
Rania dan Tomi sudah kembali ke Jakarta. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Sudah larut malam.
Walau tadi Rania sudah menelpon orangtuanya tetap saja Tomi sedikit merasa khawatir.
Orangtua Rania sangat galak menurutnya. Entahlah setiap kali menemui orangtua Rania , nyali Tomi menciut, benar benar ciut.
Baru menatap menatap matanya saja, Tomi sudah merasa takut.
Mobil sudah masuk ke pekarangan rumah Rania. Dan Tomi juga sudah turun. Tomi membuka kan pintu di sebelah Rania. Dan dengan senang hati Rania turun.
Berjalan masuk ke dalam dengan menggandeng tangan Tomi, Rania melenggang masuk ke halaman rumah hingga teras. Di depan pintu ternyata papa Rania sudah berdiri menyambut mereka.
"Malam, Pa?" sapa Rania terdengar sangat manja.
"Malam om" ucap tomi, suara nya tercekat di leher. Menarik nafas dalam-dalam dan sedikit membungkuk.
"Masuk!" ucap pak Hutomo terdengar datar dan dingin di telinga Tomi.
Rania masuk lebih dulu, tinggal Tomi masih berdiri di depan pak Hutomo. Sedikit bingung, mau berkata apa. Mau permisi atau atau ikut masuk ke dalam.
"Kau..." ucap pak Hutomo kearah Tomi.
" Mengapa masih berdiri disitu, masuk." ucapnya tegas.
" Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu?" ucap pak Hutomo.
Nada suaranya terdengar dingin dan tegas. Tomi merutuki dirinya sendiri yang terlihat bodoh dihadapan pak Hutomo. Mengapa tadi aku diam saja seperti orang bodoh. bathinnya.
Tomi masuk ke dalam mengikuti langkah pak hutomo dan duduk tepat berhadapan dengan calon mertuanya yang sangat galak menurutnya.
__ADS_1
Tomi duduk dan menunduk, tak berani memulai pembicaraan.
Terdengar suara pak Hutomo memecah kesunyian diantara mereka.
"Dari mana saja kalian, hingga pulang se larut ini? apa kau tidak tau etika dan sopan santun dalam membawa anak gadis orang?" ucap pak Hutomo menyindir dengan sangat telak.
Tomi bingung harus menjawab apa. Tomi hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah. Kalimat pak Hutomo sangat mengena di hatinya. Hingga lidahnya Kelu tak mampu menemukan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan pak Hutomo.
Benar yang di ucapkan pak Hutomo, dia membawa Rania pergi tanpa permisi, dan ini sudah larut malam. "Tapi ini kan Di jaman modern, bagaimana hal seperti itu masih di anggap sakral dan penting, bukan kah sekarang era globalisasi dimana semuanya bebas, bebas berbicara, bebas bersikap dan bebas bergaul. Lagipula dia juga mengantarkan rania pulang hingga sampai di rumah. Bukankah itu termasuk dalam bentuk tanggung jawabnya. Selagi itu masih dalam hal wajar, mengapa harus di pertanyakan dan di permasalahkan?" ucap Tomi. Tapi tentu saja dia hanya berani mengatakannya di dalam hati saja. Jika sampai terucap bisa bisa di makan oleh papa Rania.
Melihat tomi hanya diam saja, pak Hutomo kembali berucap.
"Kau tahu apa kesalahan mu, anak muda?" tanya pak Hutomo.
Mau tak mau Tomi mengangguk. Mana mungkin dia mengangkat kepalanya dan menantang pak Hutomo. Bisa bisa di pecat dia jadi calon mantu. Bisa ngga jadi kawin dengan Rania nantinya.
"Bagus, " ucap pak hutomo manggut manggut.
"Waktumu tinggal besok. Dan aku yakin kau pasti masih membohongi putriku. Dengan berpura pura jadi suaminya." ucap pak Hutomo kali ini dengan senyum mengejek.
Leher Tomi rasanya bagai di cekik, lebih baik menghadapi puluhan klien dari pada menghadapi satu orang di depan nya ini. Satu kali saja Tomi salah bicara, hancur semuanya.Gagal rencana nya membawa Rania ke pelaminan.
Belum sempat Tomi berbicara Rania masuk membawa nampan berisi air minum. Menyajikannya dan duduk di sebelah Tomi.
"Sayang...sebaiknya kamu masuk dan ganti pakaian mu, Biar Tomi papa yang temani." ucap pak Hutomo mengusir Rania secara halus.
Rania melirik Tomi. Tomi mengangguk kan kepalanya.
Walau berat hati, akhirnya Rania meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
__ADS_1
"Saya sudah menceritakan semua nya kepada Rania, dan dia menerima nya. Saya tidak membohonginya, Om. Dia memang benar calon istri saya. Karena saya telah melamarnya sebelumnya, Walau tanpa orangtua saya. Dan Rania juga sudah mengingat semuanya. Ingatannya sudah kembali sepenuhnya. Saya benar benar mencintai nya, saya berniat emnajdikannya istri saya, ibu dari anak anak saya. Dan saya ... akan membawa orang tua saya untuk melamarnya." ucap Tomi.
"Apa kamu yakin? bukankah dulu kau juga menolak perjodohan ini, apa kau lupa?" kembali pak Hutomo bicara.
"Saya yakin, sangat yakin. Saya akui dulu saya memang salah, karena menolaknya tanpa melihatnya lebih dulu. Saya minta maaf untuk itu. Tapi saya mencintai Rania, Om. Bukan kerana dia putri tunggal keluarga Hutomo yang kaya raya, tapi saya tulus mencintai nya, dengan apa adanya dirinya. Saya mencintai nya tulus dari lubuk hati saya yang paling dalam." ucap Tomi tegas dan penuh keyakinan.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk putriku. Bukankah kau sendiri tahu, dia sering bertingkah kekanakan, suka marah, suka ngambek bahkan sampai melarikan diri dari rumah. Mungkin itu karena aku yang terlalu memanjakannya. Apa kau sanggup dengan semua sifatnya itu?" tanya pak Hutomo.
Kali ini suaranya terdengar parau. Seperti menahan kesedihan karena akan melepaskan putri kecilnya.
"Saya yakin, Om." ucap Tomi tegas.
"Ku mohon, semarah apapun dirimu padanya, jangan pukul dan membentaknya, dia sangat rapuh dan manja. Dia putriku satu satunya, tolong bahagiakan dia.' ucap pak Hutomo memohon.
Tomi sangat terkejut melihat sikap pak Hutomo yang berubah 180 derajat.
Terlihat jelas dia sangat menyayangi putrinya, Rania. Tomi maju dan menangkap tangan pak Hutomo yang memohon padanya. 'Saya berjanji akan selalu menyayangi nya ,Om. Seumur hidup saya, saya hanya mencintai Rania." ucap Tomi.
Pak Hutomo melepaskan tangannya dan memeluk erat Tomi.
"Om percaya padamu." ucapnya.
Tanpa mereka sadari Rania mendengarkan obrolan mereka dibawah tangga. Dia sengaja mengendap endap untuk mendengarkan pembicaraan papanya dengan Tomi.
Sungguh tidak dia sangka papanya begitu menyayanginya, hingga rela memohon kepada Tomi.
Rania benar benar terharu, air matanya perlahan jatuh di pipinya. Mengalir deras tanpa bisa di bendung.
Keduanya kembali duduk di kursinya masing masing. Obrolan berjalan dengan santai.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Tomi pamit untuk pulang ke rumahnya. Kali ini tujuannya adalah rumah orangtuanya.
like vote dan koin seikhlasnya ya..