Pencopet Cantik

Pencopet Cantik
Rindu berat


__ADS_3

Seminggu lagi hari yang ditunggu akan tiba. Rania dan Rey tengah sibuk dengan persiapannya.


Sudah sembilan puluh persen persiapan nya selesai. Hanya tinggal menunggu waktu nya saja.


Rania sudah tidak diperbolehkan keluar rumah oleh orangtuanya. Istilah jawanya dipingit.


Tentu saja ini membuat Tomi urung iringan. Bagaimana bisa dia tidak menemui Rania selama itu. Bahkan orangtua Rania tidak mengijinkannya menggunakan ponselnya. Ponsel Rania disita. Jika dia ingin bicara, bisa menggunakan telpon rumah saja.


Bukan hanya Rania, Tomi juga tidak diperbolehkan untuk menghubungi Rania melalui Vidio call. Walau orangtuanya tidak seekstrim orangtua Rania, tetap saja Tomi merasa kesal.


Ini jaman modern sudah tahun milenial masih juga ada acara pingit memingit, bathinnya kesal.


"Sayang....kangen...." ucap Tomi di seberang. Saat ini dia menelpon Rania.


"Sama yang, aku juga kangen banget ma kamu." jawab Rania.


"Gimana kalau nikahnya di cepetin aja jadi besok." ucap Tomi.


Rania terkekeh..."Maunya sih yang...." ucap nya tertawa.


"Aku kangeeeen banget tau yang...." ucap Tomi terdengar prustasi.


"Aku kabur aja yah, trus aku culik kamu. Dan kita backstreet aja gimana?" ucapnya asal.


"Emang kamu berani?" tantang Rania.

__ADS_1


"Berani lah yang, emang apa yang harus aku takutkan?" ucap Tomi sombong.


"Emang kamu nggak takut kalau aku teriak maling, trus papa aku nangkap kamu." ucap Rania tertawa membayangkan ucapannya.


"Bagus dong yang, setelah itu kita di bawa ke penghulu....hahahaha.." Tomi tertawa ngakak.


Rania juga ikut tertawa mendengar ucapan absurd Tomi.


Setelah beberapa saat mengobrol Rania dan Tomi mengakhiri panggilannya. Senyum cerah menghiasi wajah keduanya. yang tak sabar menunggu hari bahagianya.


Tomi tidur sambil memandang photonya bersama dengan Rania. Yang terbingkai rapi di meja disamping tempat tidur nya.


"I love you" ucapnya pelan sebelum memejamkan matanya.


Rania juga masih senyum senyum sendiri, mengingat semua gombalan Tomi padanya.


...****************...


Waktu berlalu dengan sangat cepat, persiapan pernikahan mereka sudah hampir selalu. Gedung sudah di hias dengan indah oleh pihak wedding organizer.


Kedua pihak keluarga juga sudah bersiap siap. Jumlah yang paling sibuk mengatur semuanya. Karena Tomi dan papanya mempercayakan semuanya kepada Juan.


Keluarga Hutomo mengadakan ijab kabul dan resepsi di hotel mewah milik keluarga mereka.


Sementara di rumahnya Rania sedang melakukan ritual pengajian dan siraman. Acara ini bagian penting dari proses pernikahan bagi masyarakat Jawa.

__ADS_1


Dirumah Tomi juga tak kalah sibuk, kedua orangtuanya juga sedang mengadakan pengajian untuk kelancaran acara mereka besok.


Radit dan Daren datang mengunjungi Tomi.


"Bagaimana kabarmu, calon pengantin ?" tanya Radit.


Sengaja membuat kesal Tomi, karena dia tahu Tomi tidak menyukai segala proses ini


"Seperti yang kau lihat. Aku tahu kau bahagia diatas penderitaan ku ini." ucapnya memelas.


"seharusnya kau bersyukur, aku dulu, bahkan tidak tahu jika aku akan menikah, sehingga aku tidak memiliki persiapan apapun." ucap Radit.


Tomi terdiam, benar dulu Radit menikah secara mendadak di tanpa persiapan. Bahkan dia tidak mencintainya calon istri nya. Aku lebih beruntung. bathinnya


Tomi tersenyum, "Kau benar" ucapnya.


"Maafkan aku, tapi asal kau tahu ini sungguh melelahkan." ucapnya lagi.


Radit terkekeh dibuatnya. Nikmatilah, kau akan tahu besok, bagaimana susahnya saat mengucapkan ijab kabul. Rasanya tak terucapkan dengan kata kata " ucap Radit menakuti.


"Kau jangan menakuti ku."


"Aku tidak menakutimu, kau lihat saja besok."


"Oh ya, aku kesini untuk menemui paman, jadi aku permisi dulu. Aku hanya singgah melihat mu sebentar. Goodluck."ucap Radit memeluk erat Tomi.

__ADS_1


"Terima kasih." jawabnya.


Tinggalin jejak ya....


__ADS_2