
Sepulang dari rumah sakit aku dan mas rey memutuskan untuk menginap di hotel karna hari mulai larut dan tidak memungkinkan untuk pulang.
" mas anak alisa lucu ya..." ucap ku yang tengah bersandar di bahu mas rey.
" iya sayang..., anak kita juga nanti akan lucu dan tampan jika dia laki-laki." balasnya.
" mas yakin....."
" iya sayang....,ummmuaah." jawab mas rey sambil mencium pucuk kepalaku.
" tidur yok mas, aku ngantuk..." rengek ku dengan manja.
" ya sudah mari..... " akhirnya dan menuntun ku menuju ranjang.
******
Hembusan angin malam mengalun lembut menyapa dua insan yang sedang terpaku dan malu-malu itu, keduanya tampak kaku dan saling diam satu sama lain.
" apa yang harus aku lakukan, mengapa baju ini susah sekali di buka. " batin fika yang muali jenuh dengan bajunya.
Kak rian memasang wajah bingung melihat istrinya dengan ekspresi kesal.
" ada apa....?" tanya kak rian mencairkan suasana.
" ti...tidak a...da kak. " jawab fika terbata.
Keduanya kembali diam, tak lama kemudian fika bangkit dari duduknya dan melangkah hendak keluar kamar.
__ADS_1
" mau kemana...?" tanya kak rian.
" mau ke kamar mama kak."
" mau ngapain kesana.?"
" hmm a..nu kak, mau mintak tolong bukain ini..." ucap fika menunjuk res belakang bajunya.
Tawa kak rian pecah mendengar penuturan istrinya.
" hahahahaha......" tawa kak rian sambil memegang perutnya.
" apa yang kakak tertawakan...?" tanya fika kesal.
" kamu lucu sekali...., hahahaha. " balas kak rian masih dengan tawanya.
" biar aku bantu...." ucap kak rian.
" ha....," balas fika membulatkan matanya.
" kenapa...?"
" kakak yakin..." tanya fika memastikan.
Kak rian menuntun fika menuju sofa dan mendudukan sang istri disana. Kedua tangannya ia letakkan di bahu fika dan menatap lekat wajah cantik istrinya.
" aku suami kamu tidak ada yang salah jika aku yang melakukannya..., lagian mama sama papa pasti sudah tidur." ucap kak rian santai.
__ADS_1
" tapi kak......"
Belum sempat fika menyelesaikan ucapannya kak rian membalikkan tubuh mungil fika dan membuka res baju yang sedang fika kenakan.
Fika hanya pasrah dan membiarkan kak rian membukanya, meski dalam hatinya ia sangat malu.
" apa sudah selesai kak...? " tanya fika merasa kelamaan.
" hmmm, sudah." ucap kak rian masih memandang punggung istrinya.
Kak rian menelan ludahnya melihat punggung mulus fika, hasratnya mulai naik dan tak dapat ia tahan. Ia menarik fika kedalam pelukannya dan mencium punggung fika dengan lembutnya.
Fika kaget dengan tingkah suaminya, ia membalikkan badannya menghadap sang suami.
" apa kakak menginginkannya?" tanya fika serius.
" apa boleh...." balas kak rian meminta izin.
Fika menggenggam kedua tangan suaminya dan menatap lekat manit hitam di hadapannya.
" itu hak kakak, aku akan berdosa jika melarang kakak bukan." jawab fika dengan lembut.
Kak rian tersenyum penuh arti, ia benar-benar bersyukur memiliki istri yang pengertian dan lembut seperti fika.
Setelah mendapat izin, kak rian langsung menuntun istrinya menuju ranjang mereka, ia membaringkan fika disana dan memulai kegiatannya.
Fika hanya pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh orang yang sangat ia cintai itu.
__ADS_1
Salam manis semua 😄🙏