
Setelah Rania masuk ke dalam kamarnya, Tomi kembali ke ruangan kerjanya. Duduk dan memeriksa beberapa laporan melalui tab di tangannya.
Tak berapa lama ponselnya berdering. Diliriknya jelas tertulis nama Diki, nama salah satu bodyguard kepercayaan nya.
"Katakan, apa yang kau temukan?" ucap Tomi datar. Ekspresi wajahnya berubah serius.
"Tuan, kami sudah memeriksa CCTV di lobi kantor dan kami mencurigai nona Tasya. Karena saat nona Rania masuk ke dalam kamar mandi, nona Tasya juga masuk, setelah itu dia keluar namun nona Rania tidak keluar lagi. Dan tak ada oranglain yang masuk lagi kesana." jelas Diki.
Tomi manggut manggut. Tanda paham.
"Baiklah, terima kasih. Awasi pergerakan Tasya dan laporkan padaku jika ada yang mencurigakan."
"Siap, Tuan." jawab Diki.
Tomi meletakkan ponselnya di nakas, sejenak berpikir,
Tasya? ada apa dengan Tasya,mengapa dia mencelakai Rania?
Tomi meletakkan tab ditangannya dan beranjak keluar ruangan menuju kamar tidurnya. Tak lama dia pun tertidur pulas.
...----------------...
Pagi pagi sekali Tomi sudah bangun dan meminta Diki mengirimkan pakaian wanita untuk Rania.
Hari ini mereka ada rapat dengan klien jam sembilan dan akan berangkat ke Bandung sore ini. Ada peresmian kantor cabang perusahaan Tomi di sana.
Rania bangun dan berjalan ke kamar mandi, saat dia keluar di lihatnya ada paper bag tergeletak di atas tempat tidur.
Rania berjalan dan membuka paper bag tersebut, wajahnya tersenyum sumringah. Tomi telah menyediakan pakaian ganti untuknya dan yang membuat Rania heran semua sesuai dengan ukurannya.
Mengapa bisa tepat sekali. Sungguh cocok dan cantik. Sesuai dengan selera ku.
Rania berjalan menuruni tangga. Tomi terpesona melihat penampilan nya. Baju yang dia pakai sangat cocok. Dan Rania terlihat sangat cantik.
"Cantik" ucap Tomi pelan.
"Kenapa Boss, memandang ku seperti itu??" tanya Rania heran dan melihat penampilannya sendiri. Apakah ada yang salah dengan baju dan dandanannya?
"Tidak ada, ayo!" ucap Tomi kembali berwajah datar dan berjalan meninggalkan Rania di belakang.
Untung saja dia tidak mendengar ucapan ku. Bisa besar kepala dia jika tahu aku memujinya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota. Rania hanya duduk diam dan melihat kesamping. Menyaksikan lalu lalang kendaraan yang lewat.
Sesampai di kantor, Tomi berjalan lebih dulu meninggalkan Rania di belakang. Rania yang dibelakangnya hanya bisa menggerutu kesal terhadap sikap Tomi.
Selalu begitu, main tinggal aja seenaknya..memang nya aku kayak dia gajah, jadi langkahnya panjang.
__ADS_1
Tomi menoleh dan baru menyadari jika Rania tertinggal jauh di belakangnya. Tomi menggeleng pelan.
Dasar siput, jalan saja lambat.
Tomi meneruskan langkahnya dan meninggalkan Rania. Awalnya dia ingin masuk dan menggandeng Rania, tapi seperti nya lain kali saja. Karena ada hal penting lainnya yang harus dia kerjakan.
"Juan, " panggil Tomi melalui intercom nya,
"Panggilkan Tasya, suruh menghadap padaku sekarang juga." perintah Tomi.
Juan menghubungi bagian keuangan dan meminta Tasya untuk menghadap kepada Boss merek, Tomi.
"Tasya, boss memanggil mu diruangannya?" ucap Pak Hadi direktur keuangan.
"Boss, Maksudnya pak Tomi?" Tanya Tasya heran.
"Iya, segera temui beliau di ruangannya." Ucap Pak Hadi meninggalkan Tasya.
Tasya yang di panggil pun merasa heran, Ada apa, dan mengapa Boss nya memanggilku secara pribadi ke ruangannya. Rasanya aku Tidak berbuat salah. Laporan keuanganku juga sudah di tanda tangani, apa mungkin bos menyukai ku??"
Tasya sampai di depan pintu ruangan Tomi, menarik nafas dalam dan membuangnya dengan kuat. Membusungkan dadanya kemudian mengetuk pintu.
"Masuk" terdengar sahutan dari dalam.
Tasya masuk dengan langkah dibuat se anggun mungkin.
Tomi tersenyum sinis, melihat tingkah Tasya. Inilah yang tidak dia suka dari kebanyakan gadis yang mendekatinya, bertingkah sok anggun dan berpura pura. Tidak seperti Rania yang polos dan apa adanya.
"Kau tahu, mengapa aku memanggilmu kesini?" tanya Tomi. Masih dengan ekspresi datar.
"Tidak, Pak." jawab Tasya.
"Apa kau tahu siapa ini?" tanya Tomi melemparkan photo saat dirinya masuk dan keluar dari dalam toilet.
Wajah Tasya berubah menjadi pucat. Dia baru menyadari jika ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Tomi adalah ekspresi wajah marah.
"Sa..saya hanya ke kamar mandi, Pak!" jawab Tasya.
"Lalu, untuk apa kau memasang tanda ini?" kembali Tomi melempar photo saat Tasya menempel kan peringatan "Toilet Sedang di perbaiki".
Tomi menatap tajam kearah Tasya.
Tasya pucat pasi, lidahnya Kelu. Tak tahu harus menjawab apa. Dia benar benar kehilangan kata kata.
Dengan membentak dan masih menatap tajam, setajam silet. Tomi kembali bicara.
"Apa yang kau lakukan pada Rania? Kau tahu siapa dia?"
Tasya menggeleng lemah, tanpa sanggup berbicara. Dengan senyum devil Tomi berkata.
__ADS_1
"Dia adalah calon istri ku, Dan kau ..berani sekali mengganggu calon istri Tomi Rahardian Putra." ucap Tomi datar namun bagai bom di telinga Tasya.
Tasya terkejut dan wajahnya pucat. Kakinya sudah tak sanggup untuk menopang tubuhnya. Dia jatuh terduduk di lantai.
Habis sudah masa depannya. Jika saja dia tahu jika Rania adalah kekasih boss nya mana mungkin dia berani mengusik nya.
Matilah aku telah berani berurusan dengan tuan Tomi. semua orang tahu jika Tomi tegas dan kejam pada karyawan yang berani berbuat curang. Tapi.....
Tasya teringat jika Dimas jalan berduaan dengan Rania. Dan ini bisa di jadikannya senjata.
Bagaimana bisa dia menjadi kekasih Pak Tomi, sedangkan dia terlihat akrab dengan Dimas, atau jangan jangan dia berselingkuh? aku harus membuka kedoknya dan dia juga harus di pecat sama seperti aku.
"Tapi, Pak? Apa bapak tidak tahu jika Rania bermain api di belakang bapak?" ucap Tasya.
"Apa maksudmu?"
Tasya merasa mendapat angin segar, dengan cepat dia memprovokasi Tomi untuk membenci Rania bila perlu memecatnya.
"Bapak Tidak tahu kan, jika selama ini Rania diam diam jalan dengan Dimas. Dan mereka sering keluar bersama?" ucap Tasya.
Tomi tersenyum miring. Namun dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Tasya. karena dia tahu betul siapa Rania dan bagaimana Dimas coba mengejarnya.
Melihat tomi diam, Tasya kembali merasa diatas angin.
"Rania itu bukan gadis yang baik Pak. Bisa saja dia ingin menjebak bapak dan..."
"Stop!!!!" bentak Tomi menghentikan ocehan Tasya.
"Aku tahu siapa dia. Dan aku juga tahu Dimas mencoba mengejarnya tapi asal kamu tahu dia adalah calon istri ku dan bulan depan kami akan segera menikah." ucap Tomi marah. Dia kesal mendengar jika ada pria lain yang mendekati Rania.
"Bereskan barang barang mu dan jangan pernah menampakkan diri lagi di kota ini. Jika sampai aku melihat mu lagi, aku Tidak akan segan segan menghancurkan mu. Sekarang pergilah." ucap Tomi datar.
Dengan langkah lesu Tasya keluar dari ruangan Tomi. Membereskan barang barangnya dan berjalan Keluar.
Beberapa teman yang satu ruangan dengan nya, menanyakan alasan yang membuatnya keluar,.tapi tidak di tanggapi Tasya.
Dia hanya diam dan mengemas barangnya dengan cepat. Melangkah pergi dari kantor Tomi secepatnya sebelum Tomi menjadi murka dan menghancurkan nya.
Di depan lift dia bertemu dengan Rania. Dengan polosnya Rania bertanya, dan mendapat makian dari Tasya.
"Tasya, kau mau kemana?" tanya Rania dengan polosnya.
"Ini semua karena mu. Dan aku akan membalas mu nanti!" ucapnya Marah sambil berlalu meninggalkan Rania yang bingung dengan ucapan Tasya.
Rania kembali ke mejanya melanjutkan pekerjaannya. Namun dirinya masih memikirkan ucapan Tasya yang menurutnya aneh.
Dibaca juga novel yang nggak kalah seru.
__ADS_1