
Tanpa terasa taksi yang Rania tumpangi sudah sampai di tempat tujuan.
"Maaf, mbak. Kita sudah sampai." ucap supir taksi mengagetkan Rania dari lamunannya.
"Eh...iya Pak." ucap Rania pelan.
Rania turun dari taksi, setelah membayar ongkosnya. Bahkan Rania tidak meminta kembaliannya.
Rania berdiri memandang pagar rumah yang sudah lebih satu bulan dia tinggalkan. Rasa rindu menyeruak memenuhi hati dan pikirannya. Bayangan wajah sang mama, semakin menambah rasa rindunya.
Mama, Rania ingin segera memeluk mamanya dan menumpahkan semua kesedihannya dan kekecewaannya.
Tahu akan begini, lebih baik aku menuruti keinginan Papa, Maafkan aku Ma,Pa. ucap Rania dalam hati.
Rania menarik nafas panjang sebelum kemudian melangkah maju untuk memencet bel rumah nya.
Saat tangannya hampir menempel di tembok, tiba tiba hatinya meragu.
Jika nanti Tomi tahu aku pulang ke rumah, dia pasti akan mendatangiku. Dan sudah pasti dengan mudah nya dia menemukan alamat rumahku. Apa yang harus aku lakukan???? Aku masih belum ingin menemuinya.! Aku masih belum siap.Aku benci melihat wajahnya, aku benci....semua yang dia ucapkan palsu, semuanya bohong...aku nggak mau ketemu Tomi, aku...aku....
Apa sebaiknya aku pergi saja??? tapi kemana?
yah, aku harus pergi. Setidaknya sampai hatiku merasa tenang. Setelah nanti hatiku merasa tenang, aku akan kembali.
Mama maafkan Rania, Ma. Maafkan Rania, karena belum bisa membahagiakan mama dan papa. Maaf, Rania harus pergi lagi..
Rania kembalikan menarik ranselnya dan berjalan kearah jalan raya. Kemudian memberhentikan taksi yang lewat dan memintanya diantar ke stasiun.
Rania sudah bertekad untuk pergi jauh. Kali ini dia benar benar ingin pergi jauh dan melupakan semua kenangan akan kehidupan nya yang penuh drama dan sandiwara. Untuk sejenak Rania ingin melupakan semua permasalahan nya dan juga sakit hatinya akan sikap Tomi.
Taksi sudah sampai di stasiun dan rania pun turun. Kini dia bingung, kemana dia akan pergi. Dia berjalan lunglai dan duduk di halte.
Hilir mudik orang orang di stasiun tidak mengganggu Rania yang sedang melamun.
Kali ini pikiran nya benar benar kalut. Tak memiliki tujuan dan arah. Pikirannya kembali menjadi bimbang, antara terus maju atau kembali pulang kerumah. Tapi jika dia kembali dia pasti akandipaksa mengulikutu kemauan orang tuannya. Dan lagi pasti Tomi akan mencari nya. Dan Rania belum mau itu.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Rania mengambil keputusan.
Didorong oleh kekecewaan, amarah dan sakit hati membuat tekad nya menjadi bulat, dan Rania sudah mengambil keputusan jika dia akan pergi, Entah sampai kapan! dirinya sendiri pun tak tahu. paling tidak untuk sementara waktu hingga hatinya merasa tenang.
__ADS_1
Dengan langkah mantap Rania naik ke atas sebuah bus. Diliriknya bangku kosong dan kemudian dia duduk disana. Disebelahnya telah duduk seorang wanita paruh baya. Dari penampilannya dia hanya wanita biasa yang mungkin berbelanja atau berjualan ke kota.
Rania memilih memejalkan matanya dan tertidur.
Satu jam perjalana telah berlalu. Bus masih melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Langit sudah gelap terlihat jelas dari jendela kaca di sebelahnya.
Rania memperhatikan sekitarnya, diliriknya wanita tua yang duduk disebelahnya, wanita tersebut tampak kesusahan menyusun barang banjaannya yang lumayan banyak.
"Perlu bantuan, Bu?" ucap Rania.
Wanita itu menoleh dan tersenyum, "Bisa pegangkan ini sebentar?" ucapnya menyodorkan tas kresek berwarna hitam berisi barang belanjaannya.
Rania menerimanya dan kini membantu memegangnya. Kemudian wanita tua itu mulai menyusun barang barang bawaannya hingga menjadi satu dan tersusun rapi.
"Terima kasih, nak." ucap wanita tua itu ramah. Mengambil kembali kantong kreseknya dari tangan Rania.
"Tidak apa apa, Bu. " jawab Rania.
"Kamu mau ke Mekar sari, juga?" tanya wanita tua itu masih dengan senyum ramah.
"Mekar sari!" ulang Rania pelan.
"Iya, ini bus tujuan desa Mekarsari, Apa neng mau kesana juga?" ucap wanita tua itu.
Kemana aku pergi ini?, tapi sudahlah yang penting aku bisa pergi jauh dari Tomi dan tidak bertemu dia lagi. bathin Rania.
Setelah itu Rania memejamkan matanya kembali dan berpura pura tidur.
Wanita tua tersebut melirik Rania dan matanya melihat tas ransel yang di bawanya, kemudian dia tersenyum tipis. "Dasar anak muda." gumannya pelan.
Rania yang baru saja coba memejamkan matanya terusik oleh bunyi ponselnya yang terus saja berdering.
dengan malas dia mengambil ponselnya dari tas sandang yang dia bawa. tertulis nama sayangku, yang berarti adalah Tomi. Rania malas mengangkatnya dan malas berbicara dengan Tomi.
Ponselnya terus saja bergetar, untungnya Rania sudah membuatnya dalam mode silent.
Tomi terus saja menghubungi Rania. Rasa khawatir mulai menggelayuti dirinya, saat ponselnya tersambung tapi tak juga diangkat.
Tomi sudah berdiri di depan ekost Rania, namun dari keterangan satpam dan juga pemilik rumah bahwa Rania sudah tidak lagi tinggal disana, menambah rasa khawatir di hati Tomi.
__ADS_1
Atau jangan jangan dia kembali ke rumah orangtuanya, ya. aku harus memastikan nya sendiri. bathin Tomi.
Kembali dia menaiki mobilnya dan melajukannya ke rumah Rania.
Rania akhir memutuskan untuk melupakan Tomi dan semua sakti hatinya. Dia meremas tangan nya sendiri, mengurai sakit hatinya yang bagai diremas remas.
Mata Rania menatap cincin yang disematkan Tomi di tepi danau. Hatinya semakin teriris.
semua sikap manis dan romantis yang di tunjukkan ya hanya sandiwara. Aku benar benar kecewa. Tomi jahat...sangat jahat....
kembali cairan bening itu keluar tanpa permisi. terjun bebas membasahi pipi Rania.
Rania meraih ponselnya, kemudian dia melepas cincin yang dia pakai dan mengambil gambarnya
Rania mengirimkan gambar cincin tersebut berisi pesan.
Terima kasih untuk semua kesedihan dan luka yang telah kau torehkan, dan kau berhasil. Aku benar benar telah jatuh cinta dan masuk dalam perangkap mu dengan mudah. Dengan bodohnya aku percaya dan menyerahkan hatiku padamu.
Aku mengembalikan cincin ini, terima lah karena aku tak pantas menggunakannya. Aku yang begitu bodoh telah pernah bermimpi untuk menjadi istri mu. Semoga kau menemukan jodoh yang baik. Maaf aku pergiii. Terima kasih untuk cinta yang kau berikan, Aku sangat bahagia, walau ternyata itu hanya sandiwara.
Rania
Pesan terkirim, terlihat centang dua. Kemudian Rania mematikan ponselnya. Karena dia yakin pasti Tomi akan terus menghubunginya. Tekadnya sudah bulat, dia akan pergi jauh.
Tomi menghentikan mobilnya di tepi jalan, melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Yang dia tahu jika itu pesan dari Rania, karena Tomi memasang nada dering yang berbeda dari penggilan biasa.
*Akhirnya kau menghubungi ku, dimana kau sayang ...aku sangat mengkhawatirkannya mu.
Tomi mengambil* ponselnya dari saku dan mulai membaca pesan yang Rania kirim. Wajahnya berubah pucat, tangannya gemetar dan hatinya bagai di iris iris membaca pesan yang dikirimkan Rania.
Apa ini? mengapa jadi begini? dari mana Rania tahu semua ini?? pertanyaan pertanyaan itu terus berputar di kepala Tomi, hingga beberapa saat dia baru bisa menguasai dirinya.
Rania pergi!!! tapi kemana?!???
Alarm tanda bahaya di kepala Tomi berbunyi, dengan cepat dia menelpon semua anak buahnya dan memerintahkan mereka untuk mencari Rania.
Tomi memukul stir mobilnya dengan keras, meluapkan kekesalannya.
Kita akan crazy up ya....
__ADS_1
Mau????
Caranya gampang tekan like, vote dan pavorite. Terima kasih...