
Setelah menerima telfon dari guru nya dirga, aku buru buru melajukan mobil ku ke sekolahan nya dirga.
Sampai di sekolahan dirga aku buru buru memarkirkan mobil dan langsung menuju ruang guru tempat dirga berada.
Baru saja sampai di sana ,ku lihat ada beberapa orang guru dan empat orang anak kecil termasuk dirga dan juga beberapa orang lagi yang belom pernah ku lihat sebelum nya.
Kalau tak salah tebak mungkin mereka orang tua dari ke tiga anak anak yang bersama dirga.
" Assalamualaikum , maaf saya telat datang " ucap ku. Karena jarak tempat tadi dengan sekolah dirga memang sedikit jauh.
" Waalaikum salam, o bu Alana, tidak apa apa bu, mari silah kan masuk" ucap guru itu sopan.
Aku langsung masuk dan di persilahkan duduk di kursi yang sudah di sedia kan.
Sementara Dirga dan ke tiga orang teman nya tadi berdiri di sudut meja.
Aku memperhatikan dirga ,dia hanya diam saja dan tidak melihat pada ku sama sekali, dia menunduk dan hanya memperhatikan lantai.
Sementara ketiga teman nya yang lain, berdiri dengan keadaan yang sedikit berantakan.
Aku penasaran.
" Maaf sebelum nya ada apa ini ya pak?" Tanya ku tanpa basa basi .
" O iya bu lana, kebetulan ibu alana sudah datang.dirga dan..." Belom sempat guru itu melanjut kan kata kata nya. Tiba tiba saja ada seorang ibu ibu yang langsung menyerobot menyela pembicaraan guru itu.
" O jadi ini ibu nya anak berandalan itu,,, hey lihat,, ulah anak mu ,anak ku terluka begini, anak mu tak didik dengan baik ya maka nya jadi anak berandalan seperti ini." Ucap nya dengan nada ketus dan marah marah.
"Maaf maksud ibu apa ya?" Tanya ku masih tak mengerti.
"Masih tak mengerti juga? Dia anak mu yang bernama dirga kan?" Tanya ibu yang lain sambil menunjuk dirga dengan suara yang tidak suka.
" Iya dia putra ku,, kenapa?" Tanya ku berusaha menahan kesabaran.
" Putra mu sudah memukuli anak anak kami. Lihat lah mereka babak belur ulah putra mu yabg seperti preman pasar" ujar nya kemudian.
__ADS_1
Aku lumayan syok dan terkejut mendengar ucapan nya. Aku melihat ke arah dirga.
"Dirga ,,, kamu kenapa mukul teman kamu?" Tanya ku pada nya.tapi guru dirga yang menjawab
" Maaf bu mungkin ini hanya ke salah pahaman?"
"Kesalahpahaman bagai mana pak, anak anak kami terluka oleh anak berandalan itu,, kami minta ganti rugi. Karena anak berandalan itu sudah membuat anak anak kami kesakitan, .." belum sudah dia melanjutkan ucapan nya itu.
"Cukup.." teriak ku lantang.
Itu sukses membuat mereka yang ada di ruangan ini terkejut.
" Jangan coba coba menyebut anak ku dengan anak berandalan" ucap ku lagi dengan nada sedikit meninggi.
" Lihat, ibu nya saja begitu, pantas anak nya juga ,," ucap ibu tadi tak mau kalah.
"Bu sabar dulu bu, kami mengundang ibu ibu kemari untuk membahas dan menyelesai kan ini dengan cara baik baik" ucap bapak kepala sekolah dengan tegas.
Semua diam mendengar bapak kepala sekolah bicara.
" Begini bu,, Dirga tadi memukul ketiga teman nya secara membabi buta,,,, setelah kami tanya alasan nya, dirga tidak mau bicara, kami heran karena dirga yabg pendiam tak pernah sekali oun bermasalah dengan siapa pun di sekolah selama ini. Maka nya kami mengundang ibu lana kemari untuk meminta ibu menanya kan kepada dirga alasan dia memukuli teman teman nya, mana tau dia mau bicara jujur kepada ibu." Ucap kepala sekolah itu panjang lebar.
"Dirga, ke sini nak" ucap ku lembut, karena aku memang tak pernah bicara kasar dan membentak nya, sekali pun aku marah.
Anak ku itu mendekat tapi tetap saja diam. Dia mengangkat kepala dan melihat kearah ku, tapi tak ku lihat wajah penyesalan di muka nya, hanya kesedihan dan terluka yang terlihat di sana.
Aku sangat terkejut dia kenapa.
"Dirga kenapa menghajar teman teman dirga, mereka berbuat jahat sama dirga nak?" Tanya ku dan memegang tangan nya.
" Bun,,, apa benar aku anak pungut" ucap nya kemudian setelah lama diam.
"Deg"
Aku benar benar kaget bukan kepalang, tak menyangka dia mengatakan ini, tak mungkin dia tau kalau dia bukan anak kami, siapa yang memberi tahu kan nya.. aku menggeleng geleng kan kepala ku.
__ADS_1
"Siapa yang mengatakan itu nak,, " tanya ku pada nya .
"Mereka sering mengejek dan bilang aku anak angkat, kata nya aku di pungut dari tong sampah maka nya dirga memukul mereka bun, apa benar dirga bukan anak bunda?, " Tanya dirga dan air mata pun lolos tetes demi tetes.
Aku menggeleng kuat, "kamu anak bunda,,, siapa bilang kamu anak pungut" ucap ku dan memeluk nya,, .Dirga menangis dalam pelukan ku.
Semua orang diam melihat ke arah kami.
Aku tak terima dengan mereka menyalahkan anak ku. Setelah Dirga tenang baru lah aku melepaskan pelukan nya.
"Jadi sudah jelas di sini anak siapa yang salah?" Tanya ku pada mereka.
"Ya tapi tidak bisa begitu dong, ank ku terluka, harus tanggung jawab," kata salah satu wali murid itu tak terima.
" Jadi mau anda apa ?" Tanya ku lagi.
"Kami minta ganti rugi " jawab nya lagi.
Ini bukan masalah uang atau ganti rugi nya, tapi ini masalah pembenaran siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku jelas tak terima.karena memang anak ku tak salah.
"Apa anda tidak mendengar barusan apa yang di katakan anak ku, bahwa anak anak kalian mengganggu nya?" Tanya ku tersulut emosi lagi.
"Gak bisa begitu juga dong, lagian anak anak kami gak salah kok"
"Gak salah? Sudah jelas mereka bikin berita bohong kalian bilang tak salah?" Tanya ku tak mengerti.
"Ya kami dengar sendiri berita ini dari seseorang kok, dan kami juga tau itu" ucap mereka tak mau kalah.
" Siapa yang mengatakan kalo dirga bukan anak ku? "
"Ada se orang mbak mbak yang bilang kalo anak yang bernama dirga itu buka anak kandung melainkan anak pungut, dan dia juga tiap hari datang ke sini mengantar kan anak majikan nya kok" ucap mereka lagi?
Aku ingin bertanya lebih lanjut lagi tapi kepala sekolah langsung menyela .
Sudah sudah bu,, sekarang sudah jelas pokok permasalahan nya .
__ADS_1
Bearti yang salah di siki bukan dirga melain kan mereka bertiga yang sudah menghina dan membuly serta mengejek nya. Jadi masalah nya cukup sampai disini,," ucap kepala sekolah.
"Ya gak bisa begitu dong pak, bagaimana dengan luka luka anak kami, pokok nya kami minta ganti rugi 10 juta " ucap mereka.