurusnya, pasti rumah kita ramai !!!” pekiknya hinga membuat Baby Aurora terbangun.
“Cup .. Cup, jangan nangis papi di sini !” seru Cortie dan ajaib Baby Aurora berhenti menangis dan ia kembali tidur.
“Wah, dia langsung berhenti menangis yang” ucapnya takjub.
“HA HA HA iya sayang,” ucap Valencia tak kalah heboh.
Hingga seorang anak perempuan menghampiri mereka dan meminta kembali Bayi Aurora yang ada di dekapan Valencia dari nadanya berbicara menyimpulkan bahwa anak perempuan itu ketakutan sehingga Valencia memberikan Bayi Aurora dengan rasa tak ikhlas.
“Maaf nyonya,” ucapnya dengan suara bergetar.
“Tak apa,” ucapnya tersenyum.
Anak perempuan itu langsung membawa Baby Aurora menuju tempat anak - anak panti asuhan berada. Terlihat jelas dari sudut pandang Cortie ada yang tidak beres dengan ibu dan pengurus panti.
Namun, tak ingin istrinya berpikiran jauh akhirnya Cortie meminta istrinya untuk menikmati acara yang berlangsung. Sedangkan di sisi lain, Papi Egind dan lainnya sedang membicarakan saudara kembar Riko yang sekarang tengah di rawat dan ditolong oleh seorang gadis yang tidak tahu siapa namanya.
“Jadi besok kita akan mengunjungi Riki dan berterima kasih kepada gadis yang menolong putra Bapak Rifal,” ucap Papi Egind.
“Iya begitu saja paman,” jawab Riko.
“Iya tuan, istri saya dari sore merengek untuk bertemu putra kami,” adu Bapak Rifal pelan takut istrinya mendengarkan aduannya ini bisa di geprek nanti.
“Ha ha ha, Bapak Rifal bisa saja. Baiklah besok kita akan ke rumah sakit, bagaimana Tuan Nic ?” tanya Daddy Archie.
“Boleh kok, silahkan !” ucap Daddy Nic tersenyum.
“Ya sudah berarti besok, kita pergi ke Rumah Sakit” putus Papi Egind.
“Ayo nikmati hidangan yang ada,” ucap Mommy Alica menggunakan microfon agar semua orang mendengar.
Semua orang pun menikmati berbagai hidangan yang tersedia, anak - anak bergabung bersama anak - anak panti. Mereka menikmati hidangan dengan iringan musik yang di pandu oleh Asisten Aaron dan Ardio.
Suasana menjadi sangat meriah, apalagi mereka berjoget ria karena musik koplo dibawa oleh Ardio. Sedangkan Rosse dan Luna mempersembahkan lagu yang tengah populer saat ini.
Dua jam kemudian, acara telah selesai tak lupa anak - anak panti mendapatkan hadiah dari Cortie dan juga Valencia. Setelah itu, Cortie meminta anak buahnya untuk mengantar semua anak - anak panti ke panti asuhan dengan selamat sampai tujuan.
Semua anak panti menaiki bus yang sudah di sediakan oleh Daddy Archie, tak lama bus itu berjalan meninggalkan halaman mansion keluar menuju jalan raya.
“Papi, Daddy , Mami, Mommy ada yang ingin kita sampaikan !” ucap Cortie mewakili istrinya.
“Ayo masuk dulu dan kita bicarakan di ruang tamu,” ucap Daddy Archie.
“Baik,”
__ADS_1
Di sinilah mereka berada, Daddy Archie dan lainnya berdiskusi setelah mengenai apa yang Valencia dan Cortie inginkan. Bukan mereka tidak mau tapi mengurus adopsi tentu harus mengikuti prosedur apalagi Valencia menginginkan semua bayi yang berada disana untuk di adopsinya.
“Apa kamu yakin ingin mengadopsi semua bayi di sana nak ?” tanya Mami Emili kepada putri sulung.
“Benar mami, apalagi ketika Vale melihat Baby Aurora membuat jiwa keibuan Vale ingin memilikinya dan merawat seperti anak Vale yang lainnya,” jawab Valencia.
“Kamu sudah tahu resikonya kan sayang ?” tanya Papi Egind.
“Vale tahu papi, jadi please ijinkan Vale dan Mas Cortie mengadopsi bayi - bayi di panti,” ucapnya memohon.
“Syarat -syarat nanti biar dibantu pengacara daddy saja,” tawar Daddy Archie.
“Serius dad ?” tanya Vale memastikan.
“Iya benar, jadi kapan kalian ingin mengadopsi bayi - bayi disana ?” tanya Daddy Archie.
“Besok daddy,” jawab Valencia semangat.
“Baiklah,”
Setelah membicarakan untuk mengadopsi bayi - bayi di panti asuhan, mereka kembali ke kamar masing - masing untuk mengistirahatkan diri.
Keesokan paginya, seperti apa yang di rencanakan tadi malam Valencia dan Cortie menyampaikan niatnya untuk mengadopsi bayi - bayi di panti asuhan kepada semua penghuni mansion.
“Jadi kami akan memiliki adik baru, pi ?” tanya Rosse memastikan.
“Iya sayang, bagaimana kalian suka ?” tanya Cortie.
“Kami suka, banyak adik ruamh akan ramai” ucap Luna dan Rosse.
Sedangkan Clark, Claire dan Baby Icad hanya mengikut - ngikuti kehebohan kakak - kakaknya.
“Semoga mereka menerima kehadiran bayi - bayi yang kita adopsikan ya, mas” ucap Valencia.
“Iya sayang,’
“Oh, baiklah ! kami akan menghampiri beliau,” jawab Valencia.
“Baik nyonya,”
Setelah kepergian maid bungsu 2, Daddy Archie mengajak Cortie dan lainnya untuk menemui pengacara keluarga Maxillie, tak lupa meminta maid sulung untuk membuatkan minuman dan cemilan ke ruang tamu.
“Hallo Pengacara Jack, apa kabar ?” sapa Daddy Archie.
“Hallo Pak Archie, kabar baik. Bagaimana dengan kalian sekeluarga kabarnya ?” sapa balik Pengacara Jackshon.
“Puji Tuhan baik,” jawab mereka semua.
“Syukurlah,” ucap Pengacara Jackshon.
“Jadi begini, pak. Anak dan menantu saya ingin mengadopsi bayi - bayi yang ada di panti asuhan XX, apa bapak bisa membantu anak dan menantu saya dalam mengurus persyaratan adopsi ?” ucap Daddy Archie.
“Bisa pak, kita harus mengikuti proses khusus yang di rancang untuk memenuhi persyaratan konvensi,”
“Tuan Cortie dan Nyonya Valencia harus menyelesaikan langkah - langkah sesuai urutan agar adopsi anda memenuhi semua persyaratan hukum yang di perlukan,” jelas Pengacara Jackshon.
“Persyaratannya ada apa - apa saja pak ?” tanya Cortie.
Pengacara Jackshon menjelaskan persyaratan - persyaratan apa saja yang harus dilakukan, ia juga menunjukkan beberapa surat - menyurat dalam proses pengadopsian. Semua orang disana mendengar dengan teliti agar nantinya tidak ada kesalahan yang berakibat fatal.
empat jam setelah berdiskusi akhirnya mereka menyelesaikan semua surat - menyurat agar secepatnya mereka dapat mengadopsi bayi - bayi yang ada di panti asuhan XX.
“Apa kita bisa mendatangi panti asuhan XX tersebut ?” tanya Valencia tak sabar.
__ADS_1
“Bisa hari ini juga, nyonya “ jawab Pengacara Jackshon.
“Ayo sekarang saja,” ucap Valencia yang sangat tidak sabaran.
“Baiklah kita bersiap - siap sekarang,” ajak Papi Egind.
Semuanya bergegas mengambil barang pribadi seperti dompet, ponsel dan kunci mobil. Setelah siap mereka masuk ke mobil masing - masing dan di jalankan masing - masing sopir yang bekerja.
Butuh waktu dua jam untuk sampai ke panti asuhan XX, namun baru 1,5 jam perjalanan Valencia melihat sosok gadis dengan menggendong seorang bayi berdiri di perempatan lampu merah dengan tangan yang memegang wadah sepertinya gadis itu hendak mengemis kepada pengendara yang terkena lampu merah.
“Mas, lihat disana !” tunjuk Valencia.
“Ada apa sayang ?” tanya Cortie heran.
“Lihat, itu seperti salah satu anak panti asuhan,” ucap Valencia membuat Corti ikut menarik kepalanya untuk melihat sosok gadis yang ditunjuk oleh istrinya.
“Gadis yang mendatangimu untuk mengambil Baby Aurora ?” tanya Cortie yang sedikit ingat gadis yang dimaksud oleh istrinya.
“Ia mas,” ucapnya senang.
“Tapi kenapa ia jadi pengemis seperti itu ? Bukannya kita rutin memberikan transferan kepada mereka setiap bulan ?” tanya Valencia heran.
“Ada yang tidak beres ini !” ucap Cortie geram.
“Sayang, bisa kah kalian duduk sedikit berhempitan ?” tanya Cortie menghadap kebelakang dimana anak - anaknya duduk.
“Bisa papi !” jawab Luna dan Rosse sedangkan Claire dan Clark duduk di samping supir.
Ketika gadis itu mendekat, Valencia menurunkan kaca jendelanya dan memanggil gadis itu untuk masuk. Gadis tersebut sangat terkejut melihat Valencia. Terlihat jika ia ingin pergi dari sana namun, Valencia dengan cepat mencegah dan memohon untuk gadis itu masuk kedalam mobilnya, dapat Valencia lihat jika Baby Aurora tertidur dengan sekujur tubuh yang memerah akibat sinar matahari.
Mau tak mau, gadis itu menurut untuk masuk ke dalam mobil dimana Valencia dan lainnya berada. Setelah gadis itu masuk, Valencia menawarkan bantuan untuk mengendong Baby Aurora yang tiba - tiba menangis keras. Cortie meminta supirnya untuk menjalankan mobil karena lampu sudah berganti menjadi lampu hijau dan pengendara lainnya sudah membunyikan klakson.
“Baby Aurora belum makan dan minum nyonya,” adunya lirih membuat Valencia dan yang lain melototkan mata tak percaya.
“Benar kah ? Kenapa tidak diberi makan ?” tanya Cortie heran, bahkan uang yang ia kirimkan harusnya sangat lebih dari cukup bukan ?
“iya tuan, kami harus bekerja terlebih dahulu baru bisa makan di panti “ ucapnya takut.
“Jadi selama ini kalian bekerja dan pengurus panti menggunakan uang yang dikirim oleh donatur untuk apa ?” tanya Cortie geram.
“Vellia kurang tahu kalau itu tuan, tapi setiap bulan pengurus panti selalu belanja entah itu pakaian atau barang lain,” ucapnya pelan.
“Apa kamu sudah makan ? Lalu saudara kalian dimana sekarang ?” tanya Valencia sambil memberikan Baby Aurora ASInya sedangkan Baby Icad hanya melihat saja tanpa mengganggu seolah ia mengerti bahwa bayi cantik itu sedang kehausan.
“Mereka ada di beberapa tempat bersama bayi lainnya,” jawab Vellia ragu untuk mengatakan semuanya kepada Valencia dan Cortie.
“Apa ?! Mereka membawa serta bayi untuk mengemis ??!” pekik Valencia tak terima.
Ia meminta suaminya untuk menghubungi Daddy Archie dan Papi Egind untuk menghubungi anak buahnya dan meminta mereka segera menemukan anak - anak panti yang mengemis di beberapa titik, sedangkan Cortie dan lainnya akan menunggu di restoran cepat saji yang tak jauh dari panti asuhan yang mereka tuju.
tak lama Cortie dan lainnya sampai di restoran cepat saji, mereka masuk ke ruangan VVIP dan segera memesankan makanan sambil menunggu kedatangan keluarganya yang lainnya.
"Kamu namanya siapa ?" tanya Cortie
"Vellia papi, tadikan dia sudah manggil namanya Vellia " celetuk Luna.
"Oh, maaf - maaf papi belum ngeh he he he," ucapnya malu.
"Tidak apa - apa tuan," ucap Vellia.
"Panggil kami papi dan mami, kami akan mengadopsi kalian semua. saya tidak mau kalian ditelantarkan seperti ini !" ucap Cortie yang bertekad untuk mengadopsi semua anak - anak di panti asuhan XX.
"Kaku sekali," ledek Luna usil.
__ADS_1
"CK !"
mereka semua tertawa dengan sifat usil Luna yang berhasil membuat papinya berdecih kesal, sedangkan Vellia tersenyum lega karena penderitaan anak - anak panti akan berakhir dan tak ada yang merasa kesakitan dan kelaparan setiap hari.