Pencopet Cantik

Pencopet Cantik
Maaf


__ADS_3

Tomi dengan tergopoh gopoh membopong tubuh Rania, masuk ke dalam lift dan menekan tombol paling bawah menuju lantai satu.


"Sayang....bangun. jangan seperti ini, aku minta maaf, aku minta maaf, kau boleh marah padaku, tapi please...jangan tinggalkan aku... Aku mohon...Bathin Tomi.


Terus melangkah begitu lift terbuka. Berjalan ke arah mobil yang sudah menunggu di depan pintu. Supir langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit.


Tomi juga sudah memerintahkan anak buahnya untuk segera menghubungi rumah sakit, agar segera melakukan persiapan untuk menyambutnya.


Di dalam mobil Tomi terus berusaha membangunkan Rania, namun tampaknya Rania lebih memilih tidur nyaman dalam dekapannya.


Tomi setengah memaki supirnya yang menurutnya sangat lamabat. Padahal.sang supir adalah supir pilihan dan terlatih. Dia juga sudah melakukan yang terbaik dengan melajukan mobilnya secepat mungkin ke arah rumah sakit.


Detik berlalu terasa sangat lambat bagi Tomi. Tubuhnya menegang dan amarahnya tak dapat dia bendung. Dia terus berusaha membangunkan Rania dinaepanjang jalan menuju rumah sakit, walaupun akhirnya semua sia sia.


Hanya dalam beberapa menit mereka sampai di rumah sakit. Petugas rumah sakit sudah menunggu mereka di depan pintu UGD.


Dengan segera tubuh Rania si pindahkan ke bangsal dan segera di tangani oleh dokter.


Tomi di minta menunggu di luar ruangan. Dokter sedang menangani Rania di dalam. Tomi terduduk dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Bajunya penuh dengan noda darah.


Diki datang dan menghampirinya. Membawakan baju ganti untuk nya.


"Tuan, sebaiknya anda mengganti pakaian anda dulu." ucap Diki.


Tomi melihat dirinya sendiri, benar yang di katakan oleh Diki.


Diraihnya paper bag yang dibawakan oleh Diki, dan berjalan ke kamar mandi. Membersihkan diri dan menukar pakaiannya.


Setelah beberapa menit, Tomi keluar dari kamar mandi. Pakaian sudah berganti dengan pakaian yang bersih. Tomi tampak segar dan fresh.


Bersamaan dengan dokter yang baru saja keluar. Tomi langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Tomi.


"Lukanya tidak terlalu serius, hanya lukanluar. Kepalanya sedikit tergores dan berdarah. Hanya nona Rania belum sadar. Bisa juga efek dari obat bius yang di suntikkan tadi. Mungkin beberapa saat lagi nona Rania akan sadar. Setelah dia sadar, saya akan melakukan pemeriksaan lanjutan." ucap dokter Niko.


"Terima kasih, Dokter. Boleh saya melihatnya sekarang?" tanya Tomi lagi.


"Silahkan..." jawab dokter Niko.


Dengan langkah cepat Tomi masuk ke dalam ruangan Rania.


Hatinya sakit teriris melihat kondisi gadisnya yang menyedihkan. Tangan nya terpasang infus, kepalanya di balut perban dan saat ini dia tergeletak, mungkin sedang tertidur.


Tomi mengambil kursi dan duduk di samping Rania. Matanya berkaca kaca melihat wajah pucat Rania. Ini semua akibat ulahnya. Jika saja dia tidak memaksa Rania, dan membiarkan rania pergi. Mungkin ini tak akan pernah terjadi dan Rania akan baik baik saja.


Di genggamnya tanagn mungil Rania dan diciumnya dalam. Rasa penyesalan semakin dalam menggelayuti hatinya.


Beberapa menit kemudian Rania tersadar. Dia mulai mengerjapkan matanya perlahan lahan.


"sayang....kau sudah bangun?" ucap Tomi dengan mata berbinar.


"Aku dimana?" tanya Rania lagi.


"Sayang....kamu ada di rumah sakit. katakan mana yang sakit." ucap Tomi lagi.


"Kau....kau siapa? Dan a...aku siapa?" tanya Rania.


Jantung Tomi seperti tertusuk duri mendengar ucapan Rania.


Apa mungkin dia amnesia, bagaimana bisa? a...apa akibat jatuh tadi??? aku...aku....


"Katakan siapa aku?" ucap Rania lagi. Membuyarkan lamunan Tomi.

__ADS_1


"Kamu adalah Rania. Dan aku adalah Tomi suami mu." ucap Tomi.


"Suami? Menikah?" ulang Rania pelan. Dia seperti kebingungan.


" Ya, aku suami mu. Dan kita baru saja menikah. Lalu kamu mengalami kecelakaan." ucap Tomi berbohong.


Dasar tukang bohong enak saja dia bilang aku ini istrinya. lebih baik aku terus saja berpura pura amnesia. aku ingin lihat seberapa besar cinta nya dan seberapa tulus perasaan dia kepadaku. bathin Rania.


"Auw.....sa...sakiiiit" ucap Rania memegang kepalanya.


Tomi panik dan segera memanggil dokter.


Tak lama dokter pun datang dan memeriksa Rania. Setelah memberikan beberapa pertanyaan, kening dokter tampak berkerut dan mengangguk angguk membuat Tomi semakin penasaran.


Dokter keluar diikuti oleh Tomi.


"Bagaimana kondisinya dokter?" tanya Tomi.


"Secara fisik nona Rania baik baik saja. Namun dia terkena amnesia.mungkin akibat benturan di kepalanya. Tapi itu tidak permanen." ucap dokter Niko.


"Lalu apakah dia bisa mengingat kembali semuanya?" tanya Tomi.


"Kita tidak bisa memprediksikannya, bisa dua hari, dua Minggu, satu bulan atau juga satu tahun. Tapi jangan terlalu memaksanya." ucap dokter Niko.


"Terima kasih dokter." ucap Tomi.


Dia kembali melangkah memasuki ruang rawat Rania. Dan Rania tampaknya kembali tertidur. Tomi duduk dan memandangnya ,


"Maafkan aku..." ucap Tomi lirih dan penuh penyesalan.


Matanya belum mau terbuka.

__ADS_1


__ADS_2