
Tomi bengong melihat Rania pergi dan berlari dari ruangannya.
Tiba tiba dia tersadar, akan apa saja yang baru dia lakukan.
Apa yang aku lakukan, mengapa aku membuatnya menangis. Mengapa aku kembali memaksanya. Bodoh...Bodoh....bodoh... dasar bodoh... Tomi merutuki kebodohannya sendiri.
Diusapnya wajahnya kasar. Penyesalan memang datangnya selalu terlambat, bathin nya.
Tomi berjalan kemeja dan duduk di kursinya. Berniat melupakan yang baru saja terjadi, namun lagi lagi dia tidak bisa berkonsentrasi, bayangan wajah rania yang marah, tak juga menghilang. Tomi kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Menunduk dan meremas rambutnya.
Tak berapa lama, Tomi keluar berniat untuk ke pantri membuat minum untuknya sendiri. Tomi sengaja ingin membuatnya sendiri, sambil berusaha melupakan wajah Rania.
Dia melewati kamar mandi, dan tak sengaja melihat Rania. Rania tampak mengusap bibirnya di westafel dengan sangat kuat.
Tomi yang awalnya sudah melewati kamar mandi berjalan mundur dan mengintip Rania.
Rania mengusap bibirnya sambil mengomel.
"Dasar Tomi sialan, kadal buntung, enak aja dia main nyosor sembarangan. " ucap Rania masih mengomel.
Tomi kembali ingin melanjutkan langkahnya namun terhenti saat mendengar Rania mengatakan.
"Untung saja tadi aku cepat keluar, jika tidak bisa saja tadi aku ketahuan, aku sudah memakinya dan menamparnya, Bukan kah aku sedang lupa ingatan. Huh.....untung saja tadi Tomi tidak menyadarinya." ucap Rania.
Tomi terkejut mendengar apa yang diucapkan Rania. Ternyata selama ini dia berpura pura. Dia berani main main dengan ku, hehe
...Muncul ide gila di kepala Tomi, dan Tomi tersenyum licik. Kemudian melangkah pergi dari sana....
__ADS_1
Hatinya yang awalnya galau, sedih , kini berubah menjadi ceria dan bahagia. Seketika moodnya kembali. Dengan penuh semangat Tomi kembali ke ruangannya. Duduk dan memeriksa laporan dengan wajah berseri. Bahkan sesekali dia bersiul.
Rania sudah kembali ke mejanya. Dan duduk mengerjakan beberapa berkas di depannya.
"Rania," panggil Tomi dari dalam ruangannya.
Rania seketika menghentikan kegiatannya dan menoleh.
Apa lagi yang diminta boss sinting ini. Awas saja jika dia berani macam macam. bathin Rania.
Rania masuk kedalam ruangan Tomi. "Ada apa, boss memanggil saya?" tanya Rania.
"Boss?" ulang Tomi.
"Berarti kau sudah mengingat ku?" tanya Tomi menyelidik. Wajahnya menatap tajam ke arah Rania.
Seketika Rania tergagap. Dia lupa jika saat ini dia berpura pura amnesia,
Tomi mengguman dalam hati, "Ok, permainan di mulai." ucapnya dalam hati.
Tomi beranjak dari duduk nya berjalan kearah Rania. Rania berdiri tegak, memasang kuda kuda, jika nanti Tomi tiba tiba menciumnya.
"Sayang...Kau kenapa?kenapa kau tegang sekali? Aku tidak marah karena kau menampar ku tadi. Justru aku mau minta maaf atas perbuatan ku tadi. Maafkan aku, aku ...aku hanya terlalu merindukan mu." ucap nya sambil menyelipkan rambut Rania ke belakang telinga nya.
Rania terperangah mendengar ucapan Tomi. Sungguh ini diluar ekspektasi nya. Dia pikir Tomi akan marah dan kembali memaksanya. Namun justru Tomi bersikap manis.
Tomi memegang tangan Rania, dan berucap sangat lembut sebelum kemudian mencium tangannya pelan. "Sayang... maafkan aku. Aku benar benar minta maaf. Aku mencintaimu, dan aku sangat merindukan mu."
__ADS_1
Rania seperti terhipnotis akan ucapan Tomi. Dia terdiam dan memandang tomi dengan tatapan terpesona. Sungguh pesona Tomi luarbiasa hingga Rania tak bisa berkata apa apa.
" Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Lagi pula kita ini kan suami istri. Jadi apa salahnya jika aku mencium istriku sendiri?" Tomi berbisik pelan dan sangat lembut. Bahkan nafasnya terasa hangat di telinga Rania.
Wajahnya mendekat dan tomi menempel kan hidungnya ke hidung Rania dan menggesekkan nya pelan. Sungguh posisi yang sangat intim. Bahkan tubuh Rania sedikit menegang dibuatnya.
"Apa kau lupa, kita bahkan melakukan yang lebih dari ini. Atau...kau ingin aku mengulangnya dan membuat mu mengingat kembali moment indah kita?" ucap Tomi sengaja lambat lambat.
Tubuh Rania langsung tegang. Logika berbicara. Tomi akan melakukan...
ha.....teriak Rania dalam hati. Tidak, ini tidak boleh terjadi, tidak boleh. Jika aku mendorongnya dia akan tahu aku berpura pura, tapi aku tidak mau.... Aaa.... Jerit hati Rania.
Tomi mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Rania. Tomi sengaja menempelkan bibirnya lama, menunggu reaksi Rania.
Tomi tahu jika saat ini Rania sedang galau.
Sambil tersenyum-senyum tipis Tomi mulai menggigit kecil bibir Rania, seketika penolakan terjadi. Rani berusaha berontak, namun Tomi kembali mengencangkan pelukannya.
"Biar aku membantu mu mengingat moment indah kita, dan kau bisa mengingat ku kembali. " ucap Tomi pelan. Dan kembali mencium Rania. Tangannya sudah bergerak mencoba membuka kancing blus Rania.
Rania panik dan seketika dia berteriak di sela sela ciuman Tomi yang panas.
"Lepaskan aku, aku mohon lepaskan aku... Tolong jangan lakukan itu, aku mohon, maafkan aku,,, aku telah membohongimu, aku mohon jangan, aku menyerah.... aku .." Rania menangis didalam pelukan Tomi.
Tomi menatap Rania dan membiarkan Rania bicara.
"Aku minta maaf telah membohongi mu, aku sudah ingat semuanya. Aku minta maaf."
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan Tomi selanjutnya??? Akan kah dia melepaskan Rania.
like, vote dan komen ya...