
Kini kami telah tiba di rumah dan sedang berkumpul di ruang tamu.
" sally apa kamu baik-baik saja...." tanya alisa.
" aku baik-baik saja sa, kamu nggak usah khawatir gitu." ucap ku.
" apa tidak ada yang sakit...?" tanya kak rey memperhatikan anggota badan ku.
" aku baik-baik saja kak....." jawab ku tersenyum menatapnya.
" tapi siapa pelaku penembakan ilman..." tanya mbak nisa.
Semua terdiam seolah sedang berfikir, kemudian beralih menatap bagas dan nasya.
Flashback
" bagas lakukan sesuatu kalau tidak nyonya sally akan terluka... " ucap nasya.
" aku nggak tau harus berbuat apa sya..., kalau aku keluar sama saja membiarkan mereka membawa nyonya.." jawab bagas serba salah.
" trus kau mau biarin nyonya mati.., ha...." teriak nasya yang mulai kesal.
" aku harus apa sya...., katakan pada ku." balas bagas bingung.
" senjata mu mana... "
" ini maksud kamu... " ucap bagas mengeluarkan pistolnya.
" tembak dia..." balas nasya menunjuk ilman.
Bagas mengangkat senjatanya dan mengarahkannya pada punggung ilman, ia membidik tepat di bagian jantung ilman dan...
__ADS_1
" mengapa kau diam..., ayo lakukan. " ucap nasya.
" apa kau yakin....?" tanya bagas.
" aahhggg, dasar bodoh....." kesal nasya.
Nasya yang mulai kesal dengan tingkah bagas mengambil alih pistol itu dan menembakannya tepat pada bagian jantung ilman.
" mudahkan.... " ucap nasya mengembalikan pistolnya pada bagas.
Bagas membuka mulutnya seolah tidak percaya dengan apa yang barusan ia saksikan.
" apakah kau pembunuh berdarah dingin...?"
" mengapa kau melihat ku seperti itu.., apa kau mau bernasip sama sepertinya." bentak nasya menunjukkan ilman yang sudah tersungkur tak berdaya.
" tidak, aku hanya sedikit bingung denganmu.."
Flashback end
" mengapa semua menatap kami..... " tanya nasya gugup.
" jelaskan bagas...., aku tau ini ulah mu." ucap kak rey.
Bagas tampak bingung dan menatap nasya meminta pertolongan.
" apa benar kamu yang melakukannya...?" tanya kak rey.
" maafkan saya tuan..... " ucap bagas menunduk.
" tuan rey sangat membenci seorang pembunuh. Aku nggak mungkin membiarkan bagas menanggung semua kesalahan ku."
__ADS_1
" bagas saya tanya sekali lagi..., kamu yang melakukannya...? " tanya kak rey.
Bagas terdiam dan menundukkan kepalanya.
" i......."
" saya yang melakukannya tuan......" ucap nasya di sela kegugupan bagas.
" saya sudah menduga, karna yang saya tau bagas anti dengan pembunuhan, dan selama bekerja dengan saya dia selalu berhasil menangkap musuhnya dalam keadaan bernyawa." ucap kak rey.
" maafkan saya tuan, saya hanya takut nyonya yang mengalami apa yang ilman alami saat ini... " balas nasya.
" nasya kamu sangat mengenal saya bukan, dan kamu juga tau kalau saya sangat membenci hal itu... " ucap kak rey.
" maafkan saya tuan...." ucap nasya menunduk.
" nasya..nasya, saya berterima kasih banyak sama kamu, saya bangga dengan keberanian kamu. Sekali lagi terima kasih. " ucap kak rey.
Nasya mengangkat wajahnya dan melihat ke arah kak rey.
" tuan tidak akan memecat saya.....?" tanya nasya yang menyangka kak rey akan membuangnya dari perusahaan.
" siapa yang akan memecat mu...., apa kau telah bosan bekerja dengan ku hingga kau meminta di pecat...." tanya kak rey.
" tidak tuan, saya tidak pernah bosan bekerja dengan tuan....terima kasih telah memaafkan kesalahan saya." ucap nasya dengan mata yang sudah berlinang.
" itu bukan kesalahan tapi sebuah penyelamatan. Baiklah kau wanita yang kuat bukan...., jangan biarkan air matamu jatuh karna itu akan menjatuhkan derajat mu. " ucap kak rey tertawa kecil.
" iya sya tuan benar, kamu akan terlihat lemah jika menangis...." ledek bagas di iringi tawa renyahnya.
" lo ledekin gue...., " ucap nasya menatap bagas tajam, membuat seisi rumah tertawa melihat tingkah mereka.
__ADS_1