
Sore menjelang Rania sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya. Dia sengaja berjalan lebih dulu, agar tidak pulang bersama dengan Tomi.
Tomi merapikan mejanya, mengambil tas dan keluar dari ruangan nya. Melirik ke kiri Dimana biasanya Rania duduk. Kosong....
Kemana perginya, gadis kecil itu, dia pasti ingin kabur dariku.... bathin Tomi.
Bukan nya marah, Tomi malah tersesak tipis mengingat tingkah lucu Rania yang kekanakan.
Diambilnya ponselnya dan menelpon Rania.
Setelah beberapa kali terdengar nada dering, barulah ponsel tersebut di angkat.
"Ya, hallo...." jawab Rania.
"Kau dimana???" tanya Tomi.
"Saya sedang dalam perjalanan pulang, Boss. Ada apa??" tanya Rania.
"Segera kemasi barang mu kita akan ke.bandung malam ini juga. Seharusnya tadi sore kita sudah harus sampai Bandung, tapi pertemuannya di tunda. Jadi kita akan berangkat sekarang. Aku akan sampai lima belas menit lagi. Dan kau harus sudah siap."
Tut...Tut...Tut... Sambungan terputus.
Rania mendesah pasrah, belum juga dia mengatakan sesuatu Tomi sudah memutuskan secara sepihak.
Rania turun dari taksi dan berjalan pelan menuju kost nya. Di depan gerbang, Tomi sudah menunggunya dengan berkacak pinggang.
"Dari mana saja kau?" tanya Tomi.
Rania menjawab pelan sambil menggerutu.
"Saya baru sampai, Boss. Tadi jalanan macet." jawab Rania.
Kenapa dia sewot, marah marah nggak jelas. Bukan kah dia tahu aku baru turun dari taksi. Bathin Rania.
"Cepat kemasi barang yang akan kau bawa. kita akan disana selama dua hari mungkin lebih jika masalahnya belum.juga selesai." ucap Tomi.
" Kenapa bukan bersama pak Juan saja? Dia kan lebih berpengalaman." protes Rania.
"Dia akan menyusul besok. Karena ada pertemuan penting besok pagi dan aku meminta Juan yang menghadirinya. Sudah, cepat. Kau terlalu banyak protes."
Rania masuk ke dalam kost, mandi dan mengemas beberapa bajunya, karena bajunya juga tidak banyak.
Tidak sampai sepuluh menit Rania telah selesai. Keluar dengan menenteng ransel besarnya.
__ADS_1
"ayo, " ucap Tomi dan meraih tas yang di pegang oleh Rania, membawanya masuk ke dalam bagasi mobil. Sikap kecil ini menjadi perhatian bagi Rania.
Dia mau membawakan tasku, manis sekali...
Perjalanan ke Bandung memakan waktu yang lumayan lama di karenakan hujan dan juga macet. Bahkan Rania sampai tertidur di mobil. Tomi kasihan dan tak berniat membangunkan nya.
Dengan pelan Tomi mengangkat Rania dan membawanya masuk ke dalam kamar hotel yang sudah di pesan Juan sebelum mereka berangkat.
Kamar Rania berada tepat di sebelah kamar Tomi. Setelah menyelimutinya, tomi duduk di tepi tempat tidur. Memandang wajah mungil Rania yang terlihat cantik saat tidur.
Tomi mencium kening Rania. Kemudian bangkit berjalan keluar dan mengunci pintunya. Takut jika nanti ada yang masuk ke dalam .
Tomi masuk ke dalam kamarnya. Mandi dan kini duduk melamun di balkon kamar hotelnya.
Pikirannya melayang mengingat saat pertama pertemuan nya dengan Rania. Gadis kecil yang keras kepala dan diam diam mencuri perhatian nya.
Bahkan Tomi tidak menyangka jika akan ada pertemuan selanjut dan justru kini mereka dekat bahkan Rania kini menjadi kekasih nya.
Tomi tersenyum kecil mengingat bagaimana dia memaksa Rania menjadi kekasih nya. Kekasih terpaksa...
Miris...
Tomi teringat akan perjanjian dirinya dengan papa nya, waktu terus berjalan. Dan kini tinggal satu Minggu lagi dari waktu yang di tentukan.
Apa aku terima saja perjodohan itu?
Miris....bahkan sampai saat ini aku belum juga memilki seorang kekasih yang akan aku bawa untuk aku jadikan istri.
Tomi kembali termenung memikirkan nasib nya. Kisah cintanya tak semulus kariernya. Radit me**mang menikah terpaksa dengan Alya, tapi dia sudah mengenal Alya sejak kecil. Berbeda dengan kisah ku.
Aku ingin gadis yang mendampingiku benar benar gadis yang aku cintai.
Tiba tiba bayangan Rania melintas di kepalanya.
Apa aku paksa Rania menjadi kekasihku dan aku bawa ke hadapan Papa? Dia baik, cantik, polos dan aku juga merasa nyaman di dekatnya. Dia tidak pernah berpura pura.
Tapi .....dia pasti akan menolaknya. Karena dia gadis yang keras kepala. Bagaimana aku membuatnya patuh dan mau mengikuti kemauan ku???
Tomi terlihat frustasi.. duduk dan meremas rambutnya .
Lebih baik aku menikah dengan rania yang sudah aku kenal.
Ya aku akan meminta Rania menjadi calon istri ku. Walau dengan terpaksa. bathin Tomi mantap.
__ADS_1
Setelah pulang dari Bandung, aku akan membawanya menemui Papa, putus Tomi.
Hanya perlu memikirkan cara agar dia mau dan menurut.
Tomi kembali berjalan ke tembapt tidurnya dan membaringkan tubuhnya. Tak lama kemudian dia terlelap.
...----------------...
Pagi menjelang, Tomi telah bersiap untuk bertemu dengan klien begitu juga dengan Rania. Mereka menikmati sarapan di restoran hotel.
Setelah nya mereka datang mengunjungi pembangunan hotel yang letaknya lumayan jauh dari hotel mereka. Hingga jam makan siang, baru mereka kembali. Sore harinya tomi kembali mengajak Rania menemui beberapa orang investor di beberapa tempat hingga malam hari.
Setelah makan malam, Rania langsung kembali ke hotel, masuk kedalam kamarnya dan memilih tidur. Tubuhnya yang lelah memaksa ingin beristirahat.
Tomi masih duduk di kafe yang terletak di depan hotel mereka. Masih memikirkan cara agar Rania mau menjadi calon istri nya, namun bukan karena paksaan.
Lama berpikir dan tak juga menemukan jawabannya, Tomi memilih kembali ke kamar hotelnya untuk beristirahat.
Pagi ini mereka masih disibukkan dengan berbagai pertemuan penting hingga sore hari.
Dan malam ini adalah malam persemian kantor cabang perusahaaan Tomi di Bandung.
Tomi telah memesankan gaun yang indah untuk Rania. Dan sudah mengirimkannya.
Jam tujuh malam tomi mengetuk pintu kamar Rania.
Rania keluar dan Tomi terkejut melihat penampilan Rania yang sangat cantik. Bahkan Tomi sampai terbengong di buatnya.
Rania juga terpesona melihat Tomi yang tampil sangat tampan. Dengan dasi kupu kupu di lehernya. Kembali jantungnya berdetak kencang.
"Ayo," ucap Tomi mengulurkan tangannya.
Rania belum juga menyambutnya. Masih bergelut dengan pemikirannya sendiri.
"Kau adalah kekasihku, maka kau harus bersikap layaknya seorang kekasih, Aku mohon bekerja samalah." ucap Tomi.
Rania tersadar dari lamunannya. Manis sekali sikapnya, dia juga tampan. Sayangnya ini hanya sandiwara. bathin Rania Merasa kecewa.
Didalam hatinya Tomi juga berpikir sama. Andai ini kenyataan...., bathinnya.
Like and vote ya.....
Buat mamie makin semangat.
__ADS_1