Pencopet Cantik

Pencopet Cantik
Gagal


__ADS_3

Rania diam sepanjang perjalanan pulang kerumah orangtuanya.


Dokter telah memeriksa kondisi Rania. Dan mengatakan jika Rania baik baik saja. Hanya butuh istirahat. Dokter juga berpesan jangan memaksa Rania untuk mengingat sesuatu. Boleh mengingatkannya tapi jangan memaksanya.


Sebelumnya mereka berpamitan dengan Bik Sumi. Tomi mengucapkan banyak terima kasih, karena selama ini mau menampung istrinya. Tak lupa Tomi memberikan sedikit kompensasi untuk Bik Sum agar bisa memperluas warungnya.


Rania menangis memeluk Bik Sumi. Rania juga mengucapkan banyak terima kasih, Karen bik Sum Sudi menampungnya. Jika tidak ada beliau, Rania tak tahu bagaimana nasibnya.


"Bik, terima kasih telah sudi menampung Rania selama ini. Jika nggak ada bibik, Rania nggak tahu akan jadi apa. Sekali lagi terima kasih." ucap raniaemeluk erat Bik Sumi.


"Bibik senang bisa membantu mu nak, satu pesan bibik, jangan pernah lari dari masalah. Seberat apapun itu hadapi dengan ikhlas. Insya Allah semua ada jalan keluarnya." ucap bik Sumi menasehati Rania.


Rania memeluk Bik Sum erat. Berat rasanya meninggalkan wanita paruh baya yang sudah mengajarkan nya banyak hal. Rania juga berpamitan dengan teman temannya.


Mobil melaju menekbus jalanan k Bali ke Jakarta. Sepanjang jalan Rania memilih diam. Tomi membiarkan nya, mungkin Rania masih butuh waktu sendiri pikirnya.


perjalanan yang panjang dan meelahkan. Rania tertidur dan bersandar di bahu Tomi.


Akhirnya mereka sampai di Jakarta malam hari. Tomi menggendong tubuh mungil Rania masuk ke dalam apartemen nya.


Tomi merebahkan tubuh Rania di kamar yang dulu di tempati Rania. Menyelimutinya dan menutup pintu.


Baru. beberapa langkah dia berjalan menuju pintu kamarnya, suara bel apartemen nya berbunyi.


Tomi terdiam sejenak dan berpikir.Siapa yang malam datang kesini? atau jangan jangan ada hal penting yang akan di sampaikan Diki. bathinnya.


Tomi berjalan menuju pintu dan membukanya. Wajahnya pucat melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemen nya. Namun dengan cepat dia merubah ekspresi wajahnya.


"Selamat malam om." sapa Tomi dengan senyum yang tampak jelas di paksakan.


"Apa begini cara mu memperlakukan tamu. Tidak menyuruhnya masuk?" ucap pak Hutomo menyindir.


Tomi terkejut,namun dengan cepat dia mempersilahkan pak Hutomo masuk.


Pak Hutomo langsung duduk di sofa, dan tampak memperhatikan sekelilingnya.


"Mana putriku, aku kesini untuk menjemputnya pulang ke rumah ku." ucap pak Hutomo. Membuat Tomi tersentak kaget. ini sungguh diluar prediksinya. Bagaimana jika Pak Hutomo menceritakan semuanya pada Rania dan bagaimana jika nanti dia di pisahkan dengan Rania .


"Mana putri ku?" tanya pak Hutomo membuyarkan lamunan nya.


"Dia tidak ada disini?" ucap Tomi

__ADS_1


"Hahaah..."


Pak Hutomo terkekeh di depan Tomi.


Jangan membodohi ku anak muda. Aku tahu semua yang kau lakukan pada putri ku, Rania. Aku juga tahu kau terlalu pengecut hingga melamar putri seorang bangsawan dengan cara rendahan. Kau menjeratnya dan memaksanya menjadi kekasihmu. Aku heran, seorang anak pengusaha kaya raya, menjerat seorang gadis untuk di paksa menikah dengannya. Bagaimana Wijaya memiliki seorang anak pengecut seperti mu." ucap pak Hutomo mengejek Tomi.


Tomi mengepalkan tangannya mendengar apa yang di ucapkan oleh pak Hutomo. Namun dia harus bisa meredam emosinya, jika tidak ingin masalah ini semakin runyam.


"Aku tidak akan melepaskan Rania, om." ucap Tomi lantang.


"Apa hak mu, melarang aku mengambil.putri ku?" tanya pak Hutomo mengejek.


Tomi terdiam, benar yang diucapkan pak Hutomo. Dia belum memiliki hubungan apapun dengan Rania.


" Aku akan membawa Rania pulang, dan aku akan menikahnya dengan pria lain yang jauh lebih bertanggung jawab." ucap pak Hutomo.


Ucapan pak Hutomo kembali manci g emosi Tomi.


"Om tidak bisa melakukan itu. Aku mencintai Rania, Rania juga mencintainya ku. Dan aku pastikan jika hanya aku yang kaan menikah dengannya." ucap Tomi.


"Apa kau yakin?" tanya pak Hutomo.


"Aku tahu semuanya, apa kau pikir aku membiarkan putri ku di luaran begitu saja. aku tetap mengawasinya. Mata Mamat ku selalu melaporkan apa saja yang di kwrjakannya, termasuk saat kau memaksanya untuk menjadi pacarmu." ucap pak Hutomo. Memberi jeda sejenak sebelum melanjutkannya.


"Karena aku mencintai nya, om Aku mohon, jangan pisahkan aku dengan Rania. Aku sangat mencintainya." ucap Tomi pada akhirnya menyerah kalah.


"Mana putri ku?" ucap pak Hutomo keras


"Om, aku mohon restui aku dengan Rania. Jangan pisahkan cinta kami, om." mohon Tomi.


Pak Hutomo tersenyum tipis. sangat tipis hingga tomi tak menyadarinya."Aku akan menerima mu jika Rania mengatakan dia juga mencintai mu, Sekarang panggilkan dia."Ucap pak Hutomo.


Tomi tampak kebingungan. Bagaimana ini, Rania sedang amnesia. Dia tidak mengingat jika aku dan dia saling mencinta. Bagaimana aku meyakinkan pak Hutomo. bathin Tomi.


"Kenapa diam, Cepat panggil Rania. Dana ku ingin mendenagr langsung dari anak ku jika dia juga mencintai mu. Aku akan merestui jika Menag kalian saling mencintai." ucap pak Hutomo.


"Maaf, om. Tapi saat ini Rania sedang lupa ingatan. Dan dia tidak mengenal ku, mungkin nanti dia juga tidak mengenal om." ucap Tomi akhirnya memilih jujur.


"Apa yang terjadi pada anakku?" bentak pak Hutomo.


"Rania mengalami kecelakaan om dan itu menyebabkan dirinya amnesia. Tapi....aku mohon beri aku kesempatan untuk meyakinkan Rania jika aku benar benar mencintai nya." ucap Tomi memohon.

__ADS_1


Pak Hutomo kembali tersenyum, Aku tidak salah pilih ternyata dia sangat mencintai putri ku.


"Baik, aku beri waktu untuk mu mendekati putri ku, tapi jika nanti dia menolak mu, Akuntak bisa berbuat apa apa. semau tergantung pada usaha mu untuk memenangkan hatinya. Ingat, jangan pernah kau menyakitinya sedikit saja. jika sampai itu terjadi, maka aku akan membuat menyesal untuk selamanya." ucap pak Hutomo.


"Tapi dengan satu syarat, Utari ku akan tinggal dengan ku. Tunjukkan dimana kamar putri ku, aku akan membawanya pulang sekarang." ucap pak Hutomo tegas.


Dengan langkah berat Tomi menyetujuinya dan mengantar pak Hutomo menemui Rania di kamarnya.


"Sayang,..." ucap pak Hutomo begitu melihat wajah anak kesayangannya.


Rasa rindu yang sudah dia tahan selama ini bergejolak membuatnya tak bisa berkata kata. Tertegun melihat putri kecilnya tertidur pulas.


Rania terbangun karena mendengar Tomi yang membangunkannya.


Papa??? bathinnya.


Mata Rania berkaca kaca , Rania sangat merindukan pria di hadapannya ini. Ingin sekali dia segera berlari dan memeluk erat papanya, namun harus dia tahan sekuat tenaga jika tidak ingin penyamarannya terbongkar.


"Ini, Papa mu." ucap Tomi.


"Papa?" ulang Rania dengan mata berbinar.


Pak Hutomo tampak mengangguk. Rania berjalan memeluk Papanya. Walau sekuat apa dia menahan nya, namun rasa rindu yang teramat dalam membuatnya menitik kan airmata.


Pak Hutomo memeluk erat putri kesayangannya ini.


"Sayang, ayo kita pulang. Mama sangat merindukan mu." ucap nya.


" Ya pulang." ulang pak Hutomo.


"Tapi, Pa." ucap Rania.


"Pulanglah, mama mu sangat merindukan mu." ucap Tomi menambahkan.


Rania memandang wajah papanya dan mengangguk. Kemudian dia mengikuti papanya keluar kamar dan berjalan keluar apartemen Tomi.


"Kapan kau akan menyusul ku?" tanya Rania.


Pak Hutomo mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rania.


"Untuk apa? Kau akan tetap tinggal dengan papa. Kenapa bertanya dengan nya?"

__ADS_1


"Tapi, pa. Aku harus ijin dulu dengan suami ku" ucap Rania. Seketika wajah pak Hutomo terlihat terkejut dan menatap tajam kearah Tomi meminta penjelasan.


Tomi menunduk, tak tahu harus menjawab apa.


__ADS_2