
Pagi ini tomi bangun dengan penuh semangat, bahkan senyum tak lepas dari wajahnya.
Tomi melangkah masuk ke lobi kantor bersamaan dengan Rania yang baru juga sampai. Rania sampai melirik jam di tangan nya tidak menduga jika Tomi akan datang sepagi ini. Masih pukul tujuh pagi dan menurut jadwal baru akan meeting jam sebelas nanti.
Rania mengikuti langkah Tomi, berjalan cepat mengimbangi langkah Tomi yang cepat dan panjang.
"Selamat Pagi, Pak" sapa para pekerja yang berpapasan dengan mereka.
Tomi tersenyum dan mengangguk ramah sebagai jawabannya.
"Sebutkan jadwalku hari ini?" tanya Tomi.
Rania mulai membacakan jadwalnya. Dan Tomi kemudian fokus ke berkas yang sudah terletak di mejanya sambil mendengarkan Rania.
Stelah selesai, Rania Juga kembali duduk di mejanya dan mulai mengerjakan tugas tugasnya.
Perutnya berbunyi minta diisi, Rania baru sadar jika dia belum sarapan.
Karena masih pagi, dan ini juga belum jam masuk kantor. Rania berniat untuk membuat kopi dan membeli sarapan. Baru saja dia membereskan mejanya, tiba tiba datang Dimas.
Dimas menenteng kantong plastik berisi sarapan untuk mereka berdua.
"Pagi... cantiik." sapa Dimas ramah.
"kak Dimas?" sahut Rania terkejut.
"Belum sarapan, kan??? Tanya Dimas dengan senyum ramah.
" Yuk, sarapan bareng di Pantry. Nih dah kakak beliin bubur ayam dua." ucap Dimas menunjukkan kantong kresek ditangannya.
__ADS_1
Rania sebenarnya ingin menolak, mengingat Maya yang sudah memperingatkannya. Namun melihat wajah memelas Dimas, Rania menjadi tidak tega.
" ok, deh. Yuk" jawab Rania.
mereka berdua berjalan menuju pantry yang terletak dua lantai di bawah mereka.
Rania dan Dimas sedang menikmati sarapannya dengan secangkir teh hangat yang dibuat oleh Rania.
Tomi keluar dari ruangannya ingin mengajak Rania sarapan diluar, namun yang dicari tidak ada.
kemana perginya dia, bukankah baru saja disini bersama ku. Apa dia membeli sarapan. aku telpon saja dia...
oh ya ampun bahkan nomor telponnya pun aku tidak punya.
Buru buru Tomi menelpon Farel meminta nomor ponsel Rania.
Dengan langkah malas di berjalan ke pantry untuk membuat minuman sendiri. Dan langkahnya terhenti saat di lihatnya Rania asyik mengobrol berdua dengan Dimas.
Wajah nya berubah dingin dan datar. Tomi melangkah masuk dan menghampiri Rania.
"Buatkan aku kopi!" ucap Tomi.
Rania hanya memandang kaget melihat perubahan sikap Tomi. Bukankah tadi ramah dan ceria. Tapi kenapa sekarang kembali jutek dan galak.
"Aku tunggu di ruangan ku dalam waktu tiga menit. " ucap Tomi dan berlalu keluar pantry. Rania hanya bisa memandang Tomi dengan hati mendongkol. Sarapan nya baru di makan setengah, kini Tomi memintanya pergi.
"Maaf, kak. Aku harus pergi. Terima kasih untuk sarapan nya." ucap Rania tersenyum ramah.
Lalu segera membuat kopi, dan akan mengantarkannya sebelum boss galak marah.
__ADS_1
Rania meletakkan kopi pesanan Tomi di atas meja. Sementara Tomi berpura pura sibuk membaca laporan di atas mejanya
"Kau, belikan aku sarapan. Ingat jangan lama." ucap tomi kembali. Moodnya hilang sejak melihat Dimas tadi.
Rania berjalan keluar ruangan dan akan membeli pesanan Tomi.
"Rania...." panggil Tomi yang sejak tadi menunggunya. Was was jika sampai Rania di marahi oleh Tomi.
Rania menoleh Dimas berlari kecil ke arahnya. "Ya.." ucap Rania singkat.
" Mau kemana? Apa boss marahi mu??" tanya Dimas.
'Tidak, Boss minta di belikan sarapan. Dan aku akan keluar membelinya."
"Mau aku antar??" tawar Dimas cepat.
"Apa tidak merepotkan???
' Tentu saja tidak, lagipula waktu masuk kerja masih setengah jam lagi. ayo, buruan!" ucap Dimas mengajak Rania kembali berjalan.
Rania dan Dimas pergi bersama membeli sarapan untuk Tomi. Seseorang berdiri tidak jauh dari tempat mereka mengepalkan tangannya marah.
Berani sekali dia, bukan kah sudah aku peringatkan. Tunggu saja, aku akan membuatmu menyesal.
Akhirnya Rania kembali membawa pesanan Tomi, sarapan ala ala British. Untung tadi Dimas mau mengantarkannya jika tidak, dia mungkin masih bingung mencari taksi dan mungkin juga terjebak macet di jalan.
Rania menyerahkan pesanan Tomi. Setelah sebelumnya menyusunnya rapi diatas piring. Membawanya ke hadapan Tomi dengan segelas air putih.
__ADS_1