
Tomi mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Rania. Tapi hanya operator yang menjawabnya, beberapa kali di ulang, tetap sama.Karena kesal Tomi membanting ponselnya ke Jok belakang.
Tomi kesal se kesal kesalnya, dan dia sangat menyesal. Menyesalkan kecerobohannya hingga Rania pergi. Tapi ada yang mengusik hati nya. Pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya. Siapa yang mengatakan ini semua kepada Rania? Tomi coba mengingat ingat dengan siapa dia berbicara, tiba tiba dia teringat Juan.
Tomi meraih ponselnya kembali dan menelpon Juan.
"Ada apa, Boss!" tanya Juan terdengar suaranya serak khas orang bangun tidur.
"Apa yang kau katakan pada Rania,Hah!!!" bentak Tomi.
Sontak Juan tersadar sepenuhnya dan rasa kantuknya tiba tiba hilang entah kemana.
"Rania?? apa yang terjadi padanya??" tanya Juan berubah cemas.
"Dia pergi, dia meninggalkan aku, dan aku yakin ini semua karena kau!" ucap Tomi keras.
"Aku??? apa maksudmu?? Kenapa kau menuduh aku???" ucap Juan tak kalah kaget.
"Ya, apa yang telah kau katakan pada Rania hingga dia pergi. Tidak ada orang lain yang tahu pembicaraan kita berdua. Hanya kau dan aku." ucap Tomi masih dengan nada tinggi.
"Sebentar, coba ceritakan apa yang terjadi." ucap Juan mencoba memahami situasi yang sepenuhnya belum dia mengerti.
"Aku mencari Rania dan kata ibu kost nya dia sudah berpamitan akan pulang kerumah orangtuanya. Dan...." suara Tomi tiba tiba rendah.
"Dia pergi entah kemana, aku sudah mencarinya namun aku belum menemukannya.'' menjeda sebentar kalimatnya sebelum melanjutkannya kembali.
"Dia mengirimkan pesan, jika dia mengetahui apa yang aku katakan padamu tadi siang, dia salah paham. Dia mengira aku hanya main main dengan perasaan ku padanya, dan dia marah lalu pergi..." ucap Tomi lirih.... Terdengar jelas kesedihan dalam ucapannya.
Lama keduanya terdiam larut dengan pemikiran masing masing.
__ADS_1
"Tomi... kau masih disitu." tanya Juan pelan.
"Hem..." Tomi berdehem sebagai jawaban.
"Apa jangan jangan dia mendengar pembicaraan kita,mungkin dia datang ke kantor tadi pagi dan mendengarnya sendiri!" ucap Juan menyampaikan pendapatnya.
"Maksud mu Rania mendengar pembicaraan kita?" tanya Tomi terkejut. Bagaimana bisa, dia saja tidak melihat Rania datang.
"Iya, tapi aku rasa dia hanya mendengar sebagian, Setelah itu dia pergi sebelum kau menyelesaikan ucapan mu. Dia terlanjur marah hingga tidak mendengarkan semuanya. Jika dia mendengar hingga akhir, pasti saat ini dia tidak akan pergi. " ucap Juan menyampaikan opini nya.
Tomi tersadar, Mungkin apa yang diajarkan Juan benar.
Tomi menelpon Diki untuk mengecek CCTV di kantor, dan melihat apakah Rania ada datang ke kantor tadi.
Setelah itu Tomi mencoba menghubungi Rania, namun nomor yang dituju tidak aktif.
...****************...
Sementara bus yang ditumpangi Rania telah tiba di tempat tujuan. Semua penumpang turun, begitu juga dengan Rania.
Rania melihat sekelilingnya, semua terasa asing. Ini pengalaman pertama nya pergi jauh dari rumah. Tidak ada yang dia kenal disini. Dirinya juga tidak pernah ke kota ini sebelumnya. Setitik rasa penyesalan menggelayuti hatinya. Menyesal karena telah berani mengambil resiko mendatangi daerah yang sama sekali belum dia kenal.
Tiba tiba nyalinya menciut mengingat kembali peristiwa pemerkosaan yang hampir dialaminya.
Rania duduk di halte. Membiarkan lalu lalang orang yang hilir mudik disekitarnya.
Wanita tua yang duduk di sebelahnya tadi terus memperhatikan Rania. Perlahan berjalan mendekat dan duduk di sebelah Rania.
"Nak, sebenar nya kau mau pergi kemana? ibu perhatikan sejak tadi kau hanya duduk dan kebingungan." ucap wanita tua tersebut dengan senyum menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"saya....." Rania terdiam karena bingung harus menjawab apa.
"Apa kau kabur dari rumah?" tanya wanita tua itu lagi. Melirik ransel yang dipegang Rania di tangannya.
Rania menunduk tak tahu harus menjawab apa.
"Kau tak perlu menjawab. Jika kau mau, kau bisa ikut dengan ibu. Rumah ibu tidak jauh dari sini. Sangat beresiko seorang gadis sendirian di tempat ini. Apalagi ini malam hari. Bagaimana?"
Rania masih diam dan bingung, hatinya bimbang.
Siapa sebenarnya wanita tua ini? bisa jadi dia berpura pura baik, padahal sebenarnya dia seorang yang jahat. Aku harus berhati hati.
Kembali wanita tua itu berucap. "Tidak usah takut, ibu tidak akan berbuat jahat. Ibu hanya kasihan padamu. Jika kau tidak mau, tidak apa apa. Tapi berhati hati lah nak, ini sudahmalam dan di sini rawan kejahatan."
Setelah berucap wanita tua itu beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh.
Rania menatap nanar, Kemana aku akan pergi?
Tiba tiba dia berlari dan memutuskan mengikuti wanita tua tersebut dan berjalan di belakangnya.
"Bu.." panggil Rania.
"Boleh saya ikut ibu?"
Wanita tua itu tersenyum dan mengangguk setuju. Kembali berjalan menuju angkutan umum yang sedang menunggu nya. Diikuti Rania dari belakang.
Ntar sore, kita up lagi ya....
Ikutin terus ya.....
__ADS_1