
Hari ini Tomi datang ke kantor dengan wajah lesu. Terlihat jelas ini efek dia tidak bisa tidur nyenyak semalam dan itu tak luput dari pandangan Rania.
"Selamat Pagi, Pak!" Ucap Rania dengan senyum yang dipaksakan.
Tanpa menjawab Tomi berjalan melewati Rania dan duduk di kursi kebesarannya.
Rania menahan tawanya melihatnya sikap Tomi yang kekanakan menurutnya.
Pasti dia masih marah karena ucapan ku kemaren.
"Bawakan kontrak kerja sama dengan tuan Josep kemaren." ucap Tomi tanpa melihat Rania. Masih asyik dengan laptop di hadapannya.
"Ini Pak." Ucap Rania menyerahkan bekas yang diminta oleh Tomi.
Rania masih berdiri menunggu. Lama dia menunggu namun Tomi tak juga menyuruh nya duduk atau memintanya melakukan sesuatu. Hingga dia merasa pegal di kakinya.
Apa sih maunya, orang disuruh nunggu tapi di diamin aja. Nanti aku duduk dia marah, resek banget sih.
"Ngapain kau berdiri disitu?" tanya tomi heran setelah melihat Rania masih berdiri di dekatnya.
Rania memutar bola matanya malas. Dan mengutuk di dalam hatinya.
Tapikan boss bilang, jika aku boleh duduk jika di perintahkan. Dan boss belum menyuruh aku duduk, makanya aku berdiri.
"Terima kasih boss." ucap Rania dan duduk kembali ke mejanya.
"Apa kamu pernah berpacaran?" tanya Tomi tiba tiba.
Rania hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan Tomi.
__ADS_1
Apa aku nggak salah dengar.
"Maksud bapak?" tanya Rania mengerutkan keningnya.
"Tidak ada, lupakan?" Ucap Tomi.
"Bapak sedang jatuh cinta ya," ucap Rania lagi.
"Ngaku deh Pak, Atau bapak memikirkan ucapan saya kemaren, benar kan dugaan saya bapak lagi jomblo." Ucap Rania penuh selidik.
"Aku,,, aku punya pacar." jawab Tomi cepat.
"Lalu kenapa bapak tanya sama saya?" tanya Rania lagi. Membuat Tomi bingung harus menjawab apa.
"Saya hanya bertanya saja. Dan saya penasaran kenapa kamu kabur dari rumah. Bukan karena kamu hamil dan di usir oleh orangtua mu kan?" tanya Tomi yang sukses membuat Rania membulatkan matanya. Tak menyangka jika Tomi sanggup mengucapkan kata kata tersebut.
Nafas Rania naik turun dengan wajah memerah. Menahan amarah nya.
Tomi merasa bersalah dengan apa yang dia ucapkan barusan. Awalnya dia hanya bertanya, tetapi melihat Rania berkaca kaca rasa bersalah menghantuinya.
Tomi bangkit dan keluar dari ruangannya mengambil mobilnya dan mengendarainya menuju kantor Radit.
Saat ini dia membutuhkan Radit. Pikirannya benar benar buntu karena keinginan papanya kemaren di tambah dengan Rania yang menangis tadi, Tomi benar benar galau.
...****************...
"Selamat siang Dit" sapa Tomi yang langsung nyelonong masuk kedalam kantornya.
Radit menatap heran kearah Tomi. Tomi terlihat berantakan, tidak seperti biasanya yang tampil rapi, dan tampan. Tidak tinggal senyum manis menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Ada apa dengan mu?? Kenapa tampang mu kusut begitu??" tanya Radit heran. Ini bukan Tomi yang dia kenal.
"Aku lagi bingung." ucap Tomi.
wajahnya kembali terlihat kusut.
"Cerita kan padaku." ucap Radit, dia bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan kearah Tomi. Duduk di sofa tepat di hadapan Tomi.
"Aku bingung dit, kemaren aku pulang dan menemui Papa ku. Kau tahu kan aku menolak perjodohan itu. Papa ku memberiku syarat, aku boleh menolak perjodohan itu asal aku memiliki calon istri yang sesuai. Dan aku harus membawanya ke hadapan Papa dalam tempo satu bulan." ucapnya lagi dan meremas rambutnya frustasi.
"Kau hanya perlu membawa calon istri, mudah bukan. Lalu apa yang kau pusingkan?" Ucap Radit.
"Bagaimana aku tidak pusing. Masalahnya aku tidak punya kekasih saat ini." jawab Tomi.
"Aku rasa itu juga bukan masalah, kau tinggal cari saja. Bukankah banyak gadis yang dekat denganmu. Kau tinggal memilih satu, lalu bawa menemui paman."
"Jangan bercanda, dit. Aku serius. Dan Masalah ini benar benar urgent. Aku Tidak mungkin membawa gadis yang tidak aku cintai ke hadapan Papa. Aku nggak mau menikah terpaksa. Aku ingin menikah karena aku mencintai nya dan dia mencintai ku." ucap Tomi keras kepala.
Radit terkekeh melihat seorang Tomi yang selalu ceria dan sempurna bisa frustasi. Benar benar pertunjukan langka dan Radit tidak mau melewatkan nya begitu saja.
"Baiklah, aku akan serius." ucap Radit.
"Sekarang aku tanya, sebenarnya mau mu apa? dan kenapa kau masih keras kepala tidak mau menemui calon yang di pilihkan papamu. Siapa tahu kalian cocok dari pada seperti ini kau stress sendiri. Bisa jadi cinta pada pandangan pertama!"
"Satu hal yang harus kau ingat, tidak selamanya perjodohan itu buruk, dan aku yakin Paman pasti memilihkan calon istri terbaik buatmu." Ucap radit.
"Aku kesini mencari solusi bukan mendengarkan ceramah mu.!" ucap Tomi kesal.
"Saran ku pikirkan kembali ucapan Papa mu. Dan sambil mengenal calon istri mu, kau bisa sambil mencari calon pendamping. Aku sendiri tidak memiliki pengalaman, kenapa kau bertanya padaku?" ucap Radit.
__ADS_1
"Aku pulang." ucap Tomi berdiri dan melangkah keluar ruangan Radit. Dia semakin kesal, bukannya mendapat kan solusi yang ada Radit malah mentertawainya.
Tapi benar juga yang di ucapkan oleh Radit, dia harus coba menemui calon istri yang di siapkan oleh papa nya. Mengapa harus lari, sebelum bertemu dan mengapa harus menyerah sebelum bertempur?