Pencopet Cantik

Pencopet Cantik
Memasak


__ADS_3

Assalamualaikum....


Pa kabar semuanya???


Mamie ucapkan terima kasih masih setia mengikuti cerita Tomi dan Rania.


Nggak tahu kenapa ini episode bisa double. Dengan judul yang sama dan isi yang sama pula.. Mungkin kesalahan sistem nya. Mamie mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.


Happy reading....


"Kali ini aku memaafkan mu. Itupun aku lakukan semata mata demi putriku, Rania. Aku tak ingin membuatnya terkejut dan kecewa." ucap pak Hutomo.


Jeda sebentar, kemudian dia lanjutkan dengan kalimat yang sangat menohok tepat di hati Tomi.


"Satu hal yang harus kau ingat, Aku hanya memberimu waktu yang singkat, gunakanlah waktumu itu secara baik. Jika sampai waktu mu habis dan Rania belum juga mengingat dan menunjukkan rasa cinta nya padamu,.." pak Hutomo menjeda kalimatnya. Menarik nafas panjang dan melanjutkan nya.


" Maka bersiap lah untuk melepaskannya. Mungkin kalian memang tidak berjodoh. Kau bisa mencari gadis lain." ucap pak Hutomo.


Kata kata pak Hutomo sangat menusuk di hati Tomi.


"Aku janji,..Aku yakin Rania juga memiliki perasaan yang sama dengan ku, Hanya mungkin saat ini dia melupakan nya.,"jawab Tomi mantap. Walau sebenarnya di dalam hatinya tersimpan keraguan.


Mampu kah aku menyakinkan Rania dalam waktu sesingkat ini. Tapi aku yakin, ketulusan cinta ku membuat hatinya terbuka dan mengingat betapa aku mencintai nya." bathin Tomi.


Setelah selesai berbicara pak Hutomo bangkit dari kursinya dan melangkah keluar. Tinggal Tomi duduk merenung kan semua ucapannya.


Aku pasti bisa. Bathin Tomi.


Keesokan paginya, Rania bangun dengan wajah ceria. Turun ke dapur melihat mamanya yang sedang memasak.


"Pagi ma.." ucap ya ramah menyapa mama nya.


"Pagi sayang, " jawab Bu Hutomo sambil asyik mengaduk masakannya.


"Masak apa, Ma?" tanya Rania lagi.


"Nih, mama masak tumis kangkung dan sambal udang kesukaan mu. Semur ayam juga ada. Itu sudah matang." jawab Bu Hutomo lagi.


Seketika wajah Rania berubah ceria. Mama memasakkan makanan kesukaannya.


"Sini Rania bantu, Ma." ucapnya.


Bu Hutomo mengerutkan keningnya. Apa karena kecelakaan itu hingga Rania berubah dan mau disuruh memasak. Kalau dulu, jangankan memasak, goreng telur ceplok aja dapur hampir kebakaran dibuatnya.

__ADS_1


"Ma, kok melamun. Apa lagi yang harus di masukkan? Apakah mama sudah memasukkan garam?" tanya Rania membuat Bu Hutomo sadar seketika.


"Eh...iya. Mama sudah memasukkan garam. Coba cicipi dulu." ucapnya tetap memperhatikan Rania.


Rania terlihat sangat cekatan memasak. Tak lagi sungkan memegang wajan dan spatula. Bu Hutomo diam diam tersenyum bahagia. Putrinya kini sudah pandai memasak.


Setelah semuanya matang, Rania dan ibunya menyusun makanan diatas meja.


"Panggil Papa. Biar kita sarapan bersama." ucap Bu Hutomo.


"Pa ...Papa..." panggil Rania.


"Ada apa sayang, kenapa kamu teriak teriak?" tanya pak Hutomo yang sudah keluar dari kamarnya.


"Mari kita makan Pa. Ini semua masakan Rania loh." ucal Bu Hutomo.


"Rania pandai masak?" tanya papa nya tak percaya.


Rania mengangguk mantap.


" Sekarang Rania sudah pandai memasak." ucap mamanya tersenyum bangga.


Pak Hutomo berangkat, setelah menghabiskan makanan di piringnya.


Sementara Tomi di apartemen nya duduk termenung. dia sudah memakai pakaian lengkap akan segera berangkat ke kantor.


Namun keraguan melingkupi hatinya. Dia takut jika memaksa Rania untuk mengingat semuanya , maka akan membuatnya sakit.


Pusing...... Tomi meremas rambutnya, merusaka tatananannya yang sudah rapi.


Aku harus mendapatkan nya,bagaimana pun caranya. Aku takkan melepaskan Rania. Tidak, aku sudah sejauh ini. Aku tidak mau berpisah dengannya, maafkan aku Rania jika aku memaksa.


Tak lama di bagkit dan berjalan keluar apartemennya menuju kantor.


Sampai di kantor dia di kagetkan dengan Rania yang sudah duduk rapi di meja kerjanya.


"Sayang....apa yang kau lakukan disini?" tanya nya.


"Aku? ya kerja lah, apalagii." tanya Rania.


"Kamu sudah ingat?" tanya Tomi terlihat senang.


"Aku ingat semua nya kecuali, aku menikah dengan mu. Jika itu aku sama sekali tidak ingat." jawab Rania.

__ADS_1


Senyum kecut muncul di wajah Tomi.


Bagaimana kau bisa ingat, bahkan kita belum saja belum menikah.


"Juan, apa kau hadir di pernikahan ku?" tanya Rania.


"Mengapa aku tidak mengingat nya, ya?" tanya Rania pada Juan.


Apa yang harus aku jawab. Tuan Tomi menjebak ku dalam situasi ini. Bagaimana ini! bathin Juan.


Maafkan aku Rania, waktu itu aku sedang di luar kota ,ada urusan yang sangat penting dan aku harus menggantikan boss." jawab Juan pada akhirnya.


Rania tersenyum, "sayang sekali ya. Jadi kau tidak menghadiri pernikahan ku, teman macam apa kau ini." ucap Rania.


"Sayang....ikut aku?" ucap Tomi.


Tomi berjalan masuk ke dalam ruanganya.


Sampai di dalam dia sengaja memeluk rania erat. Tubuh Rania menegang, terkejut dengan perlakuan Tomi.


"Kurang ajar dia mengambil kesempatan dalam kesempitan"


Dengan sekuat tenaga Rania mendorong Tomi.


"Ada apa? Kenapa kau menolak ku?" tanya Tomi.


Tomi kembali mendekap erat Rania, dan memajukan wajahnya ingin mencium Rania. Rasa rindunya yang dalam karena sejak kemarin dia tak melihat Rania. Tomi terus memaksa. walau Rania berontak.


"Lepas...." ucap Rania.


Tomi tak memperdulikannya, dia tetap mendekat dan memagut bibir merah Rania, menyesapnya perlahan dan mulai **********, walau Rania terus meronta


"lepaskan aku brengsek, Aku tidak mau di sentuh oleh mu." ucap Rania marah.


Tomi terkejut mendengar ucapan Rania. Namun dia tetap mencium Rania, bahkan kali ini ciumannya semakin dalam. Tangannya semakin memeluk erat tubuh Rania, sehingga tubuh keduanya menempel. Rania terus saja berontak dan marah.


Tomi melepaskan ciumannya, namun masih memeluk Rania. Namun Idak seberat tadi.


"Kenapa kau marah, bukankah aku suami mu, dan hal ini biasa di lakukan seorang suami kepada istrinya." ucap Tomi.


Kali ini Tomi kembali ingin mencium bibir Rania, namun tangan Rania bergerak cepat dan menamparnya.


Plaaaak..

__ADS_1


Suara tamparan Rania menggema di dalam ruangan.


"Kau brengsek, jahat, aku tidak mau dicium oleh mu, kau bajingan, aku benci benci kamu " ucap Rania sambil menangis. Mendorong kuat Tomi dan berlari keluar ruangan.


__ADS_2