Pencopet Cantik

Pencopet Cantik
Cemburu


__ADS_3

Tomi Dan Rania mulai di sibukkan dengan segala pernak pernik persiapan pernikahan mereka.


Mereka memang mempercayakan semuanya kepada wedding organizer. LagipulaTomi pengennya terima beres aja.


Namun tidak dengan Rania. Rania ingin dirinya turut andil dalam persiapan pernikahan mereka. Walau pun ada WO, tapi rania ingin setiap tahapan yang akan dilalui, dia ikut mengerjakannya.


Mulai dari hal hal kecil hingga ke hal hal yang sedikit menguras waktu dan tenaga.


Seperti sekarang ini, Rania meminta Tomi menemaninya Fitting gaun pernikahan mereka.


Tomi tidak merasa keberatan, dia suka menemani Rania, Namun terkadang pekerjaan kantor jadi tertunda dan menumpuk. Sehingga akhirnya Tomi harus lembur mengerjakannya.


Tomi dan Rania berada di butik Tante Merry. Rania sedang mencoba gaun pernikahan mereka dan Tomi sedang menunggu di sofa.


Rania keluar dari ruang ganti dan berdiri di hadapan Tomi.


"Sayang, gimana menurut kamu?" tanya Rania.


Tomi melirik ke arah Rania, menatap lekat dan sedikit mengerucutkan bibirnya.


Sangat cantik...., tapi itu belahan dadanya.... itu.!!! aku tak akan membiarkan oranglain melihatnya.


"Cantiiiik. Namun seperti nya belahan dadanya terlalu rendah." protes Tomi.


Rania kembali memandang dirinya di cermin. Aku rasa tidak, ini sangat cocok dan sangat cantik.


Tante Merry yang baru keluar dari ruangan nya, berjalan mendekat kearah Rania dan Tomi.


"Masih ada yang kurang?" tanya Tante Merry.


"Ya, Tante." jawab Tomi cepat sebelum Rania berbicara.


"Seperti nya, belahan dadanya terlalu rendah." ulang Tomi.


Tante Mery berdiri di samping Rania dan memeriksa gaunnya. Tante Merry tersenyum. Tante Mery tahu sebenarnya gaun itu sudah sangat pas, namun Dia juga tahu Tomi hanya tidak ingin orang lain melihat kemulusan tubuh istrinya.


"Maafkan Tante, Tante akan segera memperbaikinya, ada lagi?" tanya nya sambil memperhatikan Rania.


"Seperti nya tidak ada Tante, ini sangat cantik dan sempurna." ucap Rania antusias.


"Baiklah, akan segera di perbaiki. Setelah selesai, gaunnya akan di kirim ke alamat kalian. Bagaimana?" tanya Tante Merry.


"Boleh," jawab Tomi.

__ADS_1


"Ok, kalau tidak ada lagi yang mau di bicarakan, kami permisi Tan." ucap Tomi.


"Silahkan," jawab Tante Mery tersenyum ramah.


Tomi dan Rania berada di parkiran.


"Sayang....setelah ini kau mau kemana?" tanya Tomi kepada Rania.


"Tidak ada. Ada apa yang?" tanya Rania.


"Tidak, aku ada meeting tak jauh dari sini, aku tak bisa mengantarmu sekarang. Gimana kalau kau ikut saja dengan ku? Setelah meeting aku akan mengantarkan mu pulang." ucap Tomi.


"Aku bisa pulang sendiri, jika kau sibuk. Aku tidak apa apa. Lagipula aku juga tidak mau kemana mana. Aku akan langsung pulang ke rumah." jawab Rania.


"Lebih baik kau ikut denganku saja. Aku nggak mau kamu pulang sendiri. Dan aku juga tidak akan lama. Mau kan ikut denganku?" tanya Tomi lagi.


"Ok, aku ikut denganmu." jawab Rania.


"Terima kasih." jawab Tomi tersenyum lebar.


Tomi melajukan mobilnya menuju ke tempat dia berjanji ketemu dengan klien. Juan sudah berangkat dari kantor. Mereka berjanji bertemu disana.


"Ayo," ucap Tomi menarik Rania agar duduk semeja dengannya.


"Aku disini saja. Aku tidak mau mengganggu meeting kalian." ucap Rania menolak.


"Selamat siang, maaf saya terlambat." ucap Tomi menyapa Hendrik.


"Tidak masalah pak Tomi, saya juga baru sampai. Silahkan duduk." ucap Hendrik ramah.


Tomi mempersilahkan Rania duduk lebih dulu, kemudian dirinya juga duduk disamping Rania.


"Oh ya, apa ini sekretaris bapak yang baru? seperti nya saya baru pertama ini melihatnya, cantik sekali." ucap Hendrik.


Tiba tiba hati Tomi berubah panas. Pria dihadapannya ini berani sekali memuji calon istrinya di hadapannya.


"Maaf pak Hendrik. Ini bukan sekretaris saya, ini calon istri saya, Rania. Dan bulan depan kami akan segera menikah." ucap Tomi lantang dan tegas.


"Oh maaf pak. Maaf saya kira sekretaris bapak." ucap Hendrik.


"Pak Tomi beruntung memiliki calon istri yang sangat cantik. Selamat ya, jangan lupa nanti undang saya, ya." ucapnya sambil tertawa kecil.


"Hendrik." ucap nya mengulurkan tangannya ke arah Rania.

__ADS_1


"Rania." jawab Rania singkat dan menjabat tangan Hendrik.


Tomi semakin kesal dibuatnya. Tau gini, aku biarkan saja tadi dia pulang sendiri. Atau tadi aku tinggal di dalam mobil aja. bathin Tomi.


Rania tersenyum geli di dalam hati, dia yakin saat ini Tomi sedang coba menahan dirinya agar tak kelihatan sedang cemburu berat.


Rania meremas lembut tangan Tomi. Seketika Tomi melirik kepadanya dan Rania tersenyum hangat. Cara ini berhasil perlahan aura wajah Tomi sedikit lebih baik. Amarahnya menghilang melihat senyum lembut Rania.


"Siang, maaf saya terlambat." ucap Juan.


"Tidak apa apa, lagipula jadwal kita juga masih sepuluh menit lagi. Silahkan duduk." ucap Hendrik.


Setelah memesan minuman, mereka mulai mendiskusikan proyek kerjasama mereka. Rania duduk dan mendengarkan, tanpa ada niat untuk ikut campur tangan apa lagi mencela.


Satu jam berlalu, meeting selesai dan kini tinggallah Rania dan Tomi yang masih duduk berdua.


Rania tertawa pelan setelah Hendrik pergi.


"Apa yang kau tertawakan? Aku rasa tidak ada yang lucu" ucap Tomi.


"Tidak ada." jawab Rania. Masih juga tertawa.


Tomi memicingkan matanya menatap curiga kearah Rania. Dia yakin Rania mentertawakan dirinya.


Rania yang ditatap bukannya takut malah semakin keras tertawa. Hingga Tomi menjadi semakin kesal.


"Benar mau tahu?" tanya Rania.


Tomi mengangguk.


"Janji nggak akan marah?" ucapnya lagi.


Kembali Tomi menganguk.


"Aku cuma merasa lucu, tadi disini ada yang kebakaran. Padahal disini dingin ada AC nya lagi." ucap Rania.


"Aku tidak suka, dia berani menggoda mu di depanku." ucap Tomi. Wajahnya masih terlihat kesal.


"Mengapa harus marah, aku disini bersama mu, mengapa kamu harus cemburu! Harusnya kamu bangga jika ada yang memuji calon istri mu, berarti kau beruntung memiliki istri yang cantik seperti ku.." ucap Rania dengan puppy eyes nya.


Tomi yang awalnya ingin marah, tersenyum melihat tingkah lucu Rania. Benar juga mengapa aku jadi marah marah hanya karena dia memuji calon istri ku. bathin Tomi .


"Ayo." ucap Tomi menarik Rania keluar restoran.

__ADS_1


Rania kembali tersenyum, dan menggandeng mesra tangan Tomi. Mereka berdua berjalan menuju mobil untuk segera kembali ke rumah.


Dukung penulis dengan like vote dan koin seikhlasnya. Terima kasih


__ADS_2