Pencopet Cantik

Pencopet Cantik
Kabur


__ADS_3

Rania sedang menunggu angkot di halte yang letaknya tidak jauh dari kantor mereka. Melirik ke arah kiri dan kanan, sesekali memandang jam di tangannya. Berdecak kesal dan menghentakkan kakinya.


"Kenapa lama sekali, padahal ini sudah hampir malam." guman Rania pelan.


Mobil Tomi tidak sengaja melintas karena ingin kembali ke rumah. Otomatis dia melewati jalan yang sama dengan Rania.


Mobilnya sudah melewati halte, tapi tiba tiba Tomi menghentikan mobilnya. Diliriknya kembali Rania yang sedang menunggu angkutan umum. "Dia sendirian, apa dia tidak takut peristiwa kemaren terulang kembali, dasar gadis keras kepala." guman Tomi.


Tomi tampak berpikir, antara turun atau membiarkannya sendirian. Lama menunggu, hingga tidak dia sadari sebuah angkot telah berhenti dan Rania naik ke atas nya.


Tomi melirik kembali ke arah Rania, namun dia tidak menemukan siapapun disana.


"Kemana perginya gadis itu?" ucap Tomi pelan.


Dia mengedarkan pandangan nya dilihatnya sebuah angkot telah berjalan menjauh dari tempatnya, Tomi baru menyadari jika Rania telah naik ke atas angkot tersebut. Dan dia bernafas lega.


Tomi kembali melajukan mobilnya, kembali ke apartemen nya. Dia masih enggan pulang ke rumah orang tuanya.


Sesampai di kost nya Rania turun dan berjalan masuk kedalam gerbang. Membuka pintu dan mengambil kunci kamarnya. Membuka pintu kamar , melangkah masuk dan menghempaskan tubuhnya diatas kasur yang berukuran sangat kecil.


Rania menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kuat. Lelah sekali rasanya hari ini. Ternyata seperti ini rasanya menjadi seorang OB. Sungguh melelahkan, dengan gaji yang tak seberapa. Belum lagi disuruh ini dan itu oleh Boss nyebelin seperti Tomi. Kadang disertai cacian dan hinaan yang diucapkan para atasan jika melakukan kesalahan.


Kembali dia teringat akan Tomi. Boss angkuh dan sombong. Walau sebenarnya Rania tahu jika Tomi orang yang baik, buktinya dia mau menolong Rania saat Rania hampir diperkosa oleh dua orang preman malam itu.


Tapi jika mengingat kata kata dan sikapnya yang angkuh, Rania kembali merasa kesal.


"Apalagi yang akan dia lakukan besok padaku?" ucap Rania pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tapi aku tak boleh menyerah, jika tidak ingin pulang ke rumah dan mengikuti semua keinginan Papa.


Rania teringat akan Papa dan Mamanya. Pikiran melayang akan kejadian beberapa hari yang lalu.


Flash back on


Rania yang baru masuk kedalam rumah di panggil mama dan Papanya.


"Sayang.. Kesini sebentar. Papa mau bicara dengan mu." ucap Bu Tiwi memanggil Rania yang sudah menaiki tangga untuk naik ke atas ke kamarnya.


Rania kembali turun dan duduk di sebelah Mamanya.


"Ada apa sih Ma? tumben, biasanya juga langsung ngomong." ucap Rania.


"Begini, nak." ucap pak Hutomo Papa Rania. Dia menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kuat sebelum melanjutkan kalimatnya.


Rania sedikit heran melihat sikap Papa dan mamanya yang tidak seperti biasanya.


Rania semakin bingung dengan ucapan pak Hutomo yang berbelit belit.


"Dulu Mama memiliki janji dengan sahabat Mama, Jika mama memiliki anak Perempuan, mama akan menjodohkan nya dengan anak sahabat Mama itu yang kebetulan berjenis kelamin laki laki. Dan kini karena kamu satu satunya anak perempuan Mama , maka mama akan menjodohkan mu dengan nya." ucap Bu Tiwi.


"Tapi Ma, Rania masih kecil dan Rania juga masih kuliah?" ucap Rania membantah.


"Tidak masalah, kamu bisa kulaih setelah menikah." jawab pak Hutomo.


"Lagipula usia calon suamimu sudah tidak muda lagi, sudah pantas dan matang untuk menikah. Jadi Papa rasa dia cocok dengan mu yang masih kekanakan. Dia akan membimbing mu." lanjut pak Hutomo.

__ADS_1


"Jadi maksud Papa dia sudah tua?" ucap Rania dengan nada tinggi seakan tak percaya jika orangtuanya tega menikahkan nya dengan pria tua.


"Tidak, Rania tidak mau...Rania nggak mau!" ucap Rania histeris.


"Papa tidak menerima penolakan. Minggu depan calon suami mu dan keluarganya akan datang, jadi Papa harap kamu bisa bersikap sopan, dan menjaga nama baik keluarga kita."


"Tapi Pa!!"


"Tidak ada tapi tapian, Papa dan Mama sudah memutuskan kau akan tetap menikah dengan ardi anak dari sahabat Mama mu."


Rania menatap Mama nya memohon pertolongan, namun Mamanya hanya diam. Rania tidak terima dengan keputusan ini, dia berlari ke kamarnya dan menutup pintu nya dengan keras.


Mamanya ingin bangkit dan membujuknya tapi pak Hutomo melarangnya.


"Biarkan saja Ma, dia masih butuh waktu untuk menerima semua ini. Biarkan dia sendiri dan merenung. Besok pasti dia akan mengerti." ucap pak Hutomo.


Rania menangis di dalam kamarnya, "Bagaimana bisa orangtuanya menjodohkan dia dengan orang yang belum dia kenal, apalagi tadi mereka bilang sudah tua.


Rania membayangkan ucapan mamanya, pria tua, botak dengan perut buncit, yang menyeramkan. Membuatnya bergidik ngeri.


Rania tidak mau mempertaruhkan hidupnya dengan pernikahan yang dianggapnya konyol.


Dia mengemasi barang barangnya dan memasukkannya kedalam ransel besar. Mengambil dompet dan ponselnya. kemudian bersiap kabur dari rumah.


"Kabur, ya aku harus kabur. Aku tidak mau menikah dengan pria tua, gendut, botak pilihan Papa." ucapnya pelan.


Dengan mengendap endap rania membuka pintu belakang dan keluar dari sana. Setelah sampai di luar pagar Rania segera memanggil taksi dan pergi meninggalkan rumahnya. Tekadnya sudah bulat, dia akan kabur dan Papanya pasti akan membatalkan pernikahannya.

__ADS_1


Flash back Off


Bantu like vote and koment, terima kasih.


__ADS_2