
"Suami?" ulang pak Hutomo.
Dengan mata menatap tajam kearah Tomi.
Rania tertawa di dalam hatinya. Hahaha... rasain lho. Apa lagi yang akan kau katakan ke papa. Makanya jangan suka bohong, emang enak.....hehehe. bathin Rania.
"Pa.. Kok papa heran gitu. Tomi, kan suami Rania. Masak papa lupa?" tanya Rania semakin memperkeruh suasana.
Mati aku, apa yang harus aku ucapkan kepada Om Hutomo. Bagaimana ini, mana tatapannya tajam lagi. Jika aku jawab bisa bisa Rania tahu kalau aku bohong, tapi kalau aku bilang aku suaminya, aku bisa di makan singa tua ini,
Pikiran Tomi berkecamuk...
"Eh...begini om,....." jawabnya, yang masih bingung mencari alasan yang tepat agar tidak memperuncing suasana.
Belum sempat Tomi bicara , Rania memotong ucapannya.
"Pa, ayo kita pulang sekarang, aku sangat merindukan Mama, Ayo Pa..." Ucap Rania menarik lengan papanya dan memaksanya pergi dari sana. Rania terus saja menarik pak Hutomo.
Pak Hutomo terpaksa mengikutinya tanpa sempat bicara.
Aku akan menanyakan nanti, kali ini kau selamat, Tomi. Tapi tidak untuk besok, besok aku akan menanyakan nya langsung padamu. bathin pak Hutomo.
Tomi menarik nafas lega. Dadanya seketika terasa plong. Tadi tenggorokannya bagai tercekik, dan dadanya terasa sesak. Serasa berton ton batu menimpa dadanya.
Untung saja Rania segera membawa pergi papanya, dan aku selamat. Jika tidak, semuanya akan segera terbongkar dan aku yakin, singa tua itu akan memakan diriku hidup hidup. bathin Tomi.
__ADS_1
Rania terus menyeret papanya keluar berjalan menuju lift dan menekan tombol paling dasar.
"Pa...." panggil Rania sengaja mengalihkan perhatian papanya. Rania tahu jika papa nya masih memikirkan ucapannya tadi.
Pak Hutomo masih terlihat bingung. Ekspresi wajahnya jelas menunjuukan rasa penasaran, dengan ucapan Rania yang memanggil Tomi suami.
Tapi dia coba menahan nya, mengingat Tomi mengatakan jika Rania saat ini amnesia.
Rania tersenyum sendiri sambil terus memeluk lengan papanya. Dalam hati dia kembali mentertawakan wajah Tomi yang terlihat pucat ketakutan.
Senang banget bisa ngerjain Tomi. Lihat tadi wajahnya sampai pucat gitu, hahaha rasain Lo Tom. bingung kan lommau jawab apa. untung aku masih berbaik hati dengan membawa papa pergi dari sana. Aku bisa lihat ketakutan di wajah mu, hehehe.
Ini masih awal, aku masih ingin melihat kesungguhan cintamu, tunggu lah ujian berikutnya. hehehe..
Pak Hutomo melirik kearah Rania. "Sayang, kenapa kau senyum senyum sendiri?" tanya pak Hutomo.
"Aku hanya lagi bahagia, Papa menjemput ku, jadi aku bisa segera menemui mama. Papa tahu kan, aku sangat merindukan Mama." ucap Rania.
Pak Hutomo hanya mengangguk kan kepalanya.
Mereka mengendarai mobil pulang ke rumahnya. Jalanan yang lengang membuat mereka tiba di rumah dengan cepat
Sampai dirumah Rania langsung berlari membuka pintu. Terlihat seorang wanita paruh baya, sedang duduk termenung di sofa menonton TV, tapi pikirannya melayang kemana mana.
"Mama...." panggil Rania.
__ADS_1
Seketika Bu Hutomo tersadar dan menoleh kearah suara yang memanggilnya.
Bu Hutomo seakan tak percaya melihat siapa yang berdiri tak jauh dari hadapannya.
"Ra...Rania...." ucap Bu Hutomo pelan.
"Mama" panggil Rania dan berlari kearah mamanya. Memeluknya erat meluapkan segala kerinduan hatinya.
Bu Hutomo memeluk erat tubuh putri kesayangan nya.
Bu Hutomo merasa sangat bahagia, gadis kecilnya pulang kembali ke rumah dengan selamat.
Bu Hutomo menciumi wajah Rania. Dia sangat sangat Merindukannya.
"Sayang....benar ini kamu?" tanya Bu Hutomo lagi. Tangannya meraba wajah dan pipi Rania.
Rania mengangguk.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya putri ku kembali dengan selamat." ucap Bu Hutomo kembali memeluk Rania.
Rania mengajak mamanya duduk di sofa.
"Maafkan Rania, Ma." ucap Rania.
Rania duduk bersimpuh di kaki ibunya. Memohon ampunan atas sikapnya yang kekanakan selama ini.
__ADS_1
"Ampuni Rania, Ma. Rania tahu Rania salah, Rania sudah buat mama susah." ucap Rania.
like and vote nya di tunggu ya ....