
Mereka telah sampai di pelataran parkir kantor JW Corporation. Dengan langkah cepat Tomi berjalan sengaja meninggalkan Rania yang terpaksa mengikutinya dengan setengah berlari.
Rania berjalan dengan sedikit mengomel di dalam hatinya. Hingga tiba tiba Tomi berhenti dan berbalik, Rania yang tidak memperhatikan langkahnya menabrak Tomi dan hampir terjatuh.
Untung saja Tomi dengan sigap menangkap tubuhnya. Jika tidak, sudah di pastikan Rania pasti sudah mencium tanah.
Tomi melingkarkan tangannya di tubuh Rania, Menjaga keseimbangan agar Rania Tidak terjatuh. Begitu sebaliknya Rania memeluk erat Tomi karena takut terjatuh.
"Kau tidak apa apa?" tanya Tomi khawatir. Karena Rania hanya diam dan memandangnya.
Rania yang terdiam sejak tadi masih bengong dan memandang wajah tampan Tomi.
"Kau tak apa apa, kan. Kenapa kau diam saja?" tanya Tomi lagi.
"eh..." Rania baru menyadari posisinya yang memeluk Tomi. Wajahnya menjadi merah. Dengan cepat dia bangkit dan melepaskan diri dari Tomi. Merapikan bajunya.
"A..aku tidak apa apa, terima kasih." ucapnya pelan.
Rania jadi salah tingkah, begitu juga dengan Tomi. Suasana menjadi canggung.
Tomi kembali melangkah berjalan memasuki gedung JW Corporation. Rania mengikutinya dari belakang. Kali ini langkah Tomi tidak secepat tadi.
"Selamat siang, Pak. Anda sudah di tunggu Mr.Josep di ruangannya. Mari saya antar." sapa sekretaris nya yang sengaja menunggu Tomi di lobi.
Tomi dan Rania mengikutinya dari belakang. Ririn adalah sekretaris Mr.Josep yang tertarik dengan Tomi. Siapa yang tidak tertarik dengan pengusaha muda dan tampan seperti Tomi. Di tambah lagi Tomi tidak pernah terdengar memiliki kekasih.Semua gadis menyukainya. Tak tinggal Ririn yang diam diam menaruh hati buat Tomi.
"Siang, Pak." Ucap Tomi begitu memasuki ruangan Mr.Josep.
"Eh.. Pak Tomi, jangan terlalu sungkan. Santai saja." ucap Mr.Josep menyambutnya. Mereka berdua duduk di sofa.
"Ini kontrak kerjasama kita, Pak." ucap Tomi menyerahkan berkas kerjasama yang di pegang Rania.
"Ok, seharusnya pak Tomi tidak perlu repot mengantarnya sendiri. Asisten saya bisa mengambilnya. Oh..ya ..Ini siapa anda??? kekasih??" tanya Mr.Josep melirik kearah Rania.
Rania yang di pandang menjadi merasa risih.
"Dia sektretaris pribadi saya." ucap Tomi.
"Saya pikir kekasih anda. Cantik sekali. Dan sangat cocok deangan anda." ucapnya lagi dan masih memandang Rania dengan tatapan tajam tak mau berkedip.
"Terima kasih." jawab Rania menunduk hormat.
"Jangan sungkan, nona." jawab Mr.Josep.
"Saya mengundang anda untuk makan malam, sebagai perayaan kerja sama kita, dan anda tidak boleh menolaknya." ucap Mr.Josep.
"Baiklah, saya akan datang." jawab Tomi.
"Ok, malam ini di restoran x, jam delapan malam. Sampai ketemu disana. Senang bisa berbisnis dengan anda." ucap Mr.Josep Menjabat tangan Tomi.
"Sama sama .Terima kasih." jawab Tomi.
"Jangan lupa untuk membawa calon istri anda, karena saya akan membawa istri saya." ucap Mr.Josep yang sukses membuat Tomi tersenyum kecut.
__ADS_1
Rania tertawa di dalam hatinya. Dia yakin 100 persen jika Tomi tidak punya kekasih terlihat jelas dari raut wajahnya yang masam. Senyumnya begitu terpaksa.
Tomi dan Rania kembali menaiki mobil untuk kembali ke kantor. Kebisuan masih membentang diantara mereka.
Rania langsung turun dan berjalan lebih dulu begitu mobil mereka berhenti.
Tomi yakin, jika Rania sengaja menghindarinya.
...****************...
"Malam ini kau temani saya makan malam dengan Mr.Josep." ucap Tomi dengan ekspresi datar.
"Maaf, Pak tapi saya tidak bisa." jawab Rania menolak.
"Tidak bisa. Kau harus ikut dengan ku." potong Tomi cepat. Dia sudah menduga jika Rania pasti menolaknya.
"Maaf, Pak Boss. Mr.Josep meminta bapak mengajak calon istri bapak, bukan saya!" jawab Rania enteng. Sengaja memprovokasi Tomi.
"Terserah saya, mau mengajak siapa. Dan kau..." tunjuk Tomi dan memandang nya tajam.
"Kau tidak bisa menolak, ingat perjanjian kita. Atau kau..." Tomi sengaja menggantung kalimatnya menunggu reaksi Rania.
Dengan muka masam dan bibir mengerucut Rania akhirnya mengangguk setuju.
Dasar boss otoriter, suka sukanya memerintah. Tunggu saja begitu perjanjian itu berakhir, aku akan membalasnya.
Tomi bangkit "Ayo, kau ikut denganku.!" ucap Tomi yang sudah berjalan keluar.
"Tapi kita mau kemana, Pak? Bukan kah acaranya masih nanti malam." Protes Rania.
"Bapak sih, ngapain juga ngajak saya. Makanya Ajak Pacar dong! biar nggak malu maluin. Atau memang bapak tidak punya pacar, kasihan." ucap Rania pelan. Namun dapat di dengar oleh Tomi.
Tomi berbalik dan Rania langsung menutup mulutnya. Sadar jika Tomi mendengar semua ucapannya.
Tomi kembali berjalan diikuti Rania dari belakang. Dia sudah membungkam mulutnya.
...****************...
Tomi membawa Rania ke butik yang sangat besar dan terkenal di kota.
"Pilihkan baju yang paling bagus dan yang cocok untuknya" ucap Tomi kepada pelayan.
"Baik, tuan. Nona mari ikut dengan saya." ucap pelayan berjalan mendahului Rania.
Dengan langkah malas Rania mengikuti pelayan tersebut.
Rania keluar dari ruang ganti dengan gaun panjang tanpa lengan.
Tomi memandang takjub, Rania terlihat cantik. Namun Tomi tidak suka dengan model gaun tersebut yang berkerah rendah.
"Ganti" ucap Tomi.
Kembali Rania mengikuti pelayan untuk mengganti bajunya.
__ADS_1
kali ini Rania keluar dengan gaun berwarna hitam, berlengan panjang namun pendek dan ketat. Menunjukkan seluruh bentuk tubuh Rania.
Tomi sampai menelan ludah melihat nya.
kemudian dia menggeleng. Kembali Rania harus mengganti bajunya, terus berulang hingga baju ketujuh.
Dan kali ini Rania sudah merasa sangat kesal. Dia merasa Tomi sengaja mengerjainya.
Rania memilih sebuah gaun secara asal yang berada di dekatnya. Dia memakainya. Dan berjalan keluar menemui Tomi. Jika kali ini Tomi menolaknya Rania berjanji tidak akan mau lagi mencoba baju yang lain.
Tomi begitu terpesona melihat gaun yang di pakai Rania sangat cocok dengannya. Manis, dan cantik cocok dengan tubuh mungil Rania.
Tomi masih diam membisu, membuat Rania merasa kesal.
"Jika yang ini juga tidak cocok, silahkan kau pergi sendiri Tuan. Atau kau ajak teman wanita mu yang lain saja, aku sudah lelah." ucap Rania.
"Bungkus yang itu." ucap Tomi.
Rania kembali ke ruang ganti untuk mengganti bajunya.
Setelah melakukan pembayaran Tomi membawa Rania ke toko perhiasan.
"Pilih mana yang kau suka." ucap Tomi.
Rania mengamati deretan perhiasan yang di pajang, namun tak satupun yang cocok di matanya.
"Kenapa kau diam? cepat pilih mana yang kau suka, aku akan membelikannya." ucap Tomi.
Rania menggeleng.
"Tidak ada?" tanya Tomi membulatkan matanya.
Jika biasanya seorang wanita akan merayu untuk di belikan perhiasan yang mahal. Dan Tak akan melewatkan kesempatan seperti ini untuk minta perhiasan mewah. berbanding terbalik dengan Rania yang malah menolaknya.
Rania kembali menggeleng.
Tomi membawanya ke toko perhiasan yang lain. Lagi lagi Rania menggeleng.
Karena kesal Tomi meminta pelayan membawakan perhiasan terbaru dan terbaik.
Pelayan membawa satu set kalung, gelang dan anting. Bentuknya sederhana namun menggunakan berlian terbaik dan mahal. sehingga harganya juga mahal.
Tomi membayar tanpa bertanya kepada Rania. Dan dia memberikannya untuk di pakai nanti malam.
Setelah itu dia mengantar Rania pulang ke rumah.
"Aku jemput jam tujuh." ucap Tomi. Dan langsung melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban Rania. Dia yakin jika menunggu Rania menjawab yang ada hanya mereka akan kembali berdebat.
Jam sudah menunjukkan Pukul tujuh dan Rania sudah bersiap.
Tomi juga sudah rapi dengan kemeja dan jasnya. Dia terlihat muda dan tampan. Dengan langkah pasti di menuruni tangga dan keluar dari apartemen nya. Mengendarai mobilnya menjemput Rania.
__ADS_1