
"ada apa ma??" sapa Tomi dengan suara datar. Menekan keras kerinduannya kepada mamanya.
"Mama sangat merindukan mu nak. Pulanglah..." ucap Bu Yanti, Mama Tomi.
"Tomi akan pulang nanti, ma. Jika Tomi sudah mampu menenangkan hati Tomi ini. Jika mama merindukan ku, mama bisa menelponku." ucapnya lagi.
"Mama sudah berulang kali menelpon mu, tapi kau telah memblokir nomor mama dan papa , ya kan?" ucap Bu Yanti.
Tomi menghela nafas berat. Dia lupa jika dia memang memblokir nomor Ponsel Mama dan Papanya juga nomor telpon rumahnya.
" Pulanglah nak, Mama menunggu mu. Dan masalah perjodohan itu, kau bisa membicarakannya pada Papa mu." ucap Bu Yanti lagi.
"Atau kau ingin Mama meninggal dulu, batu kau akan kembali ke rumah?" ucap Bu Yanti.
"Tidak, Ma jangan ucapkan itu. Baiklah Tomi kan pulang, malam ini." jawab Tomi.
"Mama tunggu." ucap bu yanti mengakhiri telponnya. Dengan senyum bahagia karena berhasil membuat anaknya pulang ke rumahnya.
Tomi kembali menghela nafas dengan berat. Terbayang pertengkaran nya dengan sang Papa beberapa waktu yang lalu. Dan berakhir dengan kaburnya dirinya.
__ADS_1
Benar yang di ucapkan oleh Radit, aku harus pulang dan menyelesaikan masalah ini. Dengan pergi seperti ini, bukannya menyelesaikan Masalah malah membuat aku menjadi seorang pengecut. Aku akan pulang dan menemui papa, untuk berbicara.
Rania yang sudah menyelesaikan tugasnya berjalan menuju ke meja Tomi.
"Ini Boss, tugasnya." ucap Rania.
"Letakkan disitu." ucap Tomi Masih terus melamun.
"Rania, bagaimana menurutmu jika seseorang tidak mau dijodohkan, apa yang harus dia lakukan untuk menolaknya?" tanya Tomi tanpa sengaja.
Rania terkejut dengan pertanyaan Tomi, "Jika saya yang diposisi itu, saya akan tetap mempertahankan cinta saya dan memilih hidup bersama dengan kekasih saya. saya tidak mau menikah tanpa rasa cinta." ucap Rania tegas.
'Iya saya akan tetap menolak. Ini Hidup saya dan saya berhak menentukan pilihan saya, Maaf apa bapak sedang di jodohkan?" tanya Rania menyelidik.
"Tidak, saya hanya bertanya." jawab Tomi menyadari jika dia hampir saja memberitahukan masalahnya.
"Saya tahu ini Masalah bapak kan? Saran saya segeralah mencari pasangan pak, yang sesuai dengan usia bapak." ucap Rania pelan namun bagai tamparan keras buat Tomi.
"Apa maksud mu? Kau pikir aku Tidak punya pacar??" tanya Tomi marah. Wajahnya sudah merah dengan emosi yang memuncak. Perkataan Rania sukses membuatnya tersinggung.
__ADS_1
"Bukan kah yang saya ucapkan benar. Mengapa bapak marah??? Jika bapak punya pacar, kenapa tidak bapak bawa saja ke hadapan orang tua bapak, dan minta mereka untuk merestui dan menikah kan bapak. simpel kan!!! Kecuali apa yang saya katakan benar, bahwa bapak tidak punya pacar alias jomblo." ucap Rania kembali.
"Kau....!!!!! Tomi menunjuk Rania dengan ujung jari telunjuknya. Menyatakan jika dia benar benar marah.
"Slow Boss, jangan marah marah nanti boss cepat tua." kembali Rania mengatai Tomi. Sukses membuat Tomi merah padam menahan emosinya.
"Kau, ketik ulang semua berkas di map biru itu, dan aku ingin dalam satu jam sudah selesai.," ucap Tomi.
"Tapi pak???" protes Rania.
"Kau tidak mau melakukannya, Ok aku kan panggilkan polisi sekarang. Dan kau..."
"Baik, akan saya kerjakan sekarang. Bapak tenang aja." ucap Rania meraih map biru diatas meja dan segera berlari ke meja kerjanya.
Puas rasanya bisa membungkam mulut pedasnya.
Itu baru permulaan, aku akan membuatmu tidak tenang, dan segera membebaskan ku dari perjanjian itu. Ha haha... emang enak jadi jomblo akut...
Rania tersenyum bahagia atas kemenangan nya.
__ADS_1