
Tomi dan Rania masih asyiik menikmati momen momen indah mereka. Duduk berdua di tepi danau melihat matahari terbenam, sungguh romantis.
"Besok, aku akan mengantarkan mu pulang ke rumah orang tua mu, bagaimana?" tanya Tomi.
"Tunggu, biar aku aja yang pulang lebih dulu. Aku akan mengatakan kepada Papa dulu, baru kamu datang ke rumah ku." Ucap Rania ragu.
"Mengapa tidak langsung aja?" tanya Tomi penasaran.
"Aku ingin meminta maaf kepada Papa dan Mama sebelum aku membicarakan tentang kita. Kamu nggak apa apa kan, yang?" ucap Rania memandang wajah Tomi lekat.
Walau sedikit kesal, namun Tomi mengangguk setuju.
"Aku memberi ku waktu satu Minggu untuk berbicara dengan orang tuamu tapi jika dalam satu Minggu kau tidak berhasil, maka aku yang akan maju, paham?" ucap Tomi tegas. Dan Rania setuju.
"Sekarang kita pulang, Aku nggak mau kita kemalaman disini." ucap Tomi. Berdiri dan meraih tangan Rania untuk mengikutinya.
Mereka berdua sudah di dalam mobil, bersiap pulang ke rumah. Tomi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Perjalanan yang panjang membuat Rania mengantuk dan tertidur.
Tomi membelokkan mobilnya ke apartemen nya. Sengaja membawa Rania kesana. Karena dia sudah tertidur pulas. Perlahan Tomi mengangkat Rania, namun ternyata itu membangunkannya.
"Kita sudah sampai?" tanya Rania pelan.
Matanya mengerjap melihat wajah Tomi yang berada tepat dihadapannya.
Posisi Tomi yang menggendongnya, membuat jarak mereka sangat dekat. "Sayang....turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri!" ucap Rania pelan.
Namun Tomi tetap sjaa menggendongnya. "Diamlah dan peluk aku, jika Tidka ingin jatuh." ucap Tomi. Terus berjalan membawa Rania masuk kedalam lift dan naik menuju lantai kamarnya.
Tomi membuka pintu kamar nya, dibantu Rania yang ada di dlaam gendongannya. Rania memasukkan kunci dan menekan pin yang diucapkan oleh Tomi.
Rania terkejut karena pin apartemen Tomi adalah tanggal lahirnya.
Kenapa bisa kebetulan sekali. Apa dia tahu tanggal lahirku, atau ini ketidka sengajaan." Bathin Tomi.
"Apa kau Tidka mau turun?" tanya Tomi melihat Rania yang melamun.
"Eh..." Rania melompat turun dari gendongan Tomi. memlilih berjalan ke arah kamar mandi. Sesuatu di dalam sana mendesak untuk segera di keluarkan.
Rania kembali keruang tamu, duduk di sebelah Tomi.
"Sayang....aku mau pulang?" ucap Rania pelan.
__ADS_1
"Besok saja. ini sudah malam. Dan aku juga merasa sangat lelah. Aku ingin beristri." ucap Tomi beralasan.
Rania manyun, pasalnya dia tidak memiliki baju ganti disini. Dan dia merasa sangat gerah, karena seharian belum mandi.
"Kau tidak ingin mandi dan membersihkan dirimu?" tanya Tomi heran melihat Rania masih duduk di sampingnya.
"Aku Tidka memiliki pakaian ganti. Bagaimana aku bisa mandi." jawab Rania cemberut. Namun membuatnya terlihat lebih cantik.
Mandilah, pakaian ganti mu ada di dalam kamar tempat kau semalam menginap." jawab Tomi santai.
"Kau menyimpan pakaian wanita disini?" ucap Rania dengan tatapan menusuk dan meta menyipit.
Tomi mendesah panjang.
Pasti dia salah paham, dan cemburu. lihat lah dia terlihat semakin menggemaskan jika marah. bathin Tomi.
"Buakn begitu, dengar kan aku. Aku sengaja membelikan beberapa potong baju untuk mu, siapa tahu kamu menginap disini! Tapi dugaan ku benar bukan?" ucapnya santai.
"Kau bisa memeriksanya, semua baru dan aku siapakan khusus untuk mu." ucap Tomi lagi.
Blush pipi Rania merona. Tomi menyediakan pakaian ganti untuk nya, berarti Tomi menginginkan dia kembali menginap dan tinggal bersama nya. Rania jadi tersenyum sendiri memikirkan nya.
Tak...
"Ada apa?" protes Rania
"Apa yang kau pikirkan?" ucap Tomi
"Tidak ada.!* jawab Rania.
"Jangan bohong, aku tahu apa yang ada di kepala mu itu. Kau Tidka perlu khawatir, aku tidak akan melakukan apapun sampai kau resmi emnjadi nyonya Tomi." ucap Tomi gamblang.
Rania tersenyum bahagia. "Terima kasih, sayang!" ucapnya memeluk erat Tomi.
Tomi melanjutkan ucapannya setelah Rania melepaskan pelukannya.
"Kecuali jika aku khilaf" ucapnya yang mendapat cubitan di perut.
"Dasar mesum" ucap Rania berpura pura marah.
Rania berjalan menuju kamar yang biasa dia gunakan, dan membuka lemari yang ada disana. Ternyata apa yang diucapkan Tomi benar. Ada beberapa buah gaun, stelan kerja dan dua buah piyama. Lengkap dengan pakaian dalamnya.
__ADS_1
Rania mengambil satu steel piyama berwarna merah muda dan membawanya ke kamar mandi. Dia akan mandi dan memakai piyama nya disana.
Setelah mandi, Rania keluar dari kamarnya. dilihatnya Tomi sedang menyusun makanan diatas meja. Wangi harum masakan tomintercium hingga keruang tamu. Membuat perut Rania yang keroncongan menagih untuk segera diisi.
"sayang...kamu masak apa? Harum sekali." ucap Rania.
"Nasi goreng, omlette dan sosis bakar. Ayo, kita makan." ucap Tomi.
mengambilkan piring dan mulai mengisi nya kalau meletakkannya dihadapan Rania.
"Harusnya aku yang masak, bukan kamu. Tapi aku nggak bisa masak, maafin aku yang.." ucap Rania sedih.
"Hei...aku tidak menyuruh mu memasak dan aku tidak memaksa mu untuk memasak. Aku mencintaimu tulus dengan apa adanya dirimu." ucap Tomi.
"Lagipula aku sudah tahu jika kamu memang tidak bisa masak, apa kau lupa kejadian beberapa waktu yang lalu. Kau sampai terluka karena aku. Harusnya aku yang meminta maaf" ucap Tomi.
"Maaf, aku belum bisa menjadi calon istri yang ideal.* ucap Rania kembali dengan wajah sedih.
"Hei...aku mencintaimu apa adanya, dan aku bisa menerima segala kekurangan mu, begitu juga kelebihan mu. Sudah lah janga bersedih lagi. Besok aku akan mengajarimu memasak." ucap Tomi.
"Sekarang sebaiknya kita segera makan, nanti nasi gorengnya dingin." ucapnya lagi.
Rania dan Tomi menikmati makan malam meeka dengan santai sambil mengobrol.
Setelah makan malam, Rania dan Tomi memlihi menonton Film. Rania memilih genre horor, karena dia sangat menyukai nya berbeda denga Tomi yang ternyata takut denagn hantu. Dia memilih menonton film action atau drama. Namun Rania bersikukuh, Akhirnya Tomi mengalah dan mengikuti keinginan Rania.
Merka menonton film, sezekali Tomi menutup wajahnya karena takut, pada setiap adengan yang menakutkan. Rania tertawa terbahak bahak di buatnya. Kini dia tahu kelemahan Tomi. Ide jahil menghiasi kepalanya, nanti dia akan menakut nakuti Tomi.
Setelah menonton, Rania akan beranjak tidur. Namun Tomi masih menggenggam erat tangannya.
"Malam ini aku akan tidur di kamar mu!" ucap Tomi.
Rania menautkan alisnya menatap lekat Tomi. "kenapa? Jangan bilang kau akan macam macam, tadi kau sudah janji tidak akaan..."
Tok..
Tomi memukul pelan kepala Rania dengan ujung jarinya.
"Kita hanya akan tidur bersama, tidak akan melakukan apapun." ucap Tomi cepat. Berjalan mendahului Rania dan masuk ke dalam kamar.
Tak Lama keduanya tertidur pulas.
__ADS_1
Bantu like, Pavorite, vote dan koin se ikhlasnya. Terima kasih