Pencopet Cantik

Pencopet Cantik
Menggemaskan


__ADS_3

Rania memohon sambil menangis. Dia akhir nya menyerah pasrah. Takut Tomi akan bertindak lebih jauh. Tubuhnya bergetar.


Tomi menjadi tidak tega. Sebenarnya hatinya juga sakit melihat gadisnya menangis. Namun ini adalah satu satu nya cara agar Rania mau mengakui kebohongannya. Perlahan Tomi melonggarkan pelukannya.


"Maaf.." ucapnya pelan.


Tomi juga menunduk menyatukan kepalanya dengan kepala Rania.


Setelah di rasa lebih tenang, Tomi kembali berucap. "aku rasa kita harus menyelesaikan masalah ini segera."


"Apa maksud nya?" tanya Rania bingung.


"Aku mau semua kesalah pahaman diantara kita selesai saat ini juga. Aku tidak ingin masalah ini berkepanjangan. Tapi aku rasa disini bukan tempat yang tepat. Ayo ikut aku!" ucapnya sambil berdiri menarik tangan Rania.


"Kemana?" tanya Rania. Pikirannya kosong, otaknya tak mampu mencerna ucapan Tomi.


"Ke penghulu." ucap Tomi penuh semangat. Rania manggut manggut, namun detik berikutnya dia sadar dan langsung memukul lengan Tomi. Wajahnya berubah merah.


"Tenang lah, aku akan membawa mu ke tempat yang sangat indah. Kau pasti menyukainya." ucap Tomi terus menarik tangan Rania.


Rania mengusap air matanya dengan kasar. Dan mengikuti langkah Tomi dari belakang. Tangannya masih di genggam erat oleh Tomi.


"Batalkan semua janji dan Kosongkan jadwalku hari ini, aku tak akan kembali lagi."


Juan mengangguk patuh. "Baik, Boss."

__ADS_1


Juan tersenyum melihat Tomi menyeret Rania, dalam hatinya dia merasa geli melihat pasangan di hadapannya ini. Rania hanya menunduk dan mengikuti Tomi yang terus saja menariknya


Dengan langkah lebar, Tomi terus menarik Rania. Dan masuk ke dalam lift. Menekan tombol paling bawah. Sebelah tangannya mengambil ponsel dan menyuruh supir nya untuk segera menyiapkan mobilnya.


Begitu pintu lift terbuka, nampak supir sudah menunggu dan membukakan pintu. Tomi menarik Rania dan memasukkan ke dalam mobil, kemudian dia berputar dan masuk kedalam mobil. Dia mengemudikan mobilnya sendiri.


Rania masih diam, dia sendiri menyesali kesalahannya yang berani membohongi Tomi. Sungguh dia tidak menyangka jika Tomi akan nekad, hingga dia harus menyerah.


Rania sangat takut melihat kemarahan Tomi, dan Rania tak sanggup membayangkan apa yang akan di lakukan Tomi padanya.


"Kenapa kau melamun?" tanya Tomi mengembalikan kesadarannya.


"Apa kau takut?" tanya nya lagi.


"Aku tak akan melakukan sesuatu, jika kau mau bekerja sama, kecuali kau nekad hingga kau terpaksa...." Tomi sengaja menggantung kalimatnya dan tersenyum miring.


Rania tahu arah pembicaraan Tomi. Seketika tubuhnya merinding.


"Tenanglah," ucap Tomi mengelus kepala Rania.


Rasa hangat menjalar di dalam hati Rania. Inilah yang selalu menjadi kelemahannya, Tomi selalu saja bersikap manis dan romantis. Sikap manis Tomi inilah yang membuat Rania jatuh pada pesona Tomi selain wajah tampannya.


Tomi terus melajukan mobilnya meninggalkan kota menuju daerah pinggiran. Rania menyadari nya dan menoleh kearah Tomi. Menatap tajam dan tak menutup nutupi kecurigaan nya.


"Kau mau membawaku kemana?" tanya Rania dengan suara bergetar.

__ADS_1


Terlihat jelas ketakutan kembali merayapi hatinya. Bayangan akan kekejaman yang akan dilakukan Tomi, bisa saja dia akan membunuh ku dan memutilasi tubuh ku. Memotongnya menjadi beberapa bagian dan membuangnya di beberapa tempat, hingga jasadnya tak dapat di kenali lagi. bathin Rania.


Apa yang dipikirkan nya terlihat jelas di wajahnya, Tomi tersenyum melihat wajah panik gadisnya. Benar benar lugu dan menggemaskan....


Akhirnya tawa Tomi lepas dan wajah Rania semakin pucat dan ketakutan. Dia sudah berjaga jaga.


Tomi menghentikan tawanya, sebelah tangannya memukul pelan kepala Rania.


"Auw....." ucap Rania mengaduh.


"Hilangkan pikiran kotorku dari kepalamu. Aku tidak akan melakukan apa yang kau pikirkan." ucap Tomi.


Rania terkejut dari mana Tomi tahu apa yang dia pikirkan. Apa dia memiliki ilmu hingga bisa membaca pikiran orang? bathin Rania.


"Tak usah kaget, apa yang kau pikirkan, terlihat jelas di wajah jelek mu itu." ucap Tomi sambil terkekeh.


Rania mengerucutkan bibirnya mendengar tomi mengejek dirinya.


'Bisa saja kan, kau melakukan nya, siapa yang tahu kalau kau diam diam ternyata seorang psikopat." ucap Rania.


"Aku harus waspada dan berjaga jaga." ucap Rania dengan sikap sombongnya.


Tomi kembali terkekeh namun dalam hatinya dia senang. Rania tidak setegang tadi, setidaknya dia sudah bisa bicara secara santai.


Tomi membelokkan mobilnya ke sebuah bangunan tua namun terlihat bersih dan rapi. Rania meyakini jika ini adalah sebuah villa. Mungkin salah satu milik keluarga Tomi.

__ADS_1


__ADS_2