
Rania memeluk kaki mamanya. Meminta maf karena telah pergi dari rumah. Rania tahu mama nya pasti merasa sedih memikirkan dirinya.
"Mama sudah memaafkan mu, nak. Seharusnya mama yang minta maaf, karena keegoisan mama, kamu lari dari rumah. Mama minta maaf." ucap Bu Hutomo sambil menangis.
"Mama nggak salah, Rania yang salah. Maafin Rania..." keduanya saling berpelukan.
"Sayang....mama janji, mama tidak akan memaksa kamu lagi. Terserah kau mau menikah dengan siapa pun, mama tidak memaksa mu." ucap Bu Hutomo.
"Sudah...sudah nangisnya. Dari tadi Papa di cuekin aja. Sudah kayak nyamuk papa di anggurin." ucap pak Hutomo.
Rania dan mamanya menoleh. Ak Hutomo berjalan mendekat dan memeluk kedua wanita kesayangannya ini.
Papa melepaskan pelukannya. "Ma...." panggilnya pelan.
Mama menoleh,
"Papa lapar" ucap pak Hutomo memegang perutnya. Seketika mereka semua tertawa.
"Yuk, kita makan, sayang...Ayo, Kamu sudah lama tidak makan di rumah kan?" ucap Bu Hutomo menarik tangan Rania menuju meja makan.
"Ma..... Papa yang lapar, kok malah Rania yang di tarik, bukan papa." ucap pak Hutomo manyun.
"Sudah papa tennag aja. Nanti mama ambilin. Rania dulu ya, pa. Rania kan sudah lama nggak makan di rumah, dia pasti sanagt merindukan masakan mama." ucapnya.
Setelah mengambilkan makanan Rania dan suaminya, bu Hutomo juga mengambil makanan untuknya. Kini mereka bertiga makan bersama dengan lahap dan bahagia.
...****************...
Keesokan Harinya....
__ADS_1
Pagi pagi sekali Tomi sudah bangun, menunaikan kewajibannya sebagai muslim dan berolahraga.
Hari ini hari Minggu, Tomi berencana untuk joging di taman kompleks. Sudah lama dia tidak joging. Dengan langkah pasti Tomi bberjalan keluarenununtaman. Dia memulai joging nya. Baru satu putaran, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Tomi berhenti dan membuka pesan yang dikirim nomor tak dikenal.
Temui Om di kafe X, siang ini jam dua.
Jangan coba coba tidak datang atau Om akan membawa Rania jauh.
Setelah membaca pesan tersebut, Tomi yakin jika si pengirim adalah pak Hutomo, Papa Rania.
Tomi melanjutkan jalannya, namun kali ini langkahnya terasa berat. Semangatnya tiba tiba hilang. Berganti sendu, takut, bingung. Menghadapi om Hutomo. Tomi lebih memilih bertemu dengan klien yang arogan, kasar dan cerewet daripada menghadapi Om Hutomo.
Sejenak Tomi duduk di kursi taman. Membayangkan apa yang akan di tanyakan papa Rania padanya membuat tubuhnya merinding, lemas dan tak berdaya.
Dengan langkah malas, Tomi kembali ke apartemen nya dan membersihkan diri. Bersiap menemui calon mertua nya yang galak.
Tomi telah sampai di kafe X. Langkahnya pasti memasuki kafe dan memesan meja yang kosong. Tomi memesan ruang VIP, untuk ngobrol berdua dengan pak Hutomo.
Tak lupa Tomi memesan kopi pahit tanpa gula untuk menemani nya menunggu kedatangan pak Hutomo.
Sepanjang duduk dan menunggu , Tomi kembali memikirkan alasan yang tepat untuk dia ucapkan kepada pak Hutomo. Sayangnya semau terasa buntu.
Seseorang membuka pintu dan masuk kedalam. Ruang yang Tomi pesan tertutup rapat dan sangat menjaga privasi konsumennya.. Jadi dia bisa mengobrol sepuasnya dengan calon mertuanya.
"Siang Om.." sapa Tomi ber-basa basi.
"Siang. Sudah lama menunggu?" tanya Pak Hutomo,
__ADS_1
"Enggak kok baru saja nyampe." ucap Tomi lagi.
"Pelayan datang dan pak Hutomo juga memesan kopi.
Pak Hutomo menatap tajam ke arah Tomi. Membuat Tomi kesulitan walau hanya sekedar menelan ludahnya.
"To the poin aja. Kau pasti sudah tahu maksud ku mengapa aku ingin bertemu dengan mu." uca pak Hutomo lambat lambat sengaja ingin melihat ekspresi wajah Tomi.
Wajah Tomi berubah sedikit pucat, walau dia sudah menduga pak Hutomo akan menanyakan ini, namun begitu dia mendengarnya langsung dari orangnya. Nyalinya langsung menciut. Keberanian yang susah payah dia kumpulkan menguap terbawa angin.
"Saya...saya bisa jelaskan semuanya,om." ucap Tomi pada akhirnya.
Semua alasan yang telah Tomi pikirkan, dan persiapkan sejak awal terbang menguap bersama angin.
Tomi akhir melilih untuk jujur.
"Sebenarnya, saya berbohong om, kepada Rania dan bik Sumi. Rania waktu itu marah kepada saya karena keslah pahaman. Sebenarnya memang saya yang salah om, tapi Rania tidak mau mendengarkan penjelasan saya dan kembali pergi. Hingga akhirnya sataenemukannya dan memang saya berbohong mengatakan jika saya suaminya dan Rania istri saya Yangs Edang merajuk." jawab Tomi .
Menarik nafas panjang dan menghelanya.
"Saya berbohong dengan mengatakannya Rania adalh istri saya kepada Bik Sumi dan para anak buahnya termasuk Rania. Rania kehilangan ingatannya, itu juga karena saya yang ceroboh. Raniancoba lari saat saya menjelaskan kesalah pahaman diantara kami."
"Tapi saya berani sumpah om, walau saya dan Rania tinggal bersama, saya tidak mengapa ngapain anak gadis om " ucap Tomi
"Bagaimana saya bisa mempercayai mu?" tanya pak Hutomo.
"Om bisa pegang kata kata saya. saya mencintai Rania. saya pasti akan menjaganya. Hingga saat nya nanti dia resmi menjadi istri saya yang sah." ucap Tomi mantap
"Maafkan saya om, karena telah berbohong, semua saya lakukan agar Rania tidak lari dari saya. Saya janji, akan jujur padanya. Jika saatnya sudah tepat. maaf kan saya, om." ucap Tomi penuh penyesalan.
__ADS_1