
Rania melepaskan pelukan nya.Tangannya menangkup wajah Tomi.
"Berjanjilah, kau tak akan mempermainkan aku lagi?" ucap Rania.
"Aku tak pernah mempermainkan mu, aku tulus sayang dan cinta padamu. aku akan mengikatmu selamanya, agar tidak ada lagi jalan untukmu kabur dari ku. You are my beautiful thief." ucap Tomi.
Rania mengerutkan keningnya. Tatapan protes di layangkan nya kearah Tomi.
"Kok di ungkit lagi sih!" ucapnya kesal.
"Loh, aku benarkan? kamu adalah pencopet, yang telah mencopet hatiku, kau mengambil semuanya tanpa bersisa. Dan aku dengan senang hati akan menangkapmu fan memenjarakanmu dalam ikatan suci pernikahan kita." ucap Tomi.
Wajah Rania bersemu merah mendengar ucapan Tomi.
Tomi dan Rania duduk di kursi tak jauh dari tempat mereka tadi. Menikmati indahnya pemandangan sore dan sejuknya udara pegunungan.
"Yang...." panggil Tomi pelan.
"Hem.." jawab Rania, masih menyandarkan kepalanya di bahu Tomi.
"Bagaimana kalau kita menikah saja bulan depan?" ucap Tomi. Tangannya menggenggam lembut tangan Rania.
"Bulan depan?" tanya Rania kaget.
"Nggak usah kaget gitu, aku sudah bicara dengan papa mu dan beliau setuju jika aku menikah dengan mu, dengan satu syarat, kau sendiri bersedia menerima ku. Bersedia menjadi istri ku." ucap Tomi.
__ADS_1
"Mengapa harus secepat itu, kita bahkan belum berpacaran. Aku kan pengen seperti yang lain, pacaran, makan malam romantis, jalan jalan...."
Belum selesai Rania mengungkapkan isi hatinya, Tomi menghentikannya dengan menempelkan jarinya di bibir mungil Rania.
"Kita bisa melakukan semua itu setelah menikah. Dan akan lebih indah pacaran setelah menikah. Lagipula usia ku sudah tidak muda lagi. Apa kau mau menunggu aku jadi om om gendut, buncit seperti yang kau pikirkan sebelumnya?" tanya Tomi.
Spontan Rania menggelengkan kepalanya. Jangan kan menjadi pengantinnya , membayangkannya saja Rania merasa mau muntah.
"Bagaimana???" tanya Tomi. Sambil menaik turunkan alisnya, menatap tajam ke arah Rania.
Terlihat jelas dia sangat serius dengan ucapan nya.
Tomi sendiri sudah memutus kan untuk segera mengakhiri masa lajangnya dan akan mempersunting Rania segera.
"Apa kau tidak mau menikah denganku?" tanya Tomi lembut namun terdengar serius.
Tomi terkekeh pelan. Hatinya sangat bahagia.
Diraihnya jari tangan Rania. 'Lihatlah, cincin ku masih tersemat indah ditempatnya. Bukan kah, kemaren ada yang mengembalikannya melalui wa," ucap Tomi menyindir pelan dan lembut sambil mengecup lembut tangan Rania.
Rania terkejut, namun kemudian dia tertawa, "Jadi sayang mau apa? mau mengembalikannya melalui wa juga?" tanya Rania masih tertawa.
Tomi menjadi semakin gemas melihatnya. Dicubitnya ujung hidung Rania pelan.
"Auw....sakit..." ucap Rania mengusap ujung hidungnya yang memerah.
__ADS_1
Tomi terkekeh melihat sikap manja Rania.
"Sayang....pulang yuk?" ajak Rania.
"Kau tidak ingin kita nginap disini. Ini adalah villa milik papa. Apa kau tak ingin masuk kedalam?" tanya Tomi.
"Tidak, aku ingin secepatnya pulang. Aku tidak berpamitan kepada papa dan mama. Aku takut nanti mereka khawatir". ucapnya.
"Baiklah, ayo.Tapi sebelumnya kita makan dulu ya! Bik ijah sudah mempersiapkannya untuk kita. ayo masuk...." Tomi menarik tangan Rania memasuki villa milik keluarga Tomi.
Begitu pintu terbuka terlihat jelas, bangunan nuansa klasik khas bangunan. jaman dulu. Namun bersih dan terawat. Pilar pilar besar serta hiasan hiasan dinidng bergaya kuno tergantung menambah kesan klasik dan antik. Sungguh cantik dan menawan. Rania begitu terpesona dibuatnya.
Tomi membawanya ke ruang makan. Disana telah tersusun rapi makanan dan minuman. Ada lilin yang menambah kesan romantis. Buket bunga mawar terletak diatas meja. lampu sengaja di matikan dan suasana temaram yang sengaja dibuat, hanya cahaya dari lilin saja yang menyinari ruangan tersebut, Sungguh membuat hati siapapun yang melihatnya meleleh.
"Kapan kau siapkan semua ini?" tanya Rania berbalik menghadap Tomi.
"Sejak kita akan berangkat kesini tadi. Aku sudah memerintahkan semuanya." jawab Tomi.
"Bagaimana kau bisa yakin jika kita akan makan malam bersama disini. bisa saja aku menolak mu kan!" ucap Rania.
"Aku yakin kau tak akan bisa menolak pesona ku, sejak awal aku tahu kau sangat menyukai ku," ucap Tomi dengan penuh percaya diri.
"Seharusnya tadi aku biarkan saja kau menangis, dan duduk disana hingga jamuran. Harusnya tadi aku menolak mu, huh...dasar sombong." ucap Rania kesal.
Tomi tersenyum lebar melihat Rania bersungut sungut. "Tapi kau suka kan?" ucapnya lagi.
__ADS_1
"Sudah, ayo.. keburu lilin nya mati." ucap Tomi menghentikan Rania yang akan protes. Mengakhiri perdebatan mereka yang tak akan ada habisnya jika di lanjutkan.